Pedagang Dihimbau Untuk Tetap Mempergunakan Uang Logam Pecahan Rp. 100 dan Rp. 200 Tahun Emisi 2005 Ke atas

MedanBisnis –  P. Sidimpuan. Para pedagang mikro seperti penjual jajanan dan sayuran di berbagai lokasi di Kota Padangsidimpuan menolak menerima uang pecahan Rp 100 dan Rp 200. Penolakan tersebut disebabkan munculnya isu bahwa  pihak bank tidak lagi menerima uang recehan ini.  Rina Harahap salah seorang pedagang sayur dan jajanan anak-anak di lingkungan Tanggal Kelurahan Batunadua Jae mengaku kecewa, karena saat membelanjakan uang pecahan Rp 100 dan Rp 200 yang dikumpulkannya dari pembeli ditolak oleh salah satu grosir tempatnya berbelanja barang dagangannya.

“Ya, saya kecewa karena grosir di pasar itu tidak lagi menerima uang pecahan Rp 100 dan Rp 200 yang saya kumpulkan dari jajanan anak-anak dan uang kembalian sayuran. Ketimbang rugi, saya juga tidak akan menerima uang pecahan tersebut,” lanjutnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan seorang sopir angkot rute  Padangsidimpuan – Padang Lawas Utara (Paluta) Husein Nasution.

“Dari hasil pembicaraan para penumpang yang berjualan ke luar kota, di Gunungtua Kabupaten Paluta uang pecahan Rp 100 dan Rp 200 ini tidak laku lagi baik di kalangan pedagang kecil maupun grosir,” tuturnya.

Pimpinan Cabang Bank Sumut Padangsidimpuan Hifzan Lubis kepada MedanBisnis, Kamis (26/1) mengatakan sesuai surat edaran Bank Indonesia (BI) No 13/9/DPU/Sbg perihal informasi jangka waktu penukaran uang yang telah dicabut dan ditarik dari peredaran yang ditujukan kepada seluruh bank pelaksana, memang ada disebutkan pencabutan dan penarikan uang pecahan Rp 100.

Baca Juga :  Korupsi Rp. 1,4 Miliar, Kepala Pegadaian Padangsidimpuan Ditangkap

Namun penarikan tersebut tidak ditujukan kepada pecahan Rp. 100 dan Rp 200 dengan tahun emisi  2005 ke atas . “Masyarakat itu keliru, uang pecahan yang ditarik itu adalah uang pecahan logam mulai dari tahun emisi 1979 dan tahun emisi 1991 yakni pecahan Rp 5, Rp 50, Rp 100.

Kemudian uang kertas dari Rp 100, Rp 500, Rp 1000 , Rp 5.000 dan Rp 10.000 dengan tahun emisi mulai dari tahun 1975 sampai dengan  1992,” jelasnya.

Jadi uang pecahan logam yang beredar saat ini merupakan uang pecahan tahun emisi 2005 ke atas, sehingga pencabutan tersebut tidak berlaku bagi kedua uang pecahan logam Rp 100 dan Rp 200 ini.

“Saya menghimbau agar masyarakat tetap mempergunakan uang logam pecahan Rp 100 dan Rp 200 tahun emisi 2005 ke atas sebagai alat tukar yang sah,” tuturnya.

Hifzan menambahkan, sepanjang belum ada aturan baru yang dikeluarkan oleh BI tentang pencabutan peredaran uang logam pecahan Rp 100 dan Rp 200, maka kedua uang pecahan ini bisa digunakan sebagai alat tukar resmi.

Menanggapi bank-bank yang diisukan tidak menerima penukaran uang logam pecahan Rp 100 dan Rp 200 ini, Hifzan menerangkan, mungkin dengan tingginya tingkat inflasi membuat transaksi penukaran menjadi sulit, karena dengan nilai mata uang yang terlalu kecil akan menyulitkan pihak kasir melakukan penghitungan dan penyimpanan.

Baca Juga :  Pramuka Tapanuli Selatan Bersihkan Sisa Banjir Bandang

“Bayangkan jika uang Rp 1 juta ditukarkan dengan uang logam pecahan Rp 100 atau Rp 200. Wah, bagaimana banyaknya kepingan yang akan dikumpulkan, ini kan merepotkan,” jelasnya.
(ck 03)

Medanbisnis.com
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*