Pembangunan Sumut Jangan Sekedar Wacana

Oleh : H. Kliwon Suyoto *)

Agaknya satu kehormatan bagi masyarakat Sumut ketika ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung memilih Medan sebagai ibukota Sumut untuk menggelar kegiatan Rapat Kerja Nasional Ikatan Alumni ITB (26/3).

Terlebih ketika salah satu dari rangkaian kegiatan diisi dengan Seminar Pengembangan Transportasi di Sumut Dalam Percepatan Pembangunan Ekonomi dan Industri, yang dalam pembahasannya juga mewacanakan berbagai permasalahan pembangunan infrastruktur di Sumut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, peningkatan dan penyelesaian pembangunan infrastruktur khususnya sektor transportasi di Sumatera Utara harus dipercepat karena Sumut merupakan salah satu pemicu pertumbuhan perekonomian nasional. Sedangkan Menhub, Freddy Numberi melalui sambutan tertulisnya mewacanakan jalan tol Medan – Kuala Namu – Tebing Tinggi, jalan trans Sumatera, akses Belawan, kereta api Medan – Dumai – Pekanbaru, Aras Kabu – Kuala Namu dan transportasi laut Medan Metroplitan Expansion.

Sejumlah infrastruktur yang diwacanakan kedua Menteri bukanlah hal yang baru. Ini merupakan pengulangan atas wacana yang pernah disampaikan pejabat pemerintahan pusat sebelumnya. Misalnya KA Bandara Medan-Kualanamu, peletakan rel pertamanya sudah dilakukan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla tanggal 29 Juni 2006. Tetapi apa hasilnya sampai sekarang setelah hampir lima tahun berlalu ? Rel KA dari stasiun Araskabu ke Kualanamu belum juga dikerjakan.

Jadi, alangkah sayangnya kalau semua ini hanya sebatas wacana, tidak segera ditindaklanjuti dengan program aksi secara konkrit. Saatnya masyarakat di Sumatera Utara untuk berseru, “kami tidak butuh wacana, kami butuh tindakan nyata.” Bandingkan pesatnya pembangunan di Jawa dengan lambannya pembangunan di Sumatera Utara. Pulau Jawa yang miskin sumber daya infrastrukturnya mendapat prioritas, sementara pulau Sumatera yang kaya sumber daya terkalahkan infrastrukturnya.

Infrastruktur Transportasi

Percepatan pembangunan infrastruktur di Sumut hanya dapat dilakukan bila ada sinerji antar sub sektor transportasi. Di satu sisi infrastruktur jalan raya pada koridor bottle neck harus diantisipasi dengan mengalihkan mobilitas angkutan dari jalan raya ke jalan rel. Di sisi lain, moda angkutan jalan rel juga dioptimalkan peranannya dengan menambah armada lokomotif, kereta penumpang dan gerbong barang, utamanya gerbong dengan spesifikasi pengangkutan kontener (flat car).

Selain itu, konsentrasi mobilitas barang dan penumpang yang selama ini bertumpu pada satu jalur juga perlu didukung dengan pembangunan jalan alternatif. Misalnya koridor Perbaungan-Tebing Tinggi sebagai bootle neck mobilitas barang dan penumpang dari Medan ke pedalaman Sumatera Utara seperti Siantar, Balige, Tarutung, serta Kisaran, Rantauprapat dan Tanjungbalai, perlu dukungan jalan raya alternatif Tebing Tinggi-Dolok Masihul-Lubuk Pakam, serta jalan raya menelusuri pesisir timur Pagurawan-Bedagei-Sialangbuah-Pantai Cermin-Percut.

Jaringan rel KA yang selama ini masih terputus di Rantauprapat, juga sangat urgen dihubungkan ke Dumai dan Pekanbaru, bahkan juga sejumlah Kabupaten di bagian Selatan Provinsi Sumatera Utara seperti Tapanuli Selatan. Jaringan rel KA ini sebenarnya sudah tercover dalam rencana Trans Sumatera Railway yang telah banyak menghabiskan dana untuk berbagai study, tetapi tidak kunjung dieksekusi pembangunannya. Entah berapa konsultan yang telah melakukan feasibility study, tetapi pembangunannya belum juga dimulai.

Baca Juga :  PKS..!, Segeralah Ber-OPOSISI

Hal yang tak kalah pentingnya adalah solusi terhadap stagnasi pelabuhan Belawan, yang dapat dilakukan dengan membangun pelabuhan alternatif di Kuala Tanjung atau dengan membangun pelabuhan darat (dry port) di Tebing Tinggi. Tentunya dengan dukungan membangun infrastruktur rel KA yang menghubungkan stasiun KA Bandar Tinggi-Kuala Tanjung sepanjang 25 Km. Hal ini juga sudah lama diwacanakan, tetapi masih saja sebatas wacana yang tidak pernah ditindaklanjuti secara nyata.

Prioritas Infrastruktur Transportasi

Prioritas pertama infrastruktur transportasi di Sumut adalah mengurangi kepadatan lalulintas jalan raya pada koridor bottle neck antara Tebing Tinggi-Perbaungan. Rencana pembangunan jalan tol Medan-Tebing Tinggi dengan junction di Kualanamu serta beberapa tempat lainnya memang merupakan jawabannya. Tetapi sebelum jalan tol itu dapat diwujudkan, solusi moderat dapat dilakukan dengan mengoptimalkan peran angkutan KA Barang dan KA Penumpang antara Tebing Tinggi-Medan. Mobilitas barang dan penumpang sebagian dapat dialihkan ke jalan rel.

Optimalisasi peranan KA Penumpang sangat dimungkinkan bila pemerintah dapat mengalokasikan armada tambahan berupa Kereta Rel Diesel (KRD), sehingga frekuensi perjalanan KA Penumpang Medan-Tebing Tinggi dapat ditingkatkan. Sedangkan optimalisasi peran KA Barang pada koridor ini dapat dilakukan dengan membangun pelabuhan darat atau Dry Port di stasiun Tebing Tinggi. Mobilitas truk kontener dari pedalaman bagian Selatan Sumut dibatasi sampai stasiun Tebing Tinggi, dilanjutkan dengan KA dari Dry Port di Tebing Tinggi ke Belawan.

Prioritas kedua terkait dengan infrastruktur transportasi di Sumut, adalah menjadikan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan ekspor/impor alternatif selain Belawan. Hal ini setidaknya dapat mengurangi “larinya” sejumlah komoditas asal Sumut ke pelabuhan Dumai di Riau. Alangkah tidak eloknya kalau hasil dari Sumut, tetapi devisa ekspor masuk ke Riau seperti yang disinyalir terjadi selama ini. Sebagian komoditas ekspor asal Tapsel dikapalkan lewat Dumai, karena selain jarak lebih dekat, infrastruktur jalan juga kurang mendukung, bahkan menghadapi stagnasi di pelabuhan Belawan.

Masih dalam kaitannya dengan infrastruktur jalan, prioritas ketiga diharapkan pada pembenahan infrastruktur jalan di Kabupaten pedalaman Sumut. Misalnya, jalan antara Kotapinang-Gunung Tua-Sibuhuan menuju tapal batas Sumut-Riau. Begitu juga infrastruktur jalan koridor Gunungtua-Padang Sidempuan, yang pada umumnya rawan mengalami kerusakan. Jalan tidak hanya berlubang tetapi juga banyak kubangan yang menyulitkan mobilitas angkutan barang dan orang. Ada dugaan karena di kawasan pedalaman, pengawasan menyangkut kualitas perawatan jalan lemah.

Baca Juga :  Kontroversi Bandar Udara Internasional Kuala Namu

***

Bung Guit 29 Maret 2011 menggarisbawahi iven kehadiran Ikatan Alumni ITB di Medan (26/3) dengan catatan: Sumatera diproyeksikan akan menjadi sentra produksi dan pengolahan hasil bumi serta lumbung enersi nasional, dan kota Medan merupakan pusat ekonomi dan pintu gerbang wilayah utara dalam menghadapi persaingan secara langsung dengan negara luar, hal ini menjadikan Sumatera Utara menduduki posisi vital yang berperan penting. Pesan Bung Guit, “Jangan main-main, ini beban berat meskipun harapan besar.”

(Mungkin) tanggap atas pesan Bung Guit tersebut, pemprov Sumut mengusulkan dana pembangunan tahun 2012 ke pemerintah di pusat sebesar Rp33,5 triliun. Usulan dana pembangunan itu mencakup 29 bidang terbagi dua yakni dana dekonsentrasi dan dana tugas perbantuan. Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu H Gatot Pujo Nugroho ST menyatakan agar usulan tersebut ditampung dan terealisasi seluruhnya, maka orang Sumut yang kini duduk di DPR-RI (30 orang), dan DPD-RI (4 orang) dapat mengawalnya hingga benar-benar terwujud seluruhnya (Analisa, 6 April 2011).

Kita berharap semoga berbagai skala prioritas pembangunan infrastruktur transportasi yang diulas pada bagian sebelumnya juga tercover dalam usulan tadi. Jalan raya koridor bottle neck Perbaungan-Tebing Tinggi tidak sering macet lagi, jalan alternatif Tebing Tinggi-Dolok Masihul-Lubuk Pakam, serta jalan raya pesisir timur Pagurawan-Bedagei-Sialangbuah-Pantai Cermin-Kualanamu-Percut dapat menampung sebagian arus kendaraan pribadi. Juga peranan angkutan KA koridor Medan-Tebing Tinggi dapat dioptimalkan.

Kalau masalah infrastruktur transportasi sebagaimana disebutkan di atas dapat diatasi, mobilitas barang dan penumpang menjadi lebih lancar. Komoditas ekspor asal Sumut akan lebih kompetitif di pasar internasional. Selain itu, membaiknya infrastruktur transportasi juga akan memperlancar mobilitas wisatawan dari/ke sejumlah objek wisata di Sumatera Utara, yang pada gilirannya juga akan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sumut. Yang pasti, pembangunan di Sumut tidak lagi sekedar sebuah wacana. Semoga !!. *** (analisadaily.com)

*) Penulis pemerhati masalah sosial, ekonomi dan transportasi tinggal di Tebing Tinggi.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*