Pemilihan Caleg yang baru di Pesta Demokrasi tgl 9 April 2014 yang belum pernah menjadi Anggota DPR/DPRD

Sebelum membahas tentang pesta demokrasi tanggal 9 April 2014, sebelumnya saya menyampaikan bahwa tulisan ini tidak untuk digunakan dalam memperkeruh, merusak, atau menjadi isu untuk digunakan dalam hal-hal yang merusak Pesta demokrasi di Indonesia, melainkan sebagai dasar pemikiran tentang adanya perubahan melalui suatu hal yan baru.

Suatu hari, tiba-tiba ada berita informasi mengatakan bahwa salah satu Gubernur/Wakil Gubernur di Indonesia ini yang baru menjabat beberapa bulan, tiba-tiba mengganti dan mengingatkan para pemegang jabatan jajarannya yang sangat dianggap strategis, misalkan Camat disetiap kecamatan, lurah di setiap kelurahan dan kepala-kepala bidang seperti kepala kebersihan, kepala satpol PP bahkan orang nomor satu didepartemen perhubungan di wilayahnya. Posisi-posisi yang strategis di daerahnya itu di peringatkan bahwa apa yang menjadi tujuannya untuk memperbaiki hal-hal yang baik tidak main-main dan bagi para pejabat dibawahnya yang coba tidak seirama dengan tujuan untuk memperbaiki dan perubahan ke hal-hal yang baik akan dicopot dari jabatan bahkan dipecat. Dan hal itu tidak main-main dan dibuktikan dengan banyaknya yang menjadi korban dari kebijakan tersebut. Mengapa hal itu dilakukan? apakah pejabat-pejabat yang penting tersebut kinerjanya tidak baik, tidak melakukan perintah dengan baik atau merasa punya kekuatan diluar atasannya yang bisa memback up jabatannya. Dalam hal ini, semua kekuatan yang dianggap punya kekuatan yang tak bakal bisa diganggu-ganggu oleh siapapun nomor satu diwilayah tersebut tidak mampan satupun melawan arus kebijakan perubahan tersebut. Sehingga secara pelan-pelan mau tidak mau secara bertahap, satu persatu mulai menuruti apa maunya atasanya dan bagi yang merasa kuat akhirnnya hancur dengan diganti/dipecat atau dicopot dari jabatannya.

Jika ditelusuri kebijakan gubernur itu, tentunya mempunyai alasan-alasan yang kuat berdasarkan data dan informasi yang sudah diketahui sebelum menjadi terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur. Banyaknya para pejabat yang sudah lama atau senior yang mempunyai sifat dan karakter kerja yang tidak baik dianggap akan menjadi kendala dalam hal melakukan perubahan yang akan dilakukan, apalagi dengan era tehnologi yang begitu cepat sehingga dianggap sudah perlu diterapkan sebagaimana dikantor-kantor swasta yang ada. Lantas, apa hubungannya dengan Pesta demokrasi nanti tanggal 9 April 2014?

Bila diteliti keluhan dan kelamahan-kelemahan negara ini dalam hal meningkatkan kesejahteraan rakyatnya mulai dari tingkat Pusat hingga tingkat pejabat paling rendah, masyarakat sudah bosan dengan hal-hal yang dianggap salah tetapi sepertinya menjadi hal yang dianggap tidak salah, bahkan menjadi bangga dari ketidakrasionalan kehidupan para pejabat setelah menjadi pejabat atau menjadi duduk menjadi anggota DPR/DPRD/DPRD TK-II. Bagaimana tidak, sebelum menjadi pejabat, kehidupan boleh dikatakan sangat bermasyarakat dan kehidupannya tidak beda dengan masyarakat dimana anggota DPR tersebut berdomisili, namun setelah menjadi terpilih menjadi anggota DPR/DPRD perubahan kehidupan langsung berubah cepat bahkan sudah diluar kewajaran yang ada. Bagaimana bisa tidak?  tentunya ketidak wajara tersebutlah yang selama ini menjadi titik lemah dan titik kekuatan yang dimamfaatkan diberbagai pihak yang memahami masing-masing setelah terpilih menjadi pejabat DPR/DPRD. Kehidupan KKN hampir tidak lepas sudah dari kehidupan sehari-hari dan selalu dikelilingi godaan KKN setelah menjadi pejabat, sehingga antara ingin berbuat baik, mempertahankan jabatan, publikasi, mencari nama baik, mengalahkan lawan dan hal-hal lainnya semua berubah drastis setelah terpilih menjadi Anggota DPR/DPRD. Mengapa demikian? apakah semuanya demikian? tentunya tidak semua namun karena banyaknya para Anggota DPR/DPRD yang menyalahkan kuasa dan wewenang rakyat yang diberikan saat pemilihan Caleg DPR/DPRD membuat masyarakat mempunyai penilaian tersendiri yang mengeneralkan semua annggota DPR/DPRD pasti berbuat yang sama. Bagi anggota DPR/DPRD yang masih baru, mau tidak mau belajar dari seniornya yang sudah terlebih dahulu menjabat anggota DPR/DPRD, bahkan terkesan wajib mengikutir cara/gaya/kebiasaan dan irama partai yang dimotori oleh senior-senior yang ikut terpilih bersama-sama dengan anggota DPR/DPRD yang baru. Sehingga, ibarat anak kelas 1 SLTA yang baru masuk dan di lakukan orientasi mahasiswa oleh seniornya, beberapa senior yang punya kekuasaan menanamkan juga tentang siapa lawan, siapa kawan, kebiasaan2 yang wajib diikuti dan tidak boleh tidak dilakukan sekalipun itu tidak seirama dengan kehendak hati si murid yang baru karena melanggar peraturan hukum. Dan hal demikian, berlanjut dari tahun ketahun, periode demi periode dan masa demi masa.

