Pemukul Wasit LPI Terancam Hukuman Berat

Tindakan brutal defender Semarang United, Simon Kujiro, yang melakukan pemukulan terhadap wasit Rusdiansyah dalam pertandingan melawan tuan rumah Bogor Raya pada Minggu (23/1/2011) lalu, tergolong pelanggaran berat. Oleh karena itu, Komisi Disiplin Liga Primer Indonesia (LPI) mengancam akan menjatuhkan sanksi berat kepada Simon.

“Simon telah melakukan pelanggaran berat. Dia melakukan pemukulan terhadap wasit yang dianggap oleh Simon memberikan keputusan tidak fair. Bagaimanapun, tindakan Simon itu tak dapat dibenarkan. Di atas lapangan, wasit itu seorang hakim yang keputusannya harus dijunjung tinggi oleh seluruh pemain dan ofisial tim,” tegas Ketua Komdis, Muhammad Sholeh, kepada para wartawan di kantor LPI, Jumat (28/1/2011).

Insiden pemukulan itu berawal dari keputusan wasit memberikan kartu merah kepada Simon pada menit ke-70. Pemain asal Papua itu langsung emosi dan melayangkan pukulan kepada wasit. Tindakan Simon sempat membuat pendukung Bogor Raya terprovokasi. Pendukung tuan rumah melempar botol saat Simon berjalan ke luar lapangan.

Secara tidak langsung, “Insiden Bogor” itu menjadi tugas perdana bagi Komdis LPI yang baru terbentuk. Namun, tim yang terdiri dari Hengky Widodo (Wakil Ketua Komdis), Rafli A Razak (Anggota), Edi Prayitno (Anggota), dan Sumohadi Marsis (Anggota) itu belum bisa menetapkan hukuman. Sebab, kata Sholeh, pihaknya masih menunggu penjelasan Simon, Semarang United, dan perangkat pertandingan.

“Kami berjanji akan mengumumkan hukuman bagi Simon pada 8 Februari mendatang,” tukas Sholeh.

Baca Juga :  Haruskah Tapsel di Pimpin Putra Asli Daerah ?

Lebih lanjut, Sholeh mengatakan, Simon bisa melakukan banding bila keberatan dengan sanksi yang akan dijatuhkan nanti. “Hukuman yang akan dijatuhkan Komdis dipastikan akan setimpal dengan pelanggaran berat yang dilakukan oleh Simon. Hukuman ini juga punya efek jera kepada para pemain lain. Namun, Simon dan klubnya bisa banding. Kami memberikan waktu kepada mereka untuk banding hingga 22 Februari nanti,” bebernya.

Terlepas dari hal itu, Sholeh berharap “Insiden Bogor” menjadi yang pertama dan terakhir. Menurutnya, kejadian ini menjadi pelajaran buat para pemain, wasit, dan ofisial tim supaya tetap menjunjung tinggi sportivitas dan menegakkan fair play di setiap pertandingan LPI. (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*