Pariban – (Budi P. Hatees)

Oleh:  Budi P. Hatees *)

%name Pariban (Budi P. Hatees)
Budi P. Hatees

AKU ceritakan padamu tentang Roida. Ia anak gadis Tulang Nurman, saudara ibu yang paling tua. Karena  itu, Roida adalah sepupuku. Tapi, aku baru tahu belakangan bahwa hubunganku dengan Roida bisa lebih dari sekedar sepupu. Aku boleh menikahinya, menjadikannya isteri, dan memintanya melahirkan anak-anakku. Tentu, aku tidak girang mendengar kabar itu. Sebaliknya, aku bingung. Bagaimana mungkin aku bisa menikahi Roida. Betapa ganjil. Betapa….

Aku mengenal Roida pertama kali ketika menghabiskan masa libur semester selama sebulan di Kota Sipirok. Kota itu tempat dimana ibuku dilahirkan.

Sepekan sebelum aku tiba di Kota Sipirok, ibu menelepon Tulang Nurman. Entah apa yang disampaikan ibu. Mereka berbicara dalam bahasa Batak, sedang aku tak paham satu suku kata pun.

Ketika aku sampai di Kota Sipirok,  Tulang Nurman sangat senang menyambutku. Ia begitu ramah. Begitu penuh kasih. Saat itulah aku bertemu Roida. Sebelumnya aku hanya mendengar namanya, bahwa ia anak tunggal Tulang Nurman. Bahwa ia ternyata sangat cantik– dan sesungguhnya aku kaget melihat betapa cantik dirinya-baru aku tahu saat bertemu itu.

Karena kecantikannya, tanpa sadar aku berujar: “Cantik betul kau, dik.”

Roida tersipu. Kulit pipinya memerah. Dalam kondisi seperti itu, ia terlihat semakin cantik.

PUJIANKU terhadap Roida membuatnya merasa dekat denganku. Ia cepat merasa akrab dan mengajakku bercanda. Ia memintaku bercerita tentang Solo, Yogjakarta, dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Ia juga memintaku menceritakan tentang kampusku, karena ia berkeinginan melanjutkan studi ke kampusku. “Kalau kuliah nanti, aku ingin kuliah di UGM,” katanya.

“Bagus,” kataku. “Sekarang kau kelas berapa?”

“Kelas tiga.”

Aku mengangguk. Aku bilang ia harus mempersiapkan diri dari sekarang. Apalagi saat ini ada ujian nasional, yang sering menjadi momok bagi anak-anak SMA. Ia mengangguk. Katanya, ia sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Katanya lagi, ia hanya punya satu pilihan kampus: UGM.

Setelah ia bercerita tentang dirinya, ia mengajakku jalan-jalan di Kota Sipirok. Aku tidak menolak. Sepanjang jalan, ia menjelaskan tentang Kota Sipirok dengan sangat rinci. Ia memahami seluk-beluk kota kecil ini dan kenal hampir semua sugut kota, termasuk semua orang yang tinggal di kota ini.

ROIDA itu sepupuku. Sepupu bagiku, sama seperti saudara kandung. Ada darah yang sama mengalir di tubuh kami. Darah yang kami wariskan dari orang tua masing-masing. Orang tua yang bersaudara kandung. Apalagi Roida jauh lebih muda.

Karena ia lebih muda, aku memperlakukannya sebagai adik. Tapi sikap Roida berbeda, ia tidak ingin aku perlakukan seperti seorang adik. Ia lebih menyukai kalau aku perlakukan sebagai seorang kekasih.

Tentu saja aku tak bisa. Tapi ia selalu bersikap genit. Ia selalu menuntut perhatian lebih. Ia juga terlihat sangat menyukai jika aku sentuh pucuk hidungnya yang mancung.

“Aku ini sepupumu, tak pantas kau bergenit-genit padaku,” kataku. Masih aku tekankan kalimat lain: “Aku risih dengan sikap seperti itu.”

