Natal dan Revolusi Mental

Oleh: Dr. Januari Siregar, SH, M.Hum.*)

Masa depan sebuah bangsa sangat ter­gantung pada bangsa itu sendiri. Ada kala­nya filsuf orang bijak kita maknai dengan benar, Tuhan hanya mau meno­long kalau manusia itu mau menolong dirinya sendiri. Artinya, keinginan kita untuk berubah secara total adalah sifat yang ditunggu oleh Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Allah Bapa yang sangat baik dengan penuh kasih mengutus anakNya yang tunggal demi membangun hubungan yang yang baik kepada ciptaan-Nya harus kita respon sebagai anugerah terbesar bagi umat manusia. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang lebih tinggi derajatnya dari mahluk lain, bagaimana manusia merespon anugerah yang sangat besar ini?

Tuhan menginginkan pertobatan, ucapan syukur kepadaNya. Sebuah harga yang sebenarnya tidaklah terlalu mahal untuk kita beli. Kebaikan yang kita lakukan tentu akan membuahkan hasil yang sangat manis kedepan. Kebaikan Tuhan dengan terus menuntun manusia untuk berinvestasi dengan perilaku merupakan wujud kepedulian dan kasih Tuhan yang sangat besar buat ciptaaNya.

Memaknai kelahiran Yesus Kristus di bulan natal ini harus menyentuh hal-hal yang bersifat esensial dan substansial. Pera­yaan natal yang hanya menge­depan­kan ritual dan seremonial bukan jamannya lagi. Perayaan natal ini harus memberikan kita sebuah makna yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Menja­dikan natal sebagai momentum yang snagat tepat untuk melakukan instro­peksi diri secara total tentang perjalan kita sebagai pribadi, sebagai bangsa, dan juga komunitas masyarakat global di mata Tuhan dan juga di mata masyarakat dan negara. Bagaimana perilaku saya selama ini? Pertanyaan ini sangatlah esensial untuk dijawab.

Sebagaimana yang kita ketahui, kejatuhan sebuah bangsa lebih banyak disebabkan oleh bangsa itu sendiri. Menyalahkan orang lain atas kejatuhan kita tentu tidaklah fair. Saat perekonomian bangsa ini bisa dibilang keropos, menyalahkan kapitalisme melulu dan neolib melulu sebagai budaya barat sangatlah tidak tepat. Istilahnya, kita yang bodoh, kita yang malas, kita yang lalai orang lain pula yang kita salahkan. Itu adalah sebuah tindakan yang tidak tepat, atau bukan menyelesaikan masalah.

Bagaimana kita mampu berubah ke arah yang lebih baik, bagaimana perilaku kita mengalami pembaha­ruan itulah yang paling utama sekaligus sebagai pesan Natal bagi semua umat Kristen di dunia ini.

Saat ini bangsa kita sedang bergumul hebat. Kalau bisa dibilang, bangsa kita saat ini menghadapi per­soalan yang sangat kompleks sebagai sebuah bangsa. Hukum yang sangat rapuh, ketimpangan ekonomi, korupsi yang sangat masif, poli­tik tran­saksional, pendidikan yang tidak bermutu, angka pengangguran yang besar, kehancu­ran lingkungan, penyakit sosial yang sangat tinggi adalah sekelumit masalah bangsa yang penyelesaiannya butuh integritas yang tinggi, dan bukan lagi hanya slogan dan janji yang bisa diabaikan.

Baca Juga :  Hati-Hatilah Kau Abraham Samad!

Malapetakan Nasional

Kalau kita runut kebelakang, mengapa berbagai masalah bangsa ini bisa muncul bahkan bisa jadi malapaetaka nasional? Jawabnya karena kita tidka punya karak­ter dan perilaku yang sesuai dengan nilai agama. Nilai agama yang universal seperti kejujuran, bekerja keras, cinta lingkungan hidup, toleran sudah hilang dalam diri manusia. Akibatnya, berpe­rilaku me­nyim­pang dengan melanggar hukum dan aturan sudah dianggap hal biasa, bahkan dijustifikasi untuk bisa survive. Kalau seperti ini terus diperta­hankan, kita sebagai bangsa mau jadi apa kedepannya?

