Nurdin: PSSI Gerakan Ekonomi Rakyat

Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Nurdin Halid menyatakan, persepakbolaan di Indonesia sekarang ini telah menunjukkan tanda-tanda menuju industri sepakbola. Hal itu ditandai dengan bergeraknya ekonomi rakyat, mulai dari yang kecil hingga yang besar.

Bukan cuma kompetisi sepakbola di bawah naungan PSSI yang marak dengan ribuan penonton dan usaha rakyat besar dan rakyat kecil mulai dari pemasangan billboa rd di pinggir lapangan, pedagang kaki lima hingga penjualan kaos tim nasional, akan tetapi juga imbalan pemaian dan wasit yang angkanya mencapai Rp 25 hingga Rp 150 juta.

Hal itu diungkapkan Nurdin saat wawancara dengan Kompas, Jumat (4/3) malam lalu di sebuah hotel berbintang di Jakarta.

Kalau dikatakan industri bola kita masih jauh, akan tetapi tanda-tandanya menuju ke arah sana sudah tampak. Banyak hal yang men unjukkan ekonomi rakyat bergerak. Hampir di stadion di Indonesia marak dengan ribuan penonton. Bukan hanya porsi iklan yang sem akin mahal, akan tetapi juga penjual kaki lima, mulai dari yang pen jual air kemasan, pisang goreng, rokok dan lainnya yang bukan hanya pengusaha besar, sampai dengn kendaraan rakyat yang digunakan untuk datang ke stadion, ujar Nurdin.

1319016620X310 Nurdin: PSSI Gerakan Ekonomi Rakyat
Ketua PSSI Nurdin Halid memaparkan pandangannya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR-RI, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/3/2011). PSSI dipanggil Komisi X berkaitan dengan kemelut pencalonan ketua PSSI periode 2011-2015.

Menurut Nurdin, pemain pun kini dibayar cukup mahal antara Rp 25 juta hingga Rp 150 juta. Belum wasit kita. Yang dulu hanya membawa uang antara Rp 5 juta hingga 15 juta per bulan, sekarang mereka membawa pulang bersih ke rumahnya antara Rp 25 juta hingga Rp 35 juta, tambah Nurdin lagi.

Baca Juga :  POSPERA TAPSEL: Desak Polres Tapsel Ungkap Penyerangan Mahasiswa di Paluta

Bahkan, lanjut Nurdin, PSSI telah membuat aturan terobosan bahwa pelatih yang memiliki sertifikat d an melahirkan seorang pemain secara dini dan suatu saat pemain ini di kontrak oleh sebuah klub sepakbola, maka pelatih ini akan menerima royalti. Juga klub sepakbola yang melahirkan pemain yang kemudian pemainnya dikontrak oleh klub lain, maka klub sepakbola itu akan mendapat royalti yang sama.

Dulu, pelatih membayar minum dan makanannya serta melatih dengan biaya sendiri, tidak ada royalti apa-apa yang diterimana sekalipun pemain didikannya diambil klub lainnya. Ini jelas tidak menggairahkan sepakbola kita. Namun, sejak tahun 2007 lalu, PSSI membuat terobosan yang tujuannya menggairahkan semangat pemain dan wasit lainnya agar tumbuh kecintaan yang mendalam terhadap sepakbola, demikian Nurdin. (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*