Kalimat itu aku ucapkan saat berpamitan pulang, ketika kakiku menaiki bus yang akan membawaku ke Bandara Polonia di Kota Medan.

Mungkin karena aku mengucapkan kalimat itu agak kesal, volumenya menjadi tinggi. Tulang Nurman mendengarnya dan tergelak. Ia melangkah ke arahku, lalu menepuk pundakku.  Tulang Nurman berkata: “Tak ada yang salah dari sikap Roida. Kau itu paribannya. Roida sedang berusaha merebut perhatianmu.”

SEPANJANG perjalanan dengan bus dari Kota Sipirok ke Kota Medan, kalimat Tulang Nurman sangat mempengaruhiku. “Tak ada yang salah dari sikap Roida. Kau itu paribannya. Roida sedang berusaha merebut perhatianmu.”

Pariban!? Aku tidak begitu paham maksudnya.

Ibu memang pernah menceritakan tentang pariban. Sudah lama sekali. Aku pun tak begitu tertarik dan cepat melupakannya. Karena cerita itu sendiri bagiku sangat ganjil. Bagaimana mungkin adat mengizinkan terjadi pernikahan antarsepupu, dan karena itu berarti pernikahan sedarah? Tapi aku tak pernah menanyakan soal itu kepada ibu. Aku menebak bahwa ibu menceritakan semua itu hanya untuk memperkental darah orang Batak yang mengalir di tubuhku.

Aku menyukai cerita-cerita ibu. Ketika ibu bercerita, aku merasa seolah-olah sedang tinggal di tengah-tengah masyarakat Batak. Cerita-cerita itu pula yang memengaruhiku hingga terpikirkan untuk pergi ke kampung ibu suatu ketika. Saat liburan akhir semester, akhirnya aku punya waktu.

Tapi, dugaanku bahwa tradisi-tradisi masyarakat Batak yang ibu ceritakan itu sudah punah, ternyata keliru. Selama libur, aku belajar banyak hal, dan berkesimpulan bahwa saat bercerita tentang masyarakat Batak, sebetulnya ibu sedang berusaha mewariskan nilai-nilai budaya leluhurnya. Banyak hal dari cerita ibu yang masih aku temukan: sikap masyarakat, tuturan dalam percakapan, kain tenun yang disebut ulos, orang-orang yang selalu mengenakan sarung, handycraf dari manik-manik, bahasa Batak, dan adat-istiadat yang kental.

Ketika ibu bercerita tentang pariban, ia menceritakan tentang hubungannya di masa lalu dengan  Rabiul. Ibu bilang, hubungannya dengan Rabiul sangat dekat. Selain karena mereka sepupu, juga karena mereka pariban. Tapi, selepas SMA, mereka harus berpisah. Ibu berhasil lulus masuk UGM, sedangkan Rabiul lulus masuk ITB. Selama masa kualiah itu, ibu berkenalan dengan ayah dan mereka menjalin hubungan yang sangat dekat. Pada saat yang sama, Rabiul juga berkenalan dengan seorang gadis asal Tasikmalaya, yang kemudian menjadi istrinya.

Baca Juga :  Marjambar, Konsensus Islam - Kristen Di Sipirok

Kata ibu, sebelum memutuskan menikah dengan gadis itu, Rabiul mendatangi ibu ke Yogjakarta dan meminta maaf. “Saya minta maaf tidak bisa menikah denganmu. Saya minta izin akan menikah dengan pilihan saya,” kata Rabiul.
Ibu sendiri juga meminta maaf, dan mengatakan selama di Yogjakarta ia berkenalan dengan ayah dan berencana akan menikah setelah sarjana.

Kata ibu, Rabiul sengaja mendatanginya ke Yogjakarta karena mereka yang memiliki pariban tidak akan pernah menikah sebelum meminta maaf dengan paribannya. Seandainya waktu itu ibu tidak mengizinkan Rabiul menikah, maka Rabiul pasti tidak akan menikah.

