Nasdem & Kans Capres

Oleh: Djoko Suud *)

Lowongan jabatan presiden masih lama. Tapi kelesak-kelesik soal perebutan kursi itu mulai mengemuka. Berbagai kandidat ancang-ancang. Juga organisasi massa (ormas) yang akan mengganti kemudi menjadi partai politik (parpol). Siapa saja mereka dan bagaimana kansnya?

Adalah Surya Paloh yang kembali membuka wacana ‘lowongan’ calon presiden (capres) itu. Saat pengukuhan pengurus Nasional Demokrat (Nasdem) DKI Jakarta, Minggu kemarin, Surya Paloh mengatakan itu. Kendati mengaku ada di nomor buncit, tapi berbagai pihak paham, Surya Paloh akan ‘mendaftar’ jika saatnya tiba.

Nasdem yang terus dideklarasikan di berbagai daerah bukanlah sekadar organisasi massa. Ormas yang banyak melibatkan orang-orang Partai Golkar itu akan banting stir menjadi partai politik. Itu kendaraan untuk bertarung memperebutkan posisi RI-1 atau RI-2.

Rumor yang mengatakan Surya Paloh berseteru dengan Ical. Dan Nasdem sebagai ancaman Partai Golkar (PG) tidak semata rumor. Sebab jika Nasdem telah tercatat sebagai parpol, posisi Nasdem adalah pemecah kekuatan Beringin. Loyalis Surya Paloh akan kabur dari PG, dan penggerogotan kekuatan PG tak terhindarkan.

Dan rumor perseteruan yang dibantah Ical maupun Surya Paloh itu kian menjadi kebenaran manakala keduanya kelak maju sebagai capres. Jika itu terjadi, maka inilah laga ikutan dari ‘perang’ di Pekanbaru yang menempatkan Ical sebagai Ketua Umum Partai Golkar sekarang.

Lepas dari gagal atau berhasil keduanya menempatkan diri sebagai orang nomor satu atau dua negeri ini, tapi ‘perseteruan’ itu cukup menarik untuk dicermati. Ada bara yang terus dikipas. Ada borok lama yang terus dibuka. Kendati secara euphemistis acap dimaknai sebagai dinamisasi politik.

Baca Juga :  Pemilu Kotor Itu Baik(?)

Namun benarkah ‘festival politik’ tahun 2014 nanti akan dimenangkan Ical atau Surya Paloh? Rasanya kok sangat berat. Sekarang saja sudah sangat banyak yang berancang-ancang menjadi rival. Dari belahan benua lain muncul Sri Mulyani. Mantan menteri keuangan itu cukup banyak pendukung berkat sikap tegasnya saat ‘disidang’ wakil rakyat di Senayan.

Juga akan tampil kembali Prabowo Subianto yang kemungkinan berpasangan dengan Puan Maharani. Tommy Soeharto dari klan Cendana, Budiono Wapres, Ani Yudhoyono, Ibas Yudhoyono, serta satrio piningit yang entah jatuh ke siapa. Sayang ribut-ribut status istimewa Yogyakarta tidak terjadi di tahun 2014. Jika saat itu kejadiannya, hampir pasti Sultan Yogya itu akan sekaligus jadi pengganti Presiden Susilo Yudhoyono (SBY).

Menebak calon presiden mendatang memang masih terlalu dini. Terlalu jauh jarak yang ditempuh. Jarak itu bisa membalik segalanya. Itu pernah terjadi pada Sigit Haryo Wibisono dan Antasari Azhar yang diasumsikan akan maju berpasangan untuk mengail kans sebagai RI-1 dan RI-2. Namun apa yang terjadi?

Keduanya terpeleset masalah dan dibui. Tragisnya, ketika pesta demokrasi digelar keduanya bukan hanya tidak ikut serta berpesta, tetapi hanya sebagai penonton. Penonton yang terpenjara.

Senyampang pembukaan ‘lowongan’ capres masih sangat jauh, rasanya perlu mengingatkan yang ambisi tidak ambisius. Yang niatnya maju belum transparan tetap bersembunyi di balik tabir. Dan yang hanya bermodal semangat berkaca diri agar tidak menyesal nanti. Sebab jika tidak begitu, maka akan banyak pihak yang tiba-tiba menjadi lawan. Lawan bersama.

Baca Juga :  Romantisme Refly Harun

Tapi omong-omong, apa enaknya ya jadi presiden yang terus-terusan diledek dan dilecehkan? (detik.com)

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Tulisannya cukup baik… tapi saya setuju bang….. terlalu dini kita bicara capres yang masih jauh dari hajatan. Kurang etik jika masih berjalan di awal kita sudah bicara estapetnya, karena akan bisa mengganggu konsentrasi yang sedang berjalan. Berangkali saat ini yang perlu kita bicarakan adalah bagaimana Partai ikut terlibat mengisi pembangungan saat berjalan… dan bila orang-orang partai ikut dalam pembangunan baik langsung maupun tidak langsung, sebaiknya kita melihat dari perannya sebagai masyarakat yang ikut mendukung pemerintahan yang sedang berlangsung, tapi tidak melihat unsur sisi lain yang bisa mempengaruhi masyarakat keberbagai opini jika orang partai ikut langsung dalam pembangunan disetiap penjuru pertiwi ini.
    Memang secara hukum tidak salah hal tersebut dibicarakan, cuman kurang etik aja kita bicarakan saat pemerintahan baru berjalan, karena bisa mempengaruhi orang-orang Partai yang terlibat di pemerintahan yang ada yang saat ini kita tuntut agar bekerja untuk lebih baik dan lebih profesional yang berpihak ke masyarakat dalam menjalankan roda pemerintahan dan roda pembangunan ini…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*