Pakar dan Pengamat : Ekonomi Global Berada di Tepi Jurang Resesi

%name Pakar dan Pengamat : Ekonomi Global Berada di Tepi Jurang ResesiWashington, (Analisa). Data ekonomi tidak menggembirakan dari seluruh dunia menambah kekhawatiran akan terjadi resesi lagi. Bukti terbaru Kamis menunjukkan penjualan rumah di AS melemah dan beban bank-bank di Eropa semakin berat dengan adanya krisis hutang dan ekonominya yang melempem. Kekhawatiran yang semakin meningkat membuat diobralnya saham yang membuat banyak investor berusaha menyelamatkan surat hutang (Treasury) AS.

Pasar Asia mulai anjlok Kamis dengan antara lain indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,3%, sementara di Amerika Serikat Dow Jones turun 419,63 poin atau 3,7% menjadi 10.990,58. Dow sudah turun 13,6% sejak mulai anjlok 21 Juli lalu.

Para ekonom mengatakan, melemahnya ekonomi dan keadaan pasar saham yang tidak menentu semakin menggelisahkan. Harga saham yang terus merosot membuat anjloknya kepercayaan konsumen dan dunia bisnis. Perorangan dan perusahaan cenderung berbelanja ketimbang menyimpan, dan ketika mereka melakukan itu, harga saham cenderung turun terus.

Risiko terjadinya resesi nampaknya sudah membayang, kata Morgan Stanley dan Bank of America Merrill Lynch. Beberapa sektor ekonomi AS memang masih menunjukkan kekuatan. Penjualan eceran naik, harga bensin turun, dan pertumbuhan lapangan kerja masih berada di bawah level yang diinginkan untuk mengurangi tingkat pengangguran.

Namun demikian, sebuah survei konsumen bulan ini menunjukkan kepercayaan dalam ekonomi turun hingga level terendahnya dalam 31 tahun. Sementara investor semakin khawatir akan keadaan keuangan di Eropa dan akan kemampuan para pemimpinnya untuk mengatasi krisis hutang.

Baca Juga :  Terkait Dugaan Korupsi di Palas - Mantan Bendahara Dinkesos Mengaku Dijadikan Tumbal

Menurut JP Morgan, memang yang menjadi isu kini ialah soal pertumbuhan dan kekhawatiran terjadinya resesi. Perdebatan tentang pagu hutang AS dan bagaimana menerapkan ketentuan fiskal atas ekonomi menjadi pesan kuat tentang tidak adanya fleksibilitas fiskal di AS. Dan naiknya yield surat hutang Spanyol dan Italia selama sepekan lalu menjelaskan betapa pasar menunjukkan kepada para politisi tentang tidak adanya fleksibilitas bagi stimulus fiskal. AS kini mengalami inflasi 3,5%.

Dengan cukup lumayannya tingkat pertumbuhannya, maka prioritas kebijakan BRIC (Brazil, Rusia, India dan China) ialah stabilitas harga dan ketika mereka berusaha mengatasi inflasi, maka mereka cenderung melupakan pasar saham sampai tingkat pertumbuhannya melamban dan tekanan inflasinya berkurang, walau pada level rendah nantinya, kata JP Morgan.

Negara-negara pasar baru bangkit tidak akan bisa menyelamatkan dunia jika Barat tergelincir kembali ke dalam resesi. Di dalam ekonomi global yang saling berhubungan, pemisahan benar-benar isapan jempol, kata Morgan Stanley.

Kekuatan yang diperlihatkan misalnya oleh China dan Indonesia merupakan bukti dari perubahan sekular di dalam ekonomi global dari Utara ke Selatan, dari Barat ke Timur, ketimbang sebagai pengganti pertumbuhan nol atau negatif di Barat.

Morgan Stanley memperkirakan negara-negara pasar baru bangkit akan menggerakkan 80% pertumbuhan PDB global 2011-2012. (AP/Rtr/sy.a)

 

ANALISADALIY.COM

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  MMPBB Sweeping Ruangan Walikota Sidimpuan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*