Pantai Barat Lumpuh 3 Hari 1 Angkot Hancur Tertimpa Longsor

171236761798e9e3d7d5c7368b63ddb70e615cf6 Pantai Barat Lumpuh 3 Hari 1 Angkot Hancur Tertimpa Longsor
Satu unit angkot yang hancur tertimpa longsor.

MADINA– Hujan yang mengguyur Mandailing Natal sejak seminggu terakhir menyebabkan longsor di wilayah Pantai Barat. Longsor terjadi di beberapa titik di dua kecamatan, yakni di Batang Natal dan Linggabayu. Akibatnya arus lalu lintas lumpuh selama tiga hari, mulai Sabtu malam (29/12) hingga Selasa sore (1/1).

Amatan METRO, ada 10 titik longsor di jalan lintas Pantai Barat sepanjang 30 kilometer dan yang paling parah ada di empat titik rinciannya tiga titik di Kecamatan Batang Natal dan satu titik di kecamatan Linggabayu.

Untuk kecamatan Batang Natal, pertama ditemukan di Desa Jambur Baru, Parlampungan dan Batu Madinding, dan satu lagi di kelurahan Simpang Gambir Kecamatan Linggabayu. Masih pantauan METRO, Minggu (30/12), titik longsor di Desa Jambur Baru diiringi tumbangnya pohon beringin besar dan menimpa 1 unit mobil angkutan trayek Panyabungan-Natal. Tidak ada korban jiwa namun mobil tersebut tidak bisa lagi diselamatkan sebab seluruh bodi mobil hancur.

Dari keterangan warga setempat, kejadiannya berawal dari hujan deras mulai Sabtu dan terjadi longsor, sehingga jalan tidak bisa dilalui kendaraan. Lalu pada pagi harinya atau Minggu pagi sekitar pukul 07.30 WIB, ada satu unit angkutan yang datang dari arah Panyabungan menuju Natal yang antri akibat longsor.

Saat itu, supir angkutan turun untuk melihat kondisi longsor yang masih ada sekitar 100 meter dari antrian sementara penumpang masih di dalam mobil. Tiba-tiba terdengar suara pohon yang mau tumbang.

Baca Juga :  Warga Protes Pelayanan RSU Sidikalang

Mendengar itu, para penumpang berhamburan keluar. Tak lama kemudian, pohon beringin itu menimpa mobil hingga remuk dan hancur, tidak ada korban dalam peristiwa itu. Sementara tumpukan pohon beringin besar itu menutupi badan jalan tak ada satupun kendaraan yang bisa melewatinya.

Dan titik longsor kedua ada di desa Parlampungan, terjadi akibat bukit yang ada di pinggir jalan longsor dan menutupi badan jalan sepanjang 100 meter dan tidak bisa dilalui kendaraan jenis apapun begitu juga dengan titik longsor di desa Batu Madinding dan Kelurahan Simpanggambir.

Akibat longsor tersebut ratusan kendaraan harus menginap di tengah hutan, khususnya kendaraan jenis truk, dan bagi kendaraan angkutan umum harus melangsir para penumpang, dan penumpang juga berjalan kaki untuk melintasi dari titik longsor yang satu ke titik longsor yang lain, dan sebagian besar penumpang harus mengeluarkan ongkos langsir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemkab Madina Rispan Zulyardi kepada wartawan menyebutkan, saat ini arus lalu lintas sudah mulai lancar setelah sempat lumpuh selama tiga hari, material longsor berhasil dibersihkan setelah pemerintah menurunkan 4 unit alat berat ke lokasi, dan lalu lintas mulai dibuka pada Selasa sore.

“Ada beberapa titik longsor yang tidak bisa dilalui kendaraan jenis apapun. Alhamdulillah pada Selasa sore sudah berhasil dibersihkan,” ucap Rispan.

Dia juga mengimbau seluruh masyarakat agar selalu waspada atas longsor dan banjir yang rentan terjadi untuk wilayah Madina mengingat musim dan cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini.

Baca Juga :  Program Bupati Mewujudkan Tapsel sebagai Penghasil Sutra

“Untuk pengendara yang melintasi jalan lintas pantai barat agar lebih hati-hati melintasi khusus pada titik-titik rawan longsor, begitu juga bagi masyarakat yang bermukim dekat dengan sungai. Madina saat ini berada pada titik rawan bencana alam jenis banjir dan longsor,” tandasnya.(wan)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*