AKU tak tahu apakah Roida juga berpikiran seperti ibu. Tapi aku tidak berpikiran seperti itu. Roida bagiku hanya seorang sepupu.

AKU terus memikirkan Roida. Aku tak bisa memejamkan mata dalam bus. Apakah aku menyesal sudah bersikap tidak ramah kepada Roida ataukah…..

Karena sikapnya yang genit, aku merasa risih bepergian dengan gadis itu. Dan suatu hari, mamasuki pekan kedua masa liburku di kampung ibu, aku putuskan keluar rumah tanpa mengajak Roida.

Sepekan pertama di kampung ibu, Roida selalu menemaniku kemana pun. Ia selalu sedia setiap kali aku mengajaknya keluar rumah. Ia begitu antusias. Apa pun yang sedang ia kerjakan, akan ditinggalkannya kalau aku mengajaknya keluar rumah. Tulang Nurman pun mendukung.

Sepanjang perjalanan, Roida selalu berusaha menjelaskan apa saja yang aku tanya. Ia betul-betul memahami semua hal yang ada di sekitar. Ia juga mengenali semua orang, dan semua orang  mengenal dirinya. Tidak cuma anak muda atau yang sebaya, tetapi juga para orang tua.

Roida disukai banyak orang. Semua orang yang kami jumpai di jalan mengenali Roida. Semula aku pikir karena ia sangat cantik. Kecantikan yang ia sembunyikan dalam balutan baju kerudungnya. Belakangan, aku berpikir bukan hanya karena kecantikannya dan ia menjadi kembang kampung, tetapi juga karena kelembutan dan keramahannya.
Ia sangat sopan kepada siapa saja, terutama kepada orang-orang tua. Ketika ia memperkenalkan aku kepada setiap orang, ia memperkenalkan dengan cara yang berbeda-beda. Ia mudah menyesuaikan diri dengan bermacam-macam teman bicara. Kepada para orang tua, ia bersikap hormat. Kepada yang lebih muda, ia bersikap sebagai teman.

Awalnya aku kagum pada Roida. Tapi, setelah beberapa hari berkeliling dan aku mulai mengenali kampung tempat ibuku lahir (orang-orang juga mulai mengenaliku), perlahan-lahan sikap Roida mulai berubah. Ia tak lagi terlihat bersikap hati-hati dalam berbicara seperti pada awal kami berkenalan. Ia pun tidak lagi malu-malu menggenggam tanganku saat bertemu dengan kawan-kawan sebayanya. Ia pun sangat bangga menggandeng lenganku bila kebetulan kami melewati serombongan pemuda yang melirik ke arah kami.

Aku pikir karena Roida merasa aku sepupunya, aku pun membiarkannya berlaku seperti itu. Tapi, lama kelamaan aku melihat Roida bukan lagi seperti sepupu, tetapi seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

Setiap kali aku mengajaknya bercanda dan menggodanya, kulit pipinya yang putih segera bersemu. Dalam keadaan seperti itu ia terlihat semakin cantik. Aku menjadi gemas dan sering menoel ujung hidungnya yang mancung.

Sekali pernah aku mencium keningnya. Ia tertunduk malu. Aku melakukan semua itu karena berpikir Roida adalah adik sepupuku. Tidak ada perasaan lain.  Tapi Roida menerjemahkan lain.

“AKU ini sepupumu, tak pantas kau bergenit-genit padaku.”  Kalimat yang aku ucapkan saat naik bus ini kembali melintas.

Mendadak aku merasa sangat kasar. Pantaslah Roida bagai tersengat listrik begitu mendengar kalimatku. Ia terdiam seolah kaki-kakinya terpaku. Usahanya untuk memelukku saat mau naik bus, terhenti seketika. Saat itulah Tulang Nurman mendekat.