Dibutuhkan sebuah terapi khusus untuk mengeluarkan bangsa ini dari pe­nyakit kronisnya. Sikap rendah hati, mau bekerja keras, memelihara kasih, santun, jujur terhadap sesama adalah karakter yang sangat dibutuhkan sebagai prasyarat utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Kemajuan negara-negara Asia Timur yang begitu cepat saat ini tentu karena masya­rakatnya sebagai masyara­kat yang suka bekerja keras tanpa kenal lelah. Mereka punya etos kerja dan prinsip kejujuran yang sangat tinggi.

Akibatnya, mereka saat ini bisa jadi bangsa yang diperhitungkan oleh negara-negara dunia. Karena kemajuan yang merekai raih, sampai memunculkan sebuah harapan baru dengan istilah kebangkitan dan abad Asia yang cikal bakalnya lahir dari negara-negara Asia Timur dan Singapura.

Lantas, bagaimana dengan bangsa kita yang saat ini sedang mencari rumusan baru atau strategi untuk bisa keluar dari krisis yang sangat panjang ini? Jokowi-JK menyebut konsep “Revolusi Mental”. Dalam konsep yang sangat seder­hana, revolusi mental kita maknai sebagai perubahan perilaku. Perilaku malas ke bekerja keras, perilaku korup ke perilaku tidak mau lagi mencuri, perilaku kasar ke perilaku yang santun. Sederhananya ada­lah perubahan ke arah yang lebih baik. Kembali untuk jadi sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, bagaimana untuk berubah? Berubah adalah sebuah keharu­san kalau kita ingin maju, selamat, dan punya pengharapan.

Perubahan mental sebagaimana yang dikatakan oleh Jokowi –JK adalah prasyarat utama sebagai negara maju. Tanpa pembaharuan karakter yang mumpuni kita hanya akan sebagai bangsa terbelakang, bahkan bisa hanya sebagai bangsa budak. Menjadi bangsa budak bukanlah tujuan kita, bahkan Tuhan meng­inginkan umatnya hidup maju, hidup makmur, hidup sejahtera, dan hidup sebagai bangsa yang bermartabat.

Baca Juga :  Teror Bom dan Doktrin Kematian?

Tuhan menginginkan kita jadi bangsa yang punya pengharapan dalam semua bidang. Pengharapan itu adalah maju dalam bidang ekonomi, penegakan hukum yang ber­laku untuk semua, punya kepribadian dalam budaya, serta mampu memper­gunakan teknologi untuk proyek kemanusiaan. Kemajuan ini bisa kita raih jika kita mampu mengamalkan apa yang Tuhan kehendaki, hidup kudus, hidup peduli, hidup penuh kasih adalah hal yang kita lakukan.

Untuk itu, Natal tahun ini merupakan sebuah permenungan diri bagi kita semua untuk melakukan pembaharuan perilaku ke arah yang lebih baik. Yesus lahir tentu ingin memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan. Kabar suka cita natal dimana Allah Bapa punya rencana yang sangat agung bagi manusia hendaknya untuk mendorong kita untuk berkarakter yang baik, lebih peduli kepada sesama, taat kepada hukum, menajuhi perilaku korupsi, memelihara kejujuran dan kerendahan hati.

Jika karakter yang diinginkan oleh Yesus itu kita terapkan, maka revolusi mental akan berjalan dengan baik. jauh sebelum Jokowi mengucapkan revolusi mental, Allah Bapa dari dulu sudah menginginkan revolusi mental dalam diri manusia dimana Allah Bapa mengingin­kan pertobatan dalam diri manusi, dimana Allah Bapa menginginkan manusia yang punya spirit Ketuhanan yang tinggi, yakni taat, jujur, peduli, kasih sebagai fundasi manusia dalam bertindak.

Mari merayakan Natal tahun ini sebagai upaya membangun hubungan yang lebih erat dengan Tuhan dimana ketaatan kepada Tuhan adalah modal yang paling utama untuk melang­sungkan keberhasilan revolusi mental di negara ini menuju sebuah bangsa yang beradab dan bermartabat. Selamat Hari Natal./analisadaily.com

Penulis adalah: Anggota DPRD SU Partai PKPI/ Dosen Pascasarjana Ilmu Hukum UDA Medan

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*