Nilai Budaya Masyarakat Mandailing di Perantauan

Oleh: Muslim Pohan *)

Salah satu untuk membentuk ketenteraman dan kekerabatan dalam masyarakat Batak Mandailing di tanah perantauan adalah membentuk berbagai organisasi perantau. Ada perkumpulan berdasarkan huta dan marga, ada juga persamaan latar belakang lainnya. Organisasi ini seringkali menggunakan kata ikatan keluarga, persatuan atau parsadaan marga dohot anakboruna. Misalnya: Keluarga Tapanuli Siala Sampagul D.I.Yogyakarta (KTSS), Ikatan Keluarga Barumun Raya (IKABAYA), Ikatan Keluarga Padanglawas (IKAPALAS), Parsadaan Marga Siregar Dohot Anakboruna, Parsadaan Marga Harahap Dohot Anakboruna, Ikatan Muslim Tapanuli, dan lain-lain. Ada pula yang berskala provinsi seperti Ikatan Keluarga Muslim Sumatera Utara (IKMSU).

Penulis : Muslim Pohan

Organisasi-organisasi persatuan tersebut mengadakan pertemuan pengajian sekaligus arisan. Ada pertemuan sekali satu bulan dan ada juga pertemuan satu kali dalam dua bulan. Salah satu tujuan dibentuknya organisasi persatuan ini adalah untuk menjalin tali kekeluargaan, silaturrahmi, dan membicarakan perkembangan kekeluargaan yang sifatnya menyangkat ekonomi, kesehatan, dan lain sebagainya.

Organisasi seperti di atas murni khas organisasi perantau, jadi aneh ketika mendengar ada organisasi semacam parsadaan marga dohot anakboruna di tempat asal marga atau daerahnya. Sangat janggal jika sekiranya ada organisasi Parsadaan Marga Siregar Dohot Anakboruna di Mandailing Natal, Parsadaan Marga Rambe Dohot Anakboruna di Tapanuli Selatan, atau Parsadaan Marga Pohan Dohot Anakboruna di Padanglawas.

Selain organisasi keluarga masyarakat Batak Mandailing membentuk organisasi persatuan, mahasiswa yang berasal dari Batak mandailing juga membentuk organisasi kekeluargaan di perantauan D.I.Yogyakarta. Contohnya antara lain: Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan (IMATAPSEL) yang anggotanya saat ini terdiri dari lima kabupaten, yaitu: Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padanglawas, Padalawas Utara, dan Kota Padangsidempuan.

Kemajemukan budaya yang ada membuat kota Yogyakarta dijuluki sebagai kota budaya. Hal tersebut memberikan daya tarik tersendiri untuk menarik perhatian masyarakat nusantara untuk bermigrasi ke Yogyakarta. Dari beberapa migran yang ada di Yogyakarta, masih terdapat masyarakat migran yang membawa budaya asal daerahnya masing-masing. Masyarakat migran yang berasal dari Batak Mandailing misalnya, mereka masih tetap membawa dan melestarikan kebudayaan atau tradisi mereka masing-masing dari kampung halaman, yaitu tradisi mangupa. Dalam adat istiadat Batak, mangupa adalah tradisi yang sangat religius. Tradisi ini lahir dari penghayatan leluhur orang Batak terhadap keberadaan zat yang gaib, zat yang mutlak berkuasa dalam mengatur alam semesta, termasuk perjalanan hidup manusia, oleh para leluhur zat ini disebut sebagai Debata (Yang maha Kuasa). Mangupa merupakan adat yang sanagat penting dalam adat istiadat Batak. Dalam kehidupan orang Batak yang paling banyak dibicarakan dalam mangupa adalah tondi. Tondi merupakan inti kehidupan, kekuatan, tenaga, semangat jiwa yang memelihara antara jasmani dan rohani agar tetap seimbang dan menjaga harmoni kehidupan setiap individu.

Baca Juga :  Survei Politik

Agar Tondi tetap tenang, tegar dan kuat dan senantiasa dalam hidup, maka diadakanlah berbagai upacara mangupa. Upacara mangupa diadakan dengan maksud untuk mengembalikan tondi ke badan atau agar tondi kembali kuat, tegar, dan tenang. Upacara mangupa dilakukan dalam situasi rasa syukur karena seseorang lolos dari marabahaya atau rasa syukur dari keberuntungan. Mangupa seseorang lolos dari marabahaya termasuk mangupa orang yang baru sembuh dari sakit. Mangupa orang yang memperoleh dari keberuntungan dilakukan karena keberuntungan mengandung marabahaya juga. Oleh karena itu, dilakukan upacara Mangupa agar tondi seseorang tersebut kembali ke badan, tenang, kuat, dan tegar menerima keberuntungan itu. Ada beberapa upacara mangupa yang dilakukan sepanjang hidup orang batak, antara lain: anak tubu (menyambut kelahiran bayi), manggoar daganak tubu (memberi nama bayi yang baru lahir), paginjak obuk (menggunting rambut bayi yang dibawa lahir), paijur daganak tubu (pertama kali membawa anak keluar rumah), manangko dalan (memperkenalkan anak dengan lingkungan), manjagit parompa (menerima kain penggendong bayi), patobang anak atau pabuat boru (menikahkan anak laki-laki atau perempuan), dan marbongkot bagas (memasuki rumah baru).

Tradisi mangupa ini tetap dilaksanakan masyarakat, masyarakat Batak Mandailing di Yogyakarta misalnya telah melaksanakan upacara mangupa yaitu: menikahkan anak-anak mereka di perantauan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Abdul Gani Jamora Naution M.Pd.I., bahwa Tradisi upacara mangupa dilakukan bukan hanya di kalangan keluarga Batak Mandailing yang berkeluarga saja melainkan mahasiswa juga melakukan upacara mangupa. Apabila ada mahasiswa yang mengalami marabahaya atau kemalangan tentu yang dilakukan adalah tradisi mangupa, tujuannya adalah untuk mengembalikan hidupnya tenang, kuat, dan tegar menerima kejadian itu. Berikut upacara adat yang pernah dilakukan dalam tradisi Mangupa: Mangupa Tondi mahasiswa Universitas Mercu Buana saudara Panparan Nabanban Siregar karena jatuh sakit. Mangupa Tondi abang dan kakak (bang Arifin dkk) karena syukuran atas tercapainya studi S1 dan S-2 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mangupa Tondi mahasiswa jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga saudari Desniati Harahap, karena jatuh sakit.

Baca Juga :  SBY akan Mengamandemen Konstitusi .... ?

*) Muslim Pohan –
Mahasiswa asal Hadungdung Pintu Padang, Kab.Padanglawas, Prov.Sumatera Utara dan saat Kuliah di Mahasiswa Islam (LAPMI) Ushuluddin UIN Yogyakarta dan aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Ushuluddin UIN Yogyakarta.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Salam kenal adinda, saya mantan mahasiswa dari muhammadiyah yogyakarta, sempat bergabung dengan lembaga pers broto seno

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*