Pemkab Madina Diminta Tingkatkan Mutu Pertanian

Senin, 11 Januari 2010 – www.metrosiantar.com

MADINA-METRO; Masyarakat, khusunya yang bermata pencaharian sebagai petani berharap kepada Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), agar meningkatkan mutu pertanian di bumi Gordang Sambilan ini. Pasalnya, masyarakat menilai hasil dan mutu pertanian semakin tahun semakin menurun.

Seperti yang disampaikan petani di Desa Manyabar, Kecamatan Siabu, Kabupaten Madina, Ikhlsan (25). Menurutnya, produksi petani turun akibat hama tanaam, dan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi.

Dijelaskannya, di desanya pupuk sangat langka termasuk pupuk urea dan menilai kalau kelangkaan pupuk ini salah satu penyebab menurunnya mutu juga hasil pertanian masyarakat petani.

“Kami sangat berharap kepada pemerintah untuk memberikan solusi atas kondisi pertanian yang ada di desa kami, dan mungkin kondisi ini juga dirasakan warga desa lain,” kata Ikhsan kepada METRO Minggu (10/1).

Ia menambahkan, menurunnya hasil pertanian, membuat warga mengambil inisiatif dengan mengganti lahan pertanian menjadi kolam ikan. “Menurunnya hasil tani kami akhir-akhir ini membuat masyarakat mengganti lahan tani mereka dengan penangkaran ikan atau kolam ikan,” tambahnya.

Begitu juga dikatakan Sahman (27) warga Desa Lumban Dolok, Kecamatan Siabu, bahwa dirinya sudah lama tidak lagi bertani. “Dulu saya bekerja sebagai petani, tetapi karena sulitnya hasil tani sekarang saya beralih menjadi tukang becak meskipun hanya becak dayung tetapi hasilnya saya rasa lebih bagus. Begitu juga saya lihat warga yang lain. Saat ini warga Desa Lumban Dolok banyak yang memilih marengge-marengge atau jualan di pasar daripada bekerja sebagai petani,” terangnya.

Baca Juga :  APBD Tapsel 2016 Direncanakan Rp1,3 Triliun

Sementara itu, H Bahri Efendi, anggota DPRD Kabupaten Madina, mengatakan, kondisi ini sangat memperihatinkan. Pasalnya, masyarakat Madina yang mayoritas bekerja sebagai petani harus kehilangan hasil tani gemilang sebelumnya. Ssemisal di desa Tangga Bosi Kecamatan Siabu yang dikenal selama ini sebagai lumbung padi bukan saja di Madina tetapi juga Tapsel karena pada saat itu masih Kabupaten Tapsel (sebelum di mekarkan, red). Tetapi, akibat kondisi alam distribusi obat-obatan yang kurang hasil itu juga semakin menurun, dan logo lumbung padi itu sudah hilang.

“Ini sudah semestinya menjadi perhatian bagi pemerintah juga masyarakat, karena hasil pertanian dari Madina selama ini sangat populer begitu juga mutunya cukup memuaskan,” sebutnya.

Dirinya juga berharap kepada balon bupati Madina yang telah banyak muncul saat ini meskipun belum diputuskan KPU siapa yang maju sebagai calon benar-benarlah mengetahui kondisi alam dan hasil bumi yang ada di Kabupaten Madina dan berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat semisal petani semestinya diarahkan bagaimana bercocok tanam yang baik.

Karena selama ini, terang Bahri para masyarakat bertani dengan cara yang masih tradisional. “Siapapun nantinya yang jadi pemimpin Madina berikutnya harus benar-benar paham kondisi masyarakat Madina, buat apa pembangunan terus berjalan kalau masyarakatnya tidak bisa sejahtera, kesejahteraan rakyat suatu daerah adalah keberhasilan bagi pemerintah,” tambahnya mengakhiri. (mag-02)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Irfan Bachdim Pun Diklaim Malaysia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*