Penambang Liar Marak di Madina

Illustrasi

Tambang liar jenis emas marak terjadi di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang meliputi Kecamatan Kotanopan, Muarasipongi, Batang Natal, Linggabayu dan Hutabargot.

Selain di Kecamatan Batang Natal, tambang liar paling marak berada di Desa Hutajulu, Kecamatan Hutabargot yang sudah beroperasi sejak tujuh bulan lalu. Informasi di lapangan, penambang liar di wilayah itu mencapai ribuan yang datang dari berbagai kecamatan di Madina.

Bahkan, penambang liar datang dari luar kabupaten, bahkan provinsi dengan dana sendiri, patungan, dan ada yang didanai orang tertentu dengan sistem bagi hasil. Penduduk setempat dulunya mengandalkan hasil kebun dan sawah, sekarang beralih jadi penambang liar.

Warga tidak punya modal tetap bisa menikmati hasil tambang dengan memposisikan diri sebaga tukang langsir batu dari lokasi tambang hingga ke tempat galundung atau  alat penghancur batu dan pemisah emas dari batu dan campuran lainnya.

Metode para perkerja penambang liar sangat berbahaya. Dengan menggali lubang seukuran tubuh, para penambang liar masuk merayap ke dalam tanah sambil melakukan pemahatan batu mengandung emas.

Lubang yang mereka gali saat ini diperkirakan mencapai kedalaman 5 samnpai 25 meter. Berbahaya, namun mereka terlihat pasrah walaupun nyawa jadi taruhan.

Kabid Pertambangan dan Energi Madina Monang, menjelaskan pihaknya  telah memperingati langsung tentang bahaya tambang liar pada masyarakat. “Kita sudah maksimal mengingatkan warga, namun tetap saja tidak menghiraukan, dengan alasan sesuap nasi,” ucap Monang, sore ini.

Baca Juga :  Awas Lubang di Jalinsum Sipirok

Kakan Satpol PP, Nurkholis, selaku pengawas pelaksanaan penggalian PAD Madina, mengatakan pihaknya hanya lembaga teknis. Namun dalam waktu dekat pihaknya segera meminta masukan dari bidang pertambangan dalam melakukan pengawasan penambang liar, yang dananya tidak lagi ditampung dalam APBD 2011.

Pada 2009, Satpol PP Madina pernah melakukan penertiban penambang liar di kawasan Kelurahan Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu. Namun penertiban tersebut mendapat perlawanan keras dari masyarakat, sehingga belasan anggota Satpol PP saat itu lari ke dalam hutan menyelamatkan diri. (waspada.co.id)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*