Kondisi hal-hal demikian, sangat mudah dibaca oleh masyarakat, baik yang berkingan ingin berbakti kepada Negara ini dengan sungguh-sungguh maupun yang tujuannya lebih mementingkan kepentingan Pribadi, Golongan atau kelompok daripada kepentingan masyarakat yang lebih luas/umum. Berangkali hal demikian pulahlah pertimbangan bagi Pejabat GUbernur/Wakil Gubernur sehingga dengan melihat kelemahan-kelemahan untuk melakukan perubahan yang lebih baik, mau tidak mau harus berani membersihkan kelemahan-kelemahan atau penghambat dari kebijakan perubahan tersebut, bahkan sekalipun harus berhadapan dengan para penguasa diluar sistem tersebut. Keberaniannya melawan penguasa/kekuatan diluar sistem itu sangat didukung oleh masyarakat dan media yang sudah lama menginginkan dan merindukan sosok pemimpin dan pejabat, bahkan sosok yang menjadi wakilnya sebagai pengelola Negara ini melalui seluruh tingkatan yang dapat dilakukannya melalui pemberian hak suara yang dijamin oleh Undang-undang.

Baca Juga :  Pencitraan, So What Gitu Lho!?

Banyaknya wakil-wakil rakyat yang dalam dua dekade ini tersangkut KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), baik muda dan tua, membuktikan bahwa pengaruh-pengaruh perbuatan yang tidak seturut dengan peraturan yang benar dari senior-senior yang sudah merasa berkuasa, merasa sudah berbakti bahkan sudah merasa berkorban untuk negara ini mempengaruhi yang muda bahwa hal demikianlah yang seharusnya diikuti oleh para wakil-wakil rakyat yang masih baru dan muda, sehingga tidak jarang kita lihat dimedia, yang masih mudapun banyak yang menjadi korban dari dampak penegasan pemberantasan KKN baik oleh KPK, maupun pihak Kejaksaan atau Polisi. Terbukanya informasi saat ini membuat kekuataan untuk melakukan perubahan sangat baik dan sangat diperlukan di negara ini untuk memberantas penyalah gunaan wewenang dan hak yang diberikan oleh rakyat melalui pesta Demokrasi untuk memilih wakil-wakil rakyat menjadi wakilnya baik dalam membuat undang-undang, mengawasi eksekutif ataupun fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi pengawasan anggaran.

Salah satu tindakan yang baik dilakukan dalam hal melakukan perubahan dalam menejemen baik untuk organisasi masyarakat dan pemerintahan maupun bidang-bidang tertentu, sering dilakukan dengan cara mengganti orang-orang/sdm yang dianggap menghambat, tidak seirama dengan tujuan atau sdm yang tidak dapat mengikuti penyesuaian arah kebijakan yang hendak dicapai. Dan metode ini menjadi pilihan disaat pemimpin yang baru datang dan sulit menembus sistem dan prosedur yang lama yang tidak dapat melakukan perubahan itu sendiri demi mencapai tujuan yang hendak dicapai. Maka dengan itu, perubahan dengan mengganti orang-orangnya/SDM menjadi salah satu pilihan yang harus ditempuh. Cara ini bukan tidak mempunyai kelemahan, tentunya pasti ada kelemahannya, namun, bila sesuatu hal yang baru hendak dicapai dan sistem yang lama tidak dapat mencapainya maka pilihan SDM yang handal perlu dipilih untuk dapat melakukannya perubahan sistem yang lama yang dianggap merugikan tersebut.