Pariban!? Mendadak wajah ibu melintas. Cerita ibu tentang pariban kembali tergiang. “Mereka yang dilahirkan sebagai pariban, boleh menikah dan menjadi suami istri,” kata ibu.

“Mereka kan sepupu,” kataku.

“Justru karena itu.”

“Maksud ibu?”

“Orang Batak itu disatukan oleh ikatan marga. Mereka yang terlahir dalam satu ikatan marga, sama seperti dua saudara kandung yang lahir dari satu ibu. Mereka dilarang menikah antara satu dengan lainnya. Mereka boleh menikah dengan lain marga.”

“Banyak juga yang menikah semarga,” kataku.

“Di perantauan itu sering terjadi. Tapi di kampung asal, itu tak boleh terjadi. Di perantauan banyak orang Batak yang tidak menyertakan marga di belakang namanya. Tapi ini bukan semata kesalahan mereka. Pemerintah juga keliru karena menghilangkan pencantuman marga dalam KTP. Padahal marga itu menunjukkan ikatan persaudaraan. ”

“Apa hubungannya dengan pariban?” Aku masih belum paham.

“Pariban itu pasti bukan semarga.”

APAKAH Roida paribanku? Bukankah pariban hanya untuk mereka yang lahir dan memunyai marga? Sedangkan aku tidak.

Sulit bagiku memahami semua itu. Aku bukan bagian dari semua itu. Atau, aku termasuk bagian dari semua itu.
Ibuku memang lahir di Kota Sipirok dan karenanya ia orang Batak, tetapi ayah bukan. Ayah lahir di Solo dan bertemu dengan ibu saat mereka sama-sama berkuliah di Yogjakarta.

Baca Juga :  Tuhan, Rakyat, dan Neolib, Jurus Ampuh untuk Tarik Simpati

Kalau mengikuti garis ayah, berarti aku orang Solo. Tapi, seumur hidupku, aku hanya mendengar cerita tentang kampung ibu. Ayah tidak pernah bercerita tentang kampungnya, tentang kebiasa-kebiasaan orang di sana. Ayah terlalu sibuk, dan aku memakluminya. Ibu yang punya banyak waktu, dan ia seolah tidak membiarkanku tumbuh tanpa pengetahun tentang kebudayaan ibuku.

Aku menyukai semua cerita ibu. Aku juga menyukai semua cerita tentang kampung ayah. Sekali-sekali ibu memang menyinggung tentang kampung ayah, tetapi serba sedikit, sesuai dengan yang diketahui ibu. Ibu mengaku hanya beberapa kali ke Solo, itupun saat lebaran. Tidak banyak bergaul dengan orang-orang disana, sehingga ibu tidak banyak mengetahui adat-istiadat di sana. Ibu hanya tahu dan sangat tahu tentang adat-istiadat di kampungnya.
“Tanyakanlah pada ayahmu!” kata ibu setiap kali aku mendesaknya bercerita tentang Solo.

Tapi ayah jarang berada di rumah.

AYAH seorang insiyur tambang  yang banyak menghabiskan waktunya ke lokasi-lokasi pertambangan milik perusahaan tempat ayah bekerja. Kalau sudah pergi ke lokasi tambang, ayah bisa tinggal di sana sampai berbulan-bulan. Selama itu pula aku berhubungan dengan ayah lewat telepon. Tidak banyak yang kami bicarakan. Semuanya selalu tentang kondisi kesehatan, atau malah ayah yang banyak bertanya tentang pendidikanku. Aku menjawabnya datar-datar saja.

Waktu ayah di rumah relatif singkat. Setelah ia pulang dari sebuah lokasi tambang, ia akan mendapat izin untuk kembali ke rumah selama sepekan. Selama itu pula ayah lebih banyak memikirkan tentang pekerjaannya, membaca-baca buku-buku tentang pertambangan, dan berbincang-bincang dengan ibu. Sekali-sekali ayah mengajak aku dan ibu jalan-jalan, tetapi sepanjang perjalanan itu ayah tidak pernah berhneti memikirkan pekerjaannya.

