Pencitraan, So What Gitu Lho!?

Oleh : Harry Bawono *)

Jakarta – Pemilu baru akan digelar pada April dan Juli 2014 mendatang. Namun, semarak iklan dan spanduk calon anggota legislatif serta calon presiden sudah memekakkan mata. Muak dibuatnya?

Iklan televisi maupun spanduk-spanduk dan media lainnya menjadi sarana bagi para calon itu untuk mempopulerkan dirinya. Tidak saja mengiklankan diri melalui berbagai media cetak dan elektronik, tidak sedikit mereka yang blusukan ke pasar-pasar dan ke tempat-tempat yang identik dengan rakyat kebanyakan.

Makan di warteg, naik ojek, belanja di pasar tradisional, memberi sumbangan sana-sana dan sebagainya itu. Kritik tajam pun dilontarkan, para pengamat melihat bahwa tindak-tanduk tersebut tak lebih dari sebuah pencitraan semata.

Bagi penulis, pencitraan sebagai kata kritik pada dasarnya perlu dikaji ulang. Pencitraan pada dasarnya bagian yang tak terpisah dari kehidupan sosial.

Setiap manusia selama dia terlibat dalam kehidupan sosial adalah makhluk pencitraan dan tidak bisa tidak lepas dari apa yang disebut pencitraan itu.

Pencitraan: Tinjauan Teori Dramaturgi

Pencitraan dapatlah didefinisikan sebagai sebuah gambaran atau persepsi seseorang atau banyak orang terhadap pribadi maupun nonpribadi berkaitan dengan tampilan atau perilaku pribadi maupun non pribadi dalam kondisi tertentu (psikologi2009.wordpress.com).

Merujuk kepada teori dramaturgi Erving Goffman, dengan menganalogikan dunia teater, dijelaskan bahwa saat berinteraksi, aktor memainkan ‘manajemen pengaruh’ dimana aktor ingin menampilkan perasaan diri dapat diterima oleh orang lain.

Baca Juga :  Republik Tanpa Pahlawan

Dalam proses ini, aktor berharap perasaan diri yang mereka tampilkan kepada audien akan cukup kuat memengaruhi audien dalam menetapkan aktor sebagai aktor yang dibutuhkan. Aktor pun berharap ini akan menyebabkan audien bertindak secara sengaja seperti yang diinginkan aktor dari mereka.

Manajemen pengaruh ini merupakan teknik yang digunakan aktor untuk mempertahankan kesan tertentu dalam menghadapi masalah yang mereka hadapi dan metode yang mereka gunakan untuk mengatasi masalah ini. (George Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2004. Hlm: 298)

Kehidupan aktor ini selalu berada pada dua lapis kehidupan, front stage dan back stage. Front stage ibarat panggung bagian depan tempat aktor yang berhadapan dengan khalayak. Pada front stage inilah aktor mencoba menyampaikan kesan bahwa mereka adalah individu atau sekelompok yang lebih baik di depan audien.

Di front stage ini pula umumnya aktor mencoba mempertunjukkan gambaran idealis mengenai diri mereka sendiri di depan umum, disini pulalah aktor secara otomatis menyembunyikan hal-hal yang dirasa mampu mengancam citra idealis diri mereka.

Sedangkan, back stage ibarat panggung belakang dimana segala hal yang disembunyikan di depan dan yang informal muncul. Back stage dapatlah dikatakan sebagai kehidupan pribadi dimana ekpresi yang tidak timbul pada front stage dapat secara bebas diluapkan. (ibid, hlm: 301)

Dari sini bisa dilihat bagaimana pencitraan sudah menjadi bagian yang inheren tak terpisahkan dari kehidupan seorang manusia. Maka manusia tanpa pencitraan tidak menemukan fakta sosiologisnya.

Baca Juga :  Pemimpin Ragu Rakyat Pilu

Manusia sebagai Makhluk Pencitraan

Dari uraian teoritik tersebut, bisa disimpulkan bahwa manusia sejatinya merupakan makhluk haus citra yang memang secara instingtif dikonstruksi secara sosial untuk terus menerus membangun citra dirinya di hadapan khalayak.

Maka konsep pencitraan yang selama ini digunakan dengan makna negatif pada dasarnya tidak relevan. Apakah pihak yang mengkritik kelakuan pihak lain sebagai pencitraan, benar-benar hidup tanpa pencitraan? jelas tidak.

Selama anda hidup dalam lingkup kehidupan sosial, pencitraan adalah tindakan otomatis yang dilakukan selaku manusia.

Yang menjadi persoalan justru bukan dipencitraannya melainkan motif dibalik dan tujuan pencitraan itu dilakukan. Motif eksploitasi dan memperdaya dengan tujuan memperalat dan menipu pihak lain demi keuntungan pribadi semata, itulah yang menjadi permasalahan.

Penulis percaya, khalayak sudah cerdas sehingga mampu membedakan