PAKAR FILSAFAT ISLAM UIN JAKARTA PROF. FAUZAN – Ahmadiyah Sumbar Cemari Nama Tiga Pesantren

KELOMPOK Ahmadiyah di Sumbar kembali menggunakan siasat berbohong dan menempelkan tokoh-tokoh umat ke dalam gerakan mereka. Pernyataan salah seorang tokoh Ahmadiyah tentang urang awak pengikut pertama Ahmadiyah, terbukti telah mencemarkan nama baik tiga pesantren utama di daerah ini, yakni Thawalib Parabek, Sumatra Thawalib dan Perguruan Diniyyah Puteri.

“Berbohong adalah salah satu strategi perjuangan Ahmadiyah. Bagi umat Islam di belahan dunia mana pun, pembatasnya sudah jelas, yakni dua kalimah syahadat. Apapun yang mereka katakan, Ahmadiyah tetaplah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi. Ini melanggar keyakinan Islam yang menegaskan bahwa Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir,” ujar Pakar Filsafat Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. Dr. H. Fauzan, MA, Kamis (17/2), di Aula Perguruan Diniyyah Puteri, Padang Panjang.

Fauzan tampil sebagai narasumber pada kegiatan Membedah Kesesatan Ahmadiyah. Kegiatan itu diikuti ratusan guru dan karyawan di lingkungan perguruan khusus puteri yang didirikan Rahmah El-Yunusiyyah pada 1 November 1923 itu.

Menurut dia, organisasi-organisasi Islam tingkat internasional, sudah lama menyatakan, Ahmadiyah adalah sesat dan berada di luar Islam. Sesungguhnya, sebut Fauzan, Ahmadiyah tidak bisa dilepaskan dari upaya Inggris untuk memperluas dan melanggengkan kekuasaan di daerah-daerah jajahan mereka, terutama di negara-negara yang penduduknya menganut agama Islam.

Pada kesempatan itu, Fauzan mengajak segenap umat Islam untuk membersihkan keyakinan, terutama menyangkut dengan upaya-upaya menyesatkan aqidah umat. “Ahmadiyah sudah berada di luar Islam. Mereka harus dibubarkan. Kalau tak ingin membubarkan, maka Ahmadiyah tidak boleh disangkut-pautkan dengan Islam. Mereka harus dinyatakan sebagai minoritas non-Islam,” tegas Fauzan.

Baca Juga :  Jusuf Kalla: TNI Terlalu Lama Tak Berkegiatan

Dikatakan, lantaran secara internasional telah dinyatakan sebagai kelompok non-Islam, maka pemerintah Arab Saudi hingga kini tidak mengizinkan penganut Ahmadiyah menunaikan haji, karena mereka bukanlah Islam. Kalaupun ada yang lolos dan berhasil masuk kota Mekah dan Madinah, sebut Fauzan, itu tidak lebih dari kelihaian yang bersangkutan berbohong dan mengibuli pemerintah. Kalau kedapatan, sebut Fauzan, Kerajaan Arab Saudi akan memberikan hukuman yang sangat keras.

Menyinggung soal ucapan bohong tokoh Ahmadiyah di Sumbar yang mencemari nama baik sejumlah ulama besar Minangkabau, sekaligus menyeret tiga pesantren besar di daerah ini ke dalamnya, Fauzan mendesak Majlis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar untuk menyatukan langkah dan sikap, sehingga upaya-upaya fitnah terhadap tokoh-tokoh umat Islam bisa dihilangkan.

“Saya melihat, baru Perguruan Diniyyah Puteri yang bereaksi keras atas ucapan tokoh Ahmadiyah yang menyatakan urang awak pengikut pertama Ahmadiyah. Sementara Perguruan Thawalib Padang Panjang, Thawalib Parabek, MUI dan organisasi-organisasi Islam di Sumbar masih diam seribu bahasa. Diperlukan kekompakan untuk menghadapi fitnahan ini,” sebut Fauzan.(MUSRIADI MUSANIF)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*