Setelah sepekan di rumah, ayah akan berangkat lagi. Selalu ke lokasi tambang yang lain, dan ia akan menghadapi pekerjaan lain lagi. Lalu ia kembali ke rumah, tinggal sepekan di rumah, dan ia akan memikirkan pekerjaan itu. Begitulah terus-menerus sampai aku tidak merasa begitu tertarik ingin berbincang dengan ayah.

SUBUH aku sampai di Kota Medan. Perjalanan dari Kota Sipirok ke Kota Medan memakan waktu delapan jam. Tubuhku remuk. Duduk selama delapan jam dalam bus betul-betul siksaan. Apalagi aku tidak bisa tertidur karena ingatanku terjebak untuk terus-menerus memikirkan Roida.

Sungguh, aku merasa sangat kasar pada Roida. Sikapku tidak sebanding dengan sikapnya yang begitu ramah padaku. Ia selalu menemaniku kemana pun. Ia banyak mengajariku tentang banyak hal. Aku jadi lebih paham tentang adat-istiadat, tuturan, dan segala hal yang pernah diceritakan ibu. Semua cerita ibu ternyata benar. Dan aku, sungguh, mengagumi semua pengetahuan baru itu.

Roida juga membawaku ke tempat-tempat wisata. Ia bilang, aku harus menikmati alam yang alamiah agar aku selalu ingin kembali ke Kota Sipirok. Semula aku tak percaya ucapannya, tetapi setelah aku tiba di tempat-tempat yang katanya sangat indah itu, aku hanya bisa berdecak. Aku belum pernah bertemu pemandangan yang begitu luar biasa. Ia mengajakku naik ke puncak salah satu bukit dari jajaran Bukit Barisan yang mengelilingi Kota Sipirok. Di atas bukit itu aku berteriak.

“Kau sering ke sini?” tanyaku.

“Tempat ini hanya cocok untuk orang berpasangan,” katanya.

“Maksudmu?”

“Mereka yang menginginkan suasana romantis. Orang-orang yang sedang jatuh cinta.” Ia menekan ketika menyebut

“orang-orang yang sedang jatuh cinta” sambil menatapku dalam-dalam.

“Berarti kau sering ke sini?”

“Apa aku terlihat sedang jatuh cinta?”

“Siapa yang tahu.”

“Kau seharusnya tahu.”

“Maksudmu.”

“Laki-laki kan tahu seperti apa kalau perempuan jatuh cinta.”

“Aku tidak tahu.”

Ia diam. Aku juga diam sambil menebar tatapan ke seluruh sudut pandang.

KAU mungkin berharap aku kembali ke Kota Sipirok dan menemui Roida. Kau mengharapkan aku berkata pada Roida bahwa aku adalah paribannya dan aku ingin ia menjadi istriku.

Tapi, tidak, bukan begitu keputusanku. Aku merasa sangat kasar pada Roida, dan aku menyesali sikapku itu. Aku merasa telah merusak semua kenangan indah bersama Roida. Sepanjang perjalanan dengan pesawat dari Medan ke Yogjakarta, aku memikirkan terus betapa kasarnya diriku. Hanya itu. Soal pariban, aku tetap tidak melihat ada hal logis di sana yang membuatku boleh menjadikan sepupuku sebagai istri. ***

Disalin Kembali Dari – harian-global.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. sungguh bagus tulisannya Pak Budi, di sidempuan, tapsel, atau disekitar tabagsel…. dalam percakapan umum sehari-hari sepertinya jarang sekali orang mengatakan atau menyebut PARIBAN……. tapi semua mengatakan “boru tulang”…. boru tulangmu doi…. indu boru tulangmu… ligi ma boru tulangmi…. ketabo boru tulang, BUKAN Paribanmu doi, ketabo pariban…… ! heheheheh…heheheheh… hehehehehe…. heheheh…. heheeheheh… .

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*