Dalam hal pesta demokrasi ini, hampir semua Partai mempunyai program yang baik yang pro rakyat, pro negara dan pro kesejahteraan yang semuanya mengaitkan dengan Perubahan yang lebih baik. Thema perubahan itu disampaikan dan dimodifikasi dengan berbagai gaya/cara atau metode gaya bahasa sehingga diharapkan dapat menarik perhatian pemegang hak kekuasaan baik yang mengerti maupun tidak mengerti. Pemegang Hak Kekuasan tersebut sangat mengiginkan perubahan khususnya masalah pemberantasan Korupsi, sistem dan peraturan yang dibuat, belum mampan mengurangi korupsi, namun tetap punya harapan peraturan tersebut akan membantu memberantas dan mencegah korupsi tersebut, namun ada satu variabel yang diperlukan membantu memberantas dan mencegah KKN tersebut yang belum maksimal digunakan. Sehingga dengan memamfaatkan variabel tersebut, dapat membantu Varibael yang memberantas dan mencegah korupsi tersebut semakin kuat yaitu melalui pelaku-pelaku yang baik dan belum mengenal sistem lama termasuk pelaku pelaksana Sistem lama yang sudah terkena virus KKN. Variabel tersebut adalah dengan menggunakan Hak Suara melalui Pemilihan Pesta Demokrasi tanggal 9 APril 2014 dengan memilih Calon-Calon Legislatif yang memiliki record yang baik dan belum pernah menjadi Anggota DPR/DPRD. Keunggulan Variabel ini juga harus didukung dengan tidak mengedepankan nama Partai atau nama Organisasinya, melainkan Personal Calon Legislatif yang baik itu yang perlu dilihat dan dipilih, sehingga dia bisa tampil menjadi salah satu wakil yang akan membawa keinginan perubahan masyarakat tersebut di Legislatif, baik tingkat pusat maupun tingkat daerah. Variabel yang dapat membantu perubahan yang saya maksud disini adalah Pemilih yang memilih Calon Legislatif yang belum pernah menjadi Anggota DPR/DPRD selama hidupnya. Bayangkan, jika 99% adalah wakil rakyat yang baru, maka itu akan lebih mudah diawasi dengan ketidak berpengalamannya menyembunyikan yang tidak seturut dengan peraturan, sehingga dengan pengalaman yang minim tersebut diharapkan lebih berpikir logis dan baik yang tidak merugikan dirinya dan keluarganya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang mengandung KKN, bahkan kita harapkan anggota DPR yang terpilih itu bisa menjadi Virus yang baik di kelompoknya / dipartainya dimana dia bernaung. Sehingga perubahan-perubahan selain untuk pemegang hak suara tersebut tercapai, juga berdampak positif untuk perubahan dipartainya /organisasinya untuk ikut seirama memberantas KKN yang dianggap menjadi salah satu penghambat kemajuan seluruh masyarakat. Hanya tidak mudah mengenal caleg yang baru diantara sejumlah caleg tanpa dibarengi dengan Informasi yang diketahui oleh sipemilik suarat. Berbagai media yang ada yang digunakan para caleg membuat pemegang suara terkadang cuek dan tidak mau tau tentang pengenalan upaya-upaya calek memperkenalkan dirinya kemasyarakat, maka dalam hal ini mencapai meminimalkan/memberantas KKN ini, para Pemegang Hak suara yang tidak mengenal mana caleg yang baru, bisa melalui metode memilih Nomor yang paling besar diantara angka atau nomor terakhir dari semua caleg yang ada, walaupun itu belum tentu benar. Namun, metode ini, dapat membantu pemilih mencari caleg yang baru, meningat para Anggota DPR/DPRD atau yang merasa sudah pengalaman/Senior tersebut, umumnya sudah menguasa Urutan nomor paling kecil atau mulai dari nomor 1. Nomor urutan yang perlu dipilih untuk mencari caleg yang baru itu adalah angka paling besar atau nomor urutan dari tengah hingga terakhir.

Baca Juga :  Dampak Tarif Telekomunikasi Yang Murah Terhadap Upaya Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Indonesia

Contohnya dalam kiat-kiat memilih Caleg yang baru, dimana para pemilih tidak mengenal para caleg dan tidak mengetahui mana yang baru mana yang lama, maka dapat dipakai asumsi-asumsi sebagai berikut, Misalkan ada caleg 9 orang Caleg dalam satu partai, maka umumnya nomor kecil sering dikuasai oleh anggota DPR /DPRD yang sudah pernah menduduki wakil rakyat, atau orang yang paling berpengaruh dan banyak duit. Bila dari partai tersebut ada anggota DPR/DPRD yang mencalonkan lagi misalkan 3 orang, maka nomor 1, nomor 2 dan nomor 3, tidak jauh-jauh lagi dari mereka. Pada umumnya nomor 1, 2 3 pasti dikuasai mereka kecuali ada pengaruh yang lebih kuat ditubuh partai, makai nomor itu bisa dimiliki oleh caleg yang baru yang punya kekuatan lebih dari Anggota DPR/DPRD yang sudah menjabat. Maka, dapat dipastikan nomor urut dalam partai tersebut mulai nomor urut 4, 5, 6, 7, 8 hingga 9 adalah pasti para Caleg yang masih baru dan kekuatannya tidak sekuat yang mempunyai nomor urut 1 sampai 3 tersebut.

Maka bila hendak mencari calon legislatif yang baru yang diharapkan dapat membawa sistem perubahan yang lebih baik dari yang sudah ada, maka sebaiknya pilih salah satu dari nomor 4 hingga nomor 9, sehingga secara alamiah sudah menutup kemungkinan untuk para anggota DPR / DPRD yang dianggap bermasalah tersebut untuk hadir kembali di Dewan Legislatif sebagai wakil rakyat yang menyalahgunakan wewenang dan kuasa rakyat tersebut. Lantas, apakah ada jaminan bagi CALEG yang baru untuk tidak berbuat hal yang sama dengan yang caleg yang sudah pernah menduduki kursi dewan tersebut? tentunya belum tentu, namun dengan hal-hal yang baru dan wakil yang baru, diharapkan caleg yang baru terpilih tersebut masih memiliki niat dan karakter yang baik untuk berbakti kepada Nusa dan Bangsa ini. Sehingga dengan kehadiran wakil rakyat yang baru melalui fungsi wakil rakyat yang dipilih nanti tanggal 9 April 2014 seturut dengan peraturan yang ada untuk membangun Negeri ini kearah yang lebih baik.

Terakhir, sebagai ilustrasi…..kita sebagai pemilik dan pemegang kekuasaan Hak suara, punya beban moral untuk menggunakan hak suara itu pada saat Pesta Demokrasi tanggal 9 April 2014 membantu membangun negara ini melalui wakil-wakil rakyat yang menurut kata hati anda sebagai pemilih. Jauhkan hal-hal tidak memamfaatkan hak suara tersebut, sebab tidak menggunakan hak suara tersebut, tidak semerta anda menyebut kesalahan-kesalahan wakil rakyat selama ini, bukan salah saya karena saya tidak ikut memilih. Bayangkan kalau ada 20 orang yang mempunyai hak suara, dan disampaikan pemenang harus mendapat lebih besar dari 50 % persen lebih suara. Dan Caleg yang sudah anda ketahui banyak melakukan KKN selama menjadi wakil rakyat, dan caleg tersebut dengan kepiawainya dan pengalaman menguasai pemikiran pemilih, sudah menguasai 8 Suara. Lalu, anda merasa tidak ada gunanya memilih karena anda merasa hasilnya juga nanti pasti sama kelakuannya setelah terpilih atau tetap KKN, lantas anda tidak menggunakan hak suara anda dan mengajak bersama-sama 5 teman anda yang juga sepemikiran dengan anda. Maka dengan tidak menggunakan hak suara anda, maka dapat dipastikan caleg tersebut pasti dapat memenangkan perebutan kursi itu, karena dengan anda dan 5 tidak memamfaatkan hak suarat maka sisa suara hanya 7 orang yang hendak mengganti wakil rakyat yang sudah KKN tersebut. Apa daya kekuatan 7 orang sehingga mau tidak mau, jika anda masih tetap dalam sistem kelompok tersebut, maka anda dan 5 teman anda yang tidak menggunakan hak suara tersebut, akan menerima dampak dari terpilihnya Caleg yang menurut anda sudah tidak benar itu. Sehingga dapat dipastikan, dengan tidak memamfaatkan Hak Suara anda, maka anda dan 5 teman anda, dapat dikatakan secara tidak langsung telah menjadi ikut mendukung memilih Caleg yang banyak melakukan KKN tersebut. Padahal anda benci dengan perbuatan KKN yang dilakukannya selama duduk menjadi wakil rakyat di kursi Dewan terhormat yang sudah diatur melalui peraturan di Negara ini. Untuk itu, gunakanlah hak suara dengan benar dan tidak perlu ragu dan merasa bersalah jika seandainya nanti, yang anda pilih itu melakukan tindakan yang tidak seturut dengan keinginan anda atau melanggar peraturan. Selamat Memilih…..

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*