Pasar Sipiongot Butuh Rehabilitasi & Rekonstruksi

SIPIONGOT- Kondisi pasar tradisional Sipiongot, Kecamatan Dolok, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) masih sangat meprihatinkan dan butih perhatian Pemkab. Pasar ini sangat membutuhkan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk menjadi pasar tradisional yang lebih baik dan bersih.

“Padahal pasar ini merupakan urat nadi ekonomi rakyat kecil. Pasar tradisional juga sebagai tempat bersosialisasinya kearifan local,” ujar anggota DPRD Paluta H Ishak Harahap, Selasa (17/5). Katanya, pasar tradisional Sipiongot merupakan pasar bagi penduduk untuk 70 desa. Kapasitas pasar tradisional ini memerlukan pengembangan sebagai pusat perekonomian bagi warga Kecamatan Dolok.

Sebagai sarana perekonomian, sambungnya, pasar ini membutuhkan pengembangan yang signifikan. Rehabilitasi dan rekonstruksi serta fasilitas pasar memadai adalah upaya yang harus dilakukan untuk memperlancar transaksi perekonomian warga.

Menurut Ishak,  warga dari berbagai desa juga sangat susah untuk mendatangi pasar ini, harus melalui pegunungan terjal yang tidak bias dilalui kendaraan.

Sementara, salah seorang warga Kosim Sitoppul, mengatakan sewajarnya dilakukan perbaikan yang layak. Sebab pasar ini menampung terjadinya transaksi warga di 70 desa di Kecamatan Dolok.

Selain itu, rata-rata warga yang datang dari berbagai desa, membuat lalu-lintas di pasar ini macet total dan selayaknya juga jalan desa menuju pasar dibuka dan diperbaiki.

Pasar Tradisional sipiongot, katanya lagi mencontohkan, lahir dari satu dua pedagang sayur-mayur yang kemudian berkembang pesat hingga ratusan pedagang dengan nilai perputaran uang mencapai hampir ratusan juta. “Kalau di sini, meski kurang strategis dan kurang representatif secara bangunan maupun akses jalannya, kondisinya masih lebih baik dari pasar di desa yang lain,” pungkasnya.

Baca Juga :  Pembakaran Hutan Marak di Paluta

Pantauan METRO,  Selasa (17/5), ribuan warga dari 70 desa datang ke Pasar Sipiongot untuk berbelanja dan menjual hasil pertaniannya, seperti rempah-rempah, coklat, kopi, lada, cabai dan lainnya. (thg/ara)

metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

3 Komentar

  1. Iya sejak saya masih SD tahun 70an saya masih ingat Sipiongot daerah sangat tertinggal dan samapi sekarang masih tertinggal, saya sekarang di Indonesia timur dan yang katanya dulu era tahun 80an masih tertinggal sekarang maju pesat, perjlanan dulu 24 jam sekarang sudah dapat ditempuh 3 jam.. kasihan TAPSEL ini kemajuan yang ada hanya berdasarkan bertambahnya jumlah penduduk.. TAPSEL dari dulu hanya jalan ditempat.. bahkan sudah tertinggal dari daerah2 yang dulunya dikatakan tertinggal.. semoga semua ini membuat masyarakat lebih realistis dalam memilih pemimpin.. daerah kakek saya Marancar juga masih belum ada kemajuan yang siqnifikan dari dulu jaman orang pake kuda kuli utk angkut barang dan saya sempat mengalami jalan kaki dari Marancar udik ke Sipenggeng

  2. wahai bapak pemimpin daerah terutama paluta tolongla pak lihat dulu jalan ke hutanami sipiongot dari tahin 1919 sampai 2013 kami blm pernah merasakan kemerdekaan tentang jalan raya padahal panjang jaln dari hutaimbaru ke sipiongot kec dolok CUMAN 39 KM,kapan lagi jlnnnya dibangun <merdeka<trimk………

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*