Padang Bolak Masih KLB Diare

PALUTA – Kecamatan Padang Bolak masih ditetapkan sebagai wilayah Kasus Luar Biasa (KLB) diare. Status KLB ditetapkan sejak Jumat (22/8) lalu dan masih berlaku hingga Selasa (26/8). Saat ini, jumlah penderita diare di kecamatan ini 155 orang.

Sesuai data Dinas Kesehatan Paluta, hingga Senin (25/8), jumlah pasien penderita diare sudah mencapai 155 orang yang berasal dari berbagai desa yang ada di wilayah Kecamatan Padang Bolak, 9 orang diantaranya sudah dirujuk ke RSUD Paluta, Desa Aek Haruaya, Kecamatan Portibi.

Menurut keterangan dari Kadis Kesehatan Paluta dr Zunaidah Harahap Mkes melalui Kasi Wabah Bencana Nurmaynides SKM bahwa desa yang warganya paling banyak menderita penyakit diare adalah Desa Pagaran Tonga yakni sebanyak 44 orang dan Gunung Tua sebanyak 31 orang serta Desa Sosopan sebanyak 21 orang.

Lanjutnya, Dinkes Paluta masih terus melakukan pemantauan dan penyuluhan langsung serta memberikan obat untuk pencegahan seperti kaporit ataupun jenis obat lainnya kepada masyarakat di berbagai desa terutama Desa Pagaran Tonga, yang diduga sebagai pusat penyakit diare yang sudah dikategorikan sebagai KLB ini.

“Hingga saat ini kita masih terus melakukan pemantauan dan penyuluhan langsung ke masyarakat di berbagai desa dan membagikan obat untuk penanggulangan berupa kaporit ataupun obat lainnya, serta terus mengikuti perkembangan terkait masalah diare ini,” ujar Nurmaynides.

Tambahnya, saat ini pihaknya sudah menetapkan status tanggap darurat terkait KLB diare ini dan menyiapkan posko pengobatan untuk penderita diare yang dipusatkan di Puskesmas Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak, dikarenakan sebagian besar penderita diare adalah warga di seputaran wilayah Gunung Tua.

Baca Juga :  Rp. 9,1 M Proyek Kendaraan Dinas Pemkab Padang Lawas Diduga Bermasalah

Masih menurut Nurmaynides, dugaan sementara salah satu penyebab penyakit diare ini adalah kesadaran masyarakat yang kurang dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) yang terbukti dengan kenyataan di lapangan bahwa hanya 20 persen warga yang memiliki jamban dan sebagian besar warga masih menggunakan aliran sungai sebagai sarana MCK.

Meski begitu, ia mengatakan bahwa saat ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Dinkes Propinsi Sumut yang sudah turun langsung untuk memantau KLB diare ini beberapa waktu lalu, serta sudah mengambil sampel baik berupa kotoran dan berbagai bahan lainnya untuk dibawa serta dianalisis di laboratorium untuk diketahui penyebab utama dari penyakit diare ini, namun saat ini hasil dari laboratorium tersebut belum diterima oleh pihaknya.

“Pihak Dinkes Provsu sudah turun memantau langsung beberapa waktu lalu dan sudah mengambil sampel untuk diteliti di laboratorium, tapi hasilnya belum kita terima,” tambahnya. Sementara itu, salah seorang warga Desa Pagaran Tonga Aswan (22) mengatakan bahwa masyarakat di desanya memang masih menggunakan aliran sungai sebagai MCK karena memang sudah kebiasaan sejak dulu. “Betul Bang, warga desa ini masih menggunakan sungai sebagai sarana MCK, itu memang sudah kebiasaan sejak dulu,” katanya.

Ketika disinggung tentang kurangnya kesadaran masyarakat sekitar dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), ia menyatakan bahwa menurutnya kondisi lingkungan sekitar desa sudah cukup bersih dan terawat.

Baca Juga :  M-Four Demo KPUD dan DPRD Madina

Hal ini dipertegas oleh warga lainnya Ali Amrin Siregar (41) yang mengatakan bahwa kondisi lingkungan desanya sudah cukup bersih, namun apakah sudah sesuai dengan standar PHBS yang ditentukan oleh pihak Dinkes, dirinya tidak mengetahuinya.

Ia menambahkan, dirinya juga merasa kecewa dengan Dinkes Paluta yang kurang aktif dalam memberikan sosialisasi dan penyuluhan tentang PHBS kepada masyarakat selama ini, sehingga masyarakat umum banyak yang tidak mengetahui tentang PHBS yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.

“Masyarakat kurang tahu apa itu PHBS, karena tidak adanya penyuluhan selama ini, kalau sudah datang penyakit baru mau turun untuk memberikan penyuluhan, bukan penyuluhan untuk pencegahan namanya itu, tapi sudah jadi pengobatan,” ungkapnya dengan nada kecewa. (mag-02)

/METROSIANTAR.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*