Pasal Korupsi Rahudman Bertambah

Kejaksaan Agung (Kejagung) bersama Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) telah menggelar perkara dugaan korupsi dana Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintahan Desa (TPAPD) Kabupaten Tapanuli Selatan dengan tersangka, Rahudman Harahap.

Dalam gelar perkara itu terungkap, kalau Walikota Medan itu diduga melakukan tindak korupsi lainnya senilai Rp13 miliar.

Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Sution Usman Adji, membenarkan hal itu. Dikatakan, dengan adanya dugaan kasus baru itu, maka pasal korupsi orang nomor satu di Kota Medan itu menjadi bertambah.

Ditanya tentang perkembangan kasus TPAPD, Sution, menyebutkan pihaknya masih menunggu kabar dari Kejaksaan Agung tentang pekembangan surat permohonan izin pemeriksan Rahudman Harahap.

”Kita masih menunggu surat izin pemeriksaan terhadap Rahudman disetujui oleh Presiden,” ungkap Sution kepada Waspada Online, tadi malam.

Sution menyebutkan, pihaknya nanti dalam memeriksa Rahudman Harahap, akan menggabungkan kasus yang menjeratnya itu. “Kita tidak membuat permohonan izin pemeriksaan lagi, cukup yang terdahulu saja. Kalau surat izin pemeriksaan turu, kita akan menggabungkan kasusnya, dan pasal korupsi yang kita kenakan juga akan bertambah,” kata Sution.

Kabar yang diterima Waspada Online saat ini surat permohonan izin pemeriksaan Rahudman Harahap telah berada di Sekretaris Kabinet dan selanjautnya diproses guna diteruskan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk ditandatangani.

Diketahui, Rahudman Harahap, sejak 25 Oktober 2010 lalu ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan korupsi dana TPAPD Kabupaten Tapsel TA 2005 sebesar Rp1,5 miliar. Sejauh ini Rahudman belum diperiksa, karena masih menunggu surat izin pemeriksaan dari Presiden.

Baca Juga :  Dampak Kabut Asap Dari Dumai Udara Medan Terkena Polusi

Kejatisu sendiri telah memeriksa sekitar 19 pejabat dan mantan pejabat Pemkab Tapsel terkait kasus ini. (waspada.co.id)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*