Pembangunan Trans Sumatra Railway Mendesak

railway lines Pembangunan Trans Sumatra Railway Mendesak MEDAN–MI: Pembangunan jalur Trans-Sumatra Railway yang menghubungkan Sumatra Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Sumatra Barat mendesak. Jalur kereta api yang menghubungkan empat provinsi tersebut akan membawa dampak positif bagi perekonomian.

“Saat ini dibutuhkan optimalisasi peranan kereta api untuk mengangkut hasil perkebunan yang menjadi sektor utama perekonomian Sumatra Utara (Sumut). Seperti diketahui, keterbatasan kapasitas jalan raya mengakibatkan banyaknya permasalahan yang muncul dalam pengangkutannya berdampak kepada rendahnya daya saing harga produk perkebunan Sumut di pasaran,” kata Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumut, Riadil Akhir Lubis, Minggu (23/5).

Pemerintah provinsi (Pemprov) Sumut menurut Riadil, menargetkan pada 2014 tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 8,2%. Target itu lebih besar jika dibandingkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 7″7,5%. Sektor perkebunan merupakan primadona di Sumut dengan luas lahan mencapai 1,8 juta hektare.

Hasil perkebunan yang utama, antara lain minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), kakao, dan karet. Ke depan, lanjut Riadil, diharapkan produk ini tidak lagi hanya untuk konsumsi ekspor, melainkan untuk konsumsi dalam negeri dengan menciptakan produk turunan dari CPO, seperti sabun, dan biodiesel.

“Kami akan berupaya untuk mengurangi ekspor CPO. Untuk itulah diperlukan transportasi untuk mengangkut hasil perkebunan dari sentra perkebunan ke pelabuhan, juga dari sentra perkebunan ke market (pasar).Maka itu, kami mendorong percepatan pembangunan Trans Sumatra Railway ini,”tuturnya.

Baca Juga :  Mantap, KPK Sudah Pegang Identitas 'Ketua Besar'

Untuk tahap awal pembangunan Trans- Sumatra Railway ini, papar Riadil, alam ditingkatkan jalur kereta api yang sudah ada dimulai dari batas NAD, yakni Binjai, Medan, Tebingtinggi, Kisaran, Rantauprapat dan Tebingtinggi, Pematangsiantar, Kisaran, Tanjungbalai.

Lalu membuka kembali jalur Medan, Pangkalanbrandan, Besitang sepanjang lebih kurang 100 kilometer, pembangunan jalur Rantauprapat, Kotapinang sepanjang lebih kurang 62 kilometer, membuka kembali jaringan jalan rel kereta api lintasan Besitang” Langsa sebagai bagian dari jalur menuju Lhokseumawe-Banda Aceh.

Selain itu, tentu saja membangun spoor simpang (akses jalur kereta api) ke pelabuhan-pelabuhan, seperti pelabuhan peti kemas Gabion, Belawan, Pelabuhan Kualatanjung, Pelabuhan Labuhanbilik. Pembangunan fasilitas penunjang lainnya yang dibutuhkan, yakni membangun fly over atau under pass pada perlintasan.

Dilanjutkan dengan pembangunan atau rehabilitasi jalan kereta api perkotaan, mulai rute Medan, Binjai, Belawan, Pancurbatu, Delitua, Tanjung Morawa yang tentunya bisa mendukung program Mass Rapid Transportation (MRT) untuk wilayah Medan, Binjai, Deliserdang dan Karo (Mebidangro).

Menurut Riadil, jika Trans Sumatra Railway ini sudah dibuka, tentunya akan berdampak sangat positif. Selain jalan tidak rusak, volume yang diangkut pun lebih besar dan biaya pengangkutannya tentu relatif lebih murah. “Untuk pembangunan jalur Trans Sumatra Railway ini, dananya juga akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),”terangnya.(BS/OL-02)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/05/144577/126/101/Pembangunan-Trans-Sumatra-Railway-Mendesak

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  SBY Instruksikan Menkopolhukam Tertibkan Ormas Anarkis

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*