Pemerintah Hanya Ecek-Ecek Benahi Aek Latong?

(google)

MEDAN – Proses perbaikan jalan Aek Latong mulai dilakukan, pascapenutupan akibat kecelakaan maut bus ALS beberapa waktu lalu. Perbaikan jalan menelan biaya Rp60 miliar. Namun sebenarnya bukan perbaikan tambal sulam yang dibutuhkan Aek Latong yang secara geologis memang tidak layak dilalui jalan standar.

“Untuk saat ini, perbaikan memang masih bisa kita terima. Namun kita harus mendesak agar pemerintah pusat segera serius menganalisa dan meneliti model jalan seperti apa yang dibutuhkan Aek Latong,” kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRD Sumut), Chaidir Ritonga, kepada Waspada Online, hari ini.

Kerusakan jalan Aek Latong yang panjangnya hanya kurang lebih 2 kilometer itu sudah menjadi potret buram pembangunan dan perbaikan sarana infrastruktur di daerah ini. Celakanya, karena jalan itu termasuk Jalan Lintas Sumatera atau Jalinsum yang tanggungjawabnya ada di pemerintah pusat. Maka jalan itu pun terkesan seperti anak ayam yang kehilangan induk, “barangnya ada, tapi yang urus tak jelas.”

Seringkali pemerintah setempat (Tapsel) dan pemeritah tingkat satu (Sumut) menuding pemerintah pusat yang tidak memperhatikan perbaikan jalan tersebut. Begitu juga dengan kalangan wakil rakyatnya, baik yang ada di DPRD tingkat dua, DPRD Provinsi, DPR RI asal Sumut, dan DPD asal Sumut tak jarang melempar persoalan itu ke pusat. Alhasil, jalan Aek Latong bukannya semakin baik, tapi justru dari hari ke hari semakin tak terurus.

Baca Juga :  Orok Membusuk Gegerkan Sitamiang - Polisi Menduga Mayat Binatang

“Memang terlihat jelas bagaimana pemerintah pusat tidak memandang sebelah matapun pada infrastruktur Sumatera khususnya Sumut. Padahal, banyak sekali hasil yang kita sumbangkan ke pusat,” katanya.

Sementara itu, menurut keterangan Ketua Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) Sumut, Murlan Tamba, kondisi Aek Latong yang jika hujan turun, kondisi badan jalan seperti bubur dengan batu-batu besar yang menyembul dari kubangan air. Dan jika panas, batu-batu besar seperti keluar dari perut bumi dan seakan-akan menghadang setiap kendaraan yang lewat, butuh perhatian.

Kondisi ini semakin diperparah karena tanjakan yang curam dan diikuti dengan medan yang sangat sulit. Jika menuju ke daerah Tapanuli Selatan, kawasan Aek Latong itu seakan-akan seperti ‘pintu gerbang kematian’. Sebab, setiap orang yang melalui jalan tesebut pasti dihantui rasa cemas akan keselamatan dirinya.

Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, banyak penumpang yang memilih turun dari mobil dan berjalan menyisir jalanan berbatuan dan becek. “Padahal, kalau pun berjalan, keselamatannya juga belum tentu terjamin karena sewaktu-waktu bisa saja ditimpa atau terserempet kenderaan yang  melintas. Ini jelas membutuhkan perhatian pemerintah,” terangnya.

Karenanya, jangan sampai Aek Latong menelan korban lagi baru pemerintah mengambil tindakan. “Jangan pernah jadikan korban sebagai pemicu perbaikan infrastruktur Aek Latong,” ingat Chaidir.

Sumber: waspada.co.id

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Dishub dan Polres Kota Padangsidimpuan Beri Rasa Aman & Nyaman Bagi Pemudik

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*