Partisipasi Pemilih Pilkada Sumut Rendah

TEMPO.CO, Medan – Kekhawatiran sejumlah kalangan akan minimnya partisipasi pemilih dalam Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara 2013-2018 terbukti. Pantauan Tempo di beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Medan, tingkat partisipasi yang rendah itu kuat terlihat.

Di TPS IV Jalan Gwangju, Kesawan, Medan, misalnya. Pemilik suara yang menggunakan hak pilihnya kurang dari separuh dari total pemilih di lokasi itu. TPS yang berada di pusat Kota Medan itu tampak lengang. “Kami sudah melakukan sosialisasi dan membagikan formulir C6 (undangan memilih) kepada semua warga. Ada 349 orang yang berhak menyalurkan suaranya di TPS ini,” kata Silwi Tanjung, Ketua KPPS, kepada Tempo, Kamis, 7 Maret 2013.

Hingga penutupan waktu pencoblosan, hanya 149 warga yang menggunakan hak pilihnya. “Pemilih hanya 44 persen,” kata Tanjung usai penghitungan suara.

Pemilih di TPS-TPS yang berada di inti Kota Medan umumnya warga Tionghoa. Mereka tidak begitu antusias menyambut hari pemilihan gubernur yang akan memimpin Sumut 2013-2018.

Situasi serupa juga terlihat di TPS IV dan V Suka Damai, Medan, Johor. Di dua TPS itu tercatat 600-an pemilih. Namun, angka partisipasi tetap mengecewakan. “Masyarakat sepertinya sudah apatis terhadap pemilihan-pemilihan, apa pun namanya. Saya datang ke TPS ini lebih karena diajak suami,” kata Netty karyawati, warga yang memiliki hak pilih.

Sebelumnya, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Profesor Sublihar, mengatakan lima pasang calon gubernur Sumatera Utara tidak memiliki daya tarik politik yang tinggi sehingga gagal menyita perhatian masyarakat selama masa kampanye.

Baca Juga :  Krisis Energi, Sumut Menanti Kepastian Arbel

Dia berpendapat, setelah melihat dinamika kampanye mulai 18 Februari hingga 3 Maret 2013, lima pasangan calon tidak memiliki keistimewaan khusus dan jadi daya tarik masyarakat. “Saya melihat kelimanya gagal menjadi daya tarik publik. Dan ini akan berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pemilih,” kata Sublihar kepada Tempo.

Dengan tingkat partisipasi yang rendah, kata Sublihar, pemilihan gubernur bisa menjadi dua putaran. “Saya melihat korelasi penurunan partisipasi pemilih dengan kemungkinan kekuatan yang berimbang di antara lima pasang calon,” katanya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*