Nazaruddin Diduga Pegang Rahasia Demokrat

Sejumlah massa yang menamakan dirinya Laskar KPK melakukan aksi teatrikal saat unjuk rasa di Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Kamis (9/6). Laskar KPK meminta KPK mengusut, menyelediki, dan menangkap sejumlah kader partai demokrat yang diduga melakukan korupsi APBN seperti Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Max Sopacua, dan Edi Baskoro alias Ibas. TEMPO/Seto Wardhana

TEMPO Interaktif, Jakarta – Jajak pendapat Lingkaran Survei Indonesia menyebutkan Partai Demokrat tak serius membantu proses hukum kasus mantan Bendahara Umum Demokrat M. Nazaruddin. Responden percaya perkara Nazaruddin ada kaitan dengan partai tersebut.

“Walaupun para petinggi Demokrat mengatakan kasus ini tidak melibatkan partai ataupun keuangan partai, masyarakat tak yakin dengan ucapan ini,” kata Denny J.A., pendiri lembaga survei itu, ketika memaparkan hasil jajak pendapatnya kemarin.

Denny menyarankan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono agar mengerahkan segala kemampuannya memulangkan Nazaruddin dari Singapura. Langkah ini, menurut Denny, bisa mendongkrak kepercayaan publik bahwa Demokrat membantu proses hukum yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi.

“SBY punya banyak instrumen yang bisa digunakan. Dia harus menempatkan ini adalah kasus korupsi yang extraordinary (luar biasa), bukan lagi kasus Partai Demokrat,” kata dia dalam pemaparan hasil analisis survei kemarin.

Survei dilakukan terhadap 1.200 responden dengan sistem multirandom sampling pada 1-7 Juni lalu. Hasilnya, elektabilitas Demokrat turun 5 persen dari 20,5 persen berdasarkan hasil survei pada Januari lalu. Angka 15,5 persen merupakan titik terendah Demokrat sejak 2009.

Adapun partai pesaingnya, yaitu Golkar, mengalami peningkatan elektabilitas dari 13,5 persen menjadi 17,9 persen. Hasil ini menempatkan Partai Beringin untuk sementara mengungguli Demokrat.

Denny menganggap pembentukan tim penjemput Nazaruddin ke Singapura hanya sebagai upaya melokalisasi kasus. Demokrat tetap dinilai tak tegas karena Nazaruddin memegang banyak rahasia partai. “Dia pegang kotak pandora yang jika dibuka akan menghancurkan Partai Demokrat,” kata Denny.

Baca Juga :  Syafii Maarif: Kita Cari Pimpinan KPK yang Siap Mati!

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustofa menanggapi dingin survei Denny. Dia yakin partainya tetap unggul walaupun didera kasus Nazaruddin. “Tentu kami menghargai hasil Lingkaran Survei Indonesia. Kami punya pembanding,” ujar Saan.

Berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia, kata Saan, tingkat elektabilitas Partai Demokrat memang mengalami penurunan. Namun, Demokrat masih memimpin dengan 18,9 persen, sedangkan urutan kedua ditempati PDI Perjuangan dengan pemilih 16,7 persen, diikuti Partai Golkar 12,5 persen, Partai Kebangkitan Bangsa 4,5 persen, Partai Keadilan Sejahtera 4,1 persen, dan Partai Persatuan Pembangunan 4 persen.

Menurut dia, kedua survei ini dilakukan dalam waktu yang berdekatan, hanya waktu mempublikasikan yang berbeda. “Saya yakin kalau waktu survei hampir bersama-sama. Cuma rentang waktu konferensi persnya berbeda,” ujar Saan.

Dalam survei Lembaga Survei Indonesia, dia melanjutkan, tak dijelaskan bahwa suara Demokrat lari ke Partai Golkar. “Memang ada penurunan, itu betul. Tapi penurunan itu tidak otomatis suara Demokrat ke partai lain,” kata dia.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*