Pakar Gempa ITB Benarkan Terjadi Tsunami di Mentawai

Munculnya gelombang setinggi antara 1,5 hingga 3 meter di perairan Pulau Pagai, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, setelah gempa mengguncang wilayah itu tadi malam adalah tsunami.

Pakar gempa dari Institut Teknologi Bandung Prof Sri Widiyantoro membenarkan bahwa gelombang tersebut adalah tsunami, bukan gelombang pasang biasa. “Iya, yang disebabkan dari dasar laut setelah terjadinya gempa,” kata dia dihubungi Tempo, Selasa (26/10).

Menurutnya, tsunami tidak melulu berupa gelombang besar yang dampaknya sampai menghancurkan. “Bisa saja hanya seperti yang semalam di wilayah Kepulauan Mentawai,” ujarnya.

Dia mengatakan tsunami terjadi selain karena besarnya kekuatan magnitude juga dipengaruhi faktor kedalaman lokasi terjadinya gempa. Gempa berkekuatan di bawah 7 skala Richer dapat saja memunculkan tsunami kalau lokasi kedalamannya rendah. “Semakin dangkal semakin besar potensi terjadinya tsunami. Jadi tergantung kedalaman juga,” katanya. “Apalagi kedalaman gempa Mentawai hanya 10 kilometer.”

Sri Widiyantoro membenarkan langkah penduduk Kepulauan Mentawai yang mengungsi ke perbukitan sebagai bentuk kewaspadaan. “Saya setuju warga keluar rumah dulu,” ujarnya.

Warga Desa Sikakap, Pulau Pagai Utara, mengatakan beberapa saat setelah gempa tiba-tiba laut yang sedang pasang surut naik hingga masuk ke rumah-rumah penduduk. Sekitar 200 rumah warga yang berada di pantai dimasuki air laut setinggi 1 hingga 1,5 meter. Sebagian warga menganggap itu gelombang tsunami namun sebagian lainnya mengatakan itu adalah gelombang pasang biasa.

Baca Juga :  Try Sutrisno : Pernyataan Panglima TNI Jangan Dijadikan Polemik

Media Australia, Nine News, Selasa (26/10), juga mewartakan bahwa sebuah perahu yang membawa wisatawan Australia diterjang tsunami setinggi tiga meter di Pulau Pagai. Akibat diterjang tsunami, perahu tersebut terdorong 200 meter ke daratan.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/10/26/brk,20101026-287268,id.html

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*