Pakkat Masih Primadona Menu Berbuka

Pakkat Masih Primadona Menu Berbuka

MADINA- Berbagai menu berbuka bisa dinikmati selama Ramadan. Salah satunya pakkat alias pucuk rotan yang dibakar. Lalapan khas masyarakat Mandailing ini diyakini mampu merangsang nafsu makan dan berkhasiat mengobati penyakit.
“Ambil berapa batang Pak? Pakkatnya baru dibakar lho. Harganya juga murah, berapa batang sama bapak?” demikian Endar, penjual pakkat di pasar baru Panyabungan, Selasa (2/8), menjajakan dagangannya.

Warga Desa Jambur Padangmatinggi, Kecamatan Panyabungan Utara ini, terlihat sibuk menjajakan pakkat dan melayani pembeli. Ia berjualan pakkat bersama tiga saudaranya. Menurut Endar, pakkat diperolehnya dari Natal. Ia membeli dengan sistem pesan. Modalnya sebesar Rp3 ribu per batang. Lalu, Endar menjualnya dengan harga Rp5 ribu per batang. Diterangkan Endar, setelah diperoleh dari Natal, pakkat dibakar dengan kayu, sebagian ada yang menggunakan ampas padi dan lainnya selama beberapa jam. Rasa pakkat bisa ditentukan dengan cara membakarnya, kalau dibakar menggunakan kayu bakar maka rasanya lebih enak tetapi kalau dibakar dengan ampas padi rasanya kurang enak. “Kami selalu membakarnya dengan kayu bakar agar matangnya sempurna dan rasanya lebih gurih. Butuh waktu sekitar seharian untuk membakar 500 batang pakkat,” ucapnya

Sementara itu, seorang peminat pakkat, Hasanah, mengaku setiap hari selalu mengonsumsi pakkat. “Kalau bulan puasa, kami bisa habiskan 5 batang setiap hari,” tegasnya. Maraknya penjual pakkat juga terlihat di Gunung Tua. Menu utama berbuka puasa ini dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp5 ribu hingga Rp6 ribu per batang. Menurut pedagang di sana, sebelum dimakan, pakkat terlebih dahulu dibakar menggunakan arang batok kelapa sekitar 15 menit. Kulitnya dikupas hingga ruas bagian dalam terlihat. Pucuk rotan muda ini lazim dilalap dengan sambal sebagai lalapan.

Baca Juga :  PN Panyabungan Gelar Sidang Penghinaan Wartawan

Salah seorang pedagang, H boru Harahap, kepada METRO, mengaku, selama Ramadan ia membutuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan lebaran dengan hasil menjual pakkat. “Hari pertama saja ramai peminat pakkat. Biasanya tidak sampai dua atau tiga jam sudah habis terjual dengan untung tiga kali lipat,” ucapnya. Diutarakannya, pakkat tersebut didapatkannya dari simangambat dan Kecamatan Dolok, sementara penjualan hanya sekitar Gunung Tua saja. “Bahannya ini saya dapatkan dari Simangambat dan Dolok Sipiongot, sedang untuk dijual hanya untuk warga Gunung Tua dan sekitarnya,” ucapnya.

Salah seorang calon pembeli Pakkat, Indah Siregar (34), mengaku, makanan pakkat selain rasa pakkat yang lezat, pucuk rotan ini diyakini berkhasiat mengobati berbagai penyakit seperti reumatik dan maag. Menurutnya, di hari biasa masyarakat tidak berminat dengan Pakkat, namun selama Ramadan warga biasa menyiapkan Pakkat untuk menu buka puasa dan hal tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun. “Kita mengeluarkan uang sebesar Rp5 ribu per hari untuk membeli pakkat. Sebab, kalau tidak ada pakkat saat berbuka serasa ada yang kurang,” ungkapnya. (wan/thg)

metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Kita yang jauh sian huta na dao di mata (Bekasi) hanya bisa mambondut ijur! Mau makan pakkat, tu dia dijalakan di portibi ni halak on. Ketemunya cuma tempe orek ama tahu bacem doang!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*