OC Kaligis Beber Korupsi Bibit-Chandra

Jakarta KM, Pengacara kondang Otto Cornelis Kaligis secara tegas menuding gedung KPK merupakan sarang koruptor. Tanpa tedeng aling-aling, Kaligis malah berani mengatakan bahwa pimpinan KPK Bibit Samat Rianto dan Chandra M. Hamzah terlibat pratek korupsi karena menerima suap. Sebagai pertanggung-jawaban pernyataannya itu, Kaligis menyerahkan sebuah buku setebal 632 halaman karangannya sendiri berjudul “Korupsi Bibit & Chandra” kepada Koran Manado di kantornya di bilangan Jalan Majapahit, Jakarta (24/3).

Pernyataan Kaligis bukan tidak beralasan. Pasalnya, isu kriminalisasi terhadap KPK dalam kasus Bibit-Chandra menurut dosen penguji gelar doctor ini, sesungguhnya merupakan setingan. “Banyak fakta yang tidak terungkap ke publik karena opini publik soal kriminalisasi KPK lebih kuat dari fakta yang membuktikan sejumlah pimpinan KPK terlibat korupsi,” tandas Kaligis. Sayangnya, menurut ayahanda pesinetron Velove Fexia, kasus Bibit-Chandra terpaksa dihentikan karena desakan publik. “Saat saya membeberkan bukti korupsi Bibit-Chandra ke salah seorang menteri, yang bersangkutan langsung mengatakan Presiden SBY kena tipu Adnan Buyung Nasution (Ketua tim bentukan presiden penyelesaian kasus Bibit-Chandra). Saya tidak heran kenapa Buyung melakukan itu, karena itu pasti ada kaitannya dengan anaknya yang terlibat kasus korupsi dan tengah diperiksa KPK,” papar Kaligis.

Dalam bukunya, Kaligis menyertakan bukti keterangan Berita Acara Pemeriksaan penyidik Polri terhadap Ir. Lukas Budi Santoso, saksi ahli di bidang polygraph atau Lie Detector Laboratoris Kriminalistik (ahli tes kebohongan). Dalam BAP Santoso menerangkan hasil tes kebohongan terhadap saksi Ari Muladi (orang yang menyerahkan uang milik Anggoro Widjojo kepada pimpinan KPK) terindikasi berbohong. Berdasarkan analisa grafik dan scoring grafik yang terekam dalam komputer dari reaksi tubuh Ari Muladi saat dipertanyakan ”kasus suap, apakah anda menyerahkan uang dari sdr. Anggodo kepada sdr. Yulianto ? Subjek menjawab Ya. Jawaban Ari itu menurut hasil pemeriksaan “Terindikasi Berbohong”. Kemudian saat dipertanyakan “kasus suap, apakah anda menyerahkan uang dari sdr. Anggodo kepada sdr Ade Rahardja? Subjek menjawab Tidak. Jawaban Ari itu menurut hasil pemeriksaan “Terindikasi Berbohong”.

Baca Juga :  Rekonstruksi Pasar Mentawai - Pemerintah Alokasikan Rp 1 Miliar

Kaligis juga membeberkan bukti yang menepis pernyataan Ade Rahardja di berbagai media bahwa dirinya tidak mengenal Ari Muladi. Pengakuan Sigit Winarno dalam BAP di mabes polri membuktikan Ada Rahrdja sudah kenal lama dengan Ari Muladi. Dalam BAPnya, Winarno mengaku dulu sewaktu bekerja sebagai staf di kantor Ade Rahardja ketika menjabat Kadit Serse , Ari Muladi beberapa kali bertamu ke ruangannya. Pengakuan ini, menurut Kaligis, mebuktikan keduanya berteman sejak lama.

“Saya melihat keterlibatan Ade Rahrdja sengaja ditutupi karena yang bersangkutan kan orangnya Polri yang ditempatkan di KPK. Selain itu, antara Ade Rahardja dan Madbul Padmanegara masih terikat keluarga dari isteri masing-masing. Bukan Cuma itu, bukti rekaman Ade Rahrdja dan Ari Muladi hingga kini tidak pernah dipublikasikan,” bebernya.

Untuk lebih jelas lagi, dugaan korupsi di KPK bakal dikupas tuntas dalam peluncuran buku OC Kaligis senin pekan depan di hotel Borobudur Jakarta.

Kaligis Cs Praperadilan Kasus Bibit-Chandra

Menyusul dihentikannya penuntutan kasus pidana dua pimpinan KPK Bibit Samat Rianto dan Chandra M. Hamza, Komunitas Advokat dan Masyarakat Penegak Hukum untuk Kadilan mengajukan gugatan Praperadilan terhadap Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Gugatan yang dilayangkan sejak 2 Desember tahun lalu tersebut kini sudah mulai disidangkan. Para penggugat dikoordinir OC Kaligis dan Ferry Amahorseya. Dalam gugatannya,penggugat mempertanyakan pula anjuran Prsiden RI Susilo Bambang Yudoyono mengenai penyelesaian kasus Bibit-Chandra di luar peradilaan sesungguhnya bertentangan dengan Undang-Undang.

Baca Juga :  Yogyakarta Siap Berpisah dari NKRI

Pada intinya, perlawanan yang dilakukan OC Kaligis dan kawan-kawan terhadap praktek mafia hukum di lembaga super body Komisi Pemberantasan Korupsi kian menguak ketidak beresan penegakan huykum di negeri ini. Setelah bobrok pratek Makelar Kasus atau Markus yang melibatkan anak sulung Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan Bibit Samad Rianto,Yudi Prianto terbongkar, kini keheboan apa lagi yang bakal tercipta pasca buku Korupsi Bibit & Chandra ini mencuat. (Hen)

Sumber : Koran Manado

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Makanya kita jangan mudah terpengaruh oleh opini-opini yang belum tentu kebenarannya, Serahkan kepada pengadilan biar Jaksa : membuktikan tuntutannya, Terdakwa : membuktikan dirinya tidak bersalah, Rakyat : mengawasi proses persidangan, kemudian Hakim : mengadili berdasarkan fakta-fakta, hukum dan hati nurani.
    Tidak terbukti korupsi : Rehabilitasi nama baiknya
    Terbukti korupsi : Sita harta kekayaannya (miskinkan) biar tidak bisa lagi menikmati hasil korupsinya

  2. Salut untuk pak oc kaligis yang telah membeberkan kebenaran. Selama ini kita semua telah ditipu dengan menggunakan histeria massa bahwa telah terjadi kriminalisasi terhadap pimpinan kpk. Dari uraian yang telah diberikan pak oc kaligis ada yang tak beres dalam kasus anggodo, orang yang diperas ditahan sementara yang memeras melenggang bebas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*