Pelaku Perbudakan Ditangkap Polisi

(Analisa/hairul iman hasibuan) Tangan tersangka traficking dan perbudakan anak di bawah umur DM (40) digari polisi usai dibekuk di kantor Yayasan Burangir di jalan Kapten Koima, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota P.Sidimpuan.

P. Sidimpuan, (Analisa). Personil Polres Padangsidimpuan menangkap seorang pelaku traficking dan perbudakan anak di bawah umur, DM (40) warga Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Selasa (13/12).

Tersangka ditangkap saat tengah menjemput dan membawa pulang korban KG (14) yang berada di kantor yayasan Burangir, Jalan Kapten Koima Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota P. Sidimpuan.

Informasi dihimpun Analisa Rabu (14/12), penangkapan terhadap tersangka tersebut berawal, saat polisi menerima informasi akan datangnya tersangka ke kantor Yayasan Burangir.

Menerima informasi tersebut, sejumlah personil Polres P. Sidimpuan langsung menuju ke lokasi.

Berselang beberapa saat berada di kantor itu, tersangka kemudian tiba dan langsung ditangkap polisi yang telah menunggu sebelumnya.

Dari hasil introgasi di Mapolres P. Sidimpuan, tersangka mengaku telah mempekerjakan korban sebagai tukang ambil kayu selama satu tahun.

Selain itu, juga kerap melakukan pemukulan terhadap korban.

“Saya pernah memukulnya tapi hanya sekali. Kami tidak memaksanya untuk bekerja, tapi itu berdasarkan kesepakatan antara orangtua saya dengan orangtua korban.

Sebagai tebusan mahar yang tidak bisa diberikan oleh saudara korban ketika menikahi adek saya” ujarnya di hadapan penyidik.

Terpisah, Direktur Eksekutif Yayasan Burangir Timbul Simanungkalit mengungkapkan, apresiasi yang tinggi kepada pihak kepolisian Polres Mandailing Natal maupun Polresta P.Sidimpuan atas kerjasamanya menangkap salah seorang tersangka dugaan traficking dan perbudakan.

Baca Juga :  Mahasiswa Tabagsel di Mesir Masih Aman

“Atas nama yayasan yang melaporkan kejadian itu, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran kepolisian yang sudah berhasil menangkap seorang tersangka dugaan traficking dan perbudakan,” katanya.

Dikatakan, pihaknya juga berencana untuk melaporkan orangtua korban.

Pasalnya, sebelum korban menjadi budak tersangka, antara orangtua korban dan pihak tersangka sudah membuat perjanjian.

“Anehnya, sampai saat ini korban tidak pernah mengenal kedua orangtuannya.

Korban dijual sebagai penebus mahar ketika masih kecil, makanya dia tidak kenal dengan orangtuannya,” timpal Sekretaris Eksekutif Yayasan Burangir Fitri Leniwati Harahap.

Untuk diketahui, peristiwa itu terjadi ketika KG terpaksa menjadi budak selama 5 tahun di rumah dua saudara iparnya di daerah yang berbeda untuk menebus mahar saudara kandungnya yang menikah dengan salah satu keluarga dari saudara iparnya.

Kejadian traficking dan perbudakan ini terungkap setelah salah seorang tetangga membawa kabur korban dan melaporkannya ke Yayasan Burangir.

Oleh, pihak Yayasan Burangir menindaklanjutinya dengan melaporkan kejadian itu ke Polres Madina. (hih)

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*