Pakkat Tetap Memikat

Meski memiliki rasa yang “getir”, namun, kehadirannya kerap dinanti, terutama saat Ramadan, oleh masyarakat Tapanuli bagian selatan (Tabagsel). Pasalnya, pakkat, demikian nama pucuk rotan muda ini di kalangan masyarakat Tapanuli Selatan (Tapsel), dipercaya mampu mendongkrak selera makan. Alhasil, era modernisasi tak kuasa meredam daya pikatnya di masyarakat.

Kepulan asap seakan menyambut kehadiran Global di kios penjual pakkat kawasan Jalan Letda Sudjono Medan, akhir pekan lalu sekira pukul 16.45 WIB. Tak kurang enam pembeli menanti giliran dilayani.

Umumnya, menginginkan pakkat bakar, sehingga terpaksa harus sabar menanti pakkat matang.

Di dekat tungku pembakaran berukuran sedang, seorang pria yang ditaksir berusia paruh baya, sibuk membolak-balik batang pakkat sepanjang 60 cm agar matang merata di atas bara api dari hasil pembakaran batok kelapa. Beberapa menit berselang, batang pakkat mulai menghitam sebagai pertanda isi di dalamnya siap disantap. Bukan berarti pekerjaannya sore itu rampung. Baru saja mengemas pakkat matang itu, beberapa pembeli lain telah siap menagih pesanannya. Kembali ia harus berkutat dengan panas dan kepulan asap dari batok kelapa yang terbakar itu. Tak jarang, saat umat muslim lain di Kota Medan berbuka puasa secara tenang, ia justru masih harus bergelut dengan pekerjaannya tersebut.

“Alhamdulillah. setiap hari bisa terjual sampai 300 batang pakkat, dan hari Minggu mencapai 500 batang,” ungkap pria yang kemudian diketahui bernama Dahlan Siregar ini.

Baca Juga :  Colt Diesel Terpuruk di Jalan Mandailing Palopat Padangsidimpuan

Warga kawasan Pasar Merah Medan ini mengaku telah puluhan tahun berjualan pakkat saat Ramadan tiba. Bahkan, sebagian kalangan masyarakat, terutama perantau asal Tabagsel, menganggap, pakkat merupakan menu utama berbuka puasa. Olahannya beragam, bisa dibakar, direbus, atau pun dimasak menyerupai gulai rebung (bambu muda -red). Seorang rekan yang mengaku pecandu berat pakkat, Badar Harahap, lebih suka menyantap penganan itu dengan sambal kecap.

“Sekali makan, dua atau tidak batang pakkat, nggak cukup. Makanya, sekali beli bisa dua sampai tiga ikat,” ujarnya melalui telepon seluler, lantas menjelaskan, satu ikat berisi tiga batang pakkat mentah seharga Rp 5.000 atau Rp 2.000 per batang.

Harahap juga memeroleh informasi, pakkat berkhasiat “menggusur” darah tinggi. Diyakini, rasa pahit bercampur kelat yang ditawarkan pakkat mampu mengobati penyakit itu dari tubuh penderitanya. “Kalau rutin mengonsumsinya, saya yakin pakkat bisa mengobati penyakit darah tinggi,” tegasnya.

Berdasarkan pengamatan, puluhan pedagang pakkat mengadu keberuntungan di pinggiran jalan Kota Medan, di antaranya, kawasan Jalan Letda Sudjono, Jalan Denai, Jalan Aksara, dan Mariendal.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, para pedagang mengharapkan pasokan pakkat dari Kecamatan Barumun Tengah, Tapsel. Warga setempat menanam pakkat di pinggiran danau dan memanennya menjelang Ramadan.

Ternyata, masyarakat Barumun Tengah lebih jeli memanfaatkan potensi pasar, meski hanya berlangsung setahun sekali, yakni saat Ramadan. Padahal, pasar telah terbentuk. Tidak diketahui secara pasti penyebab keengganan masyarakat untuk menanam bahan baku pakkat itu, apakah hasilnya masih dianggap sepele, atau, justru masyarakat kita yang tidak bisa memanfaatkan peluang?

Baca Juga :  Bertahun-tahun Digarap Ayah Tiri dan Dua Abang Tiri

Sumber: http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=43621:pakkat-tetap-memikat&catid=27:bisnis&Itemid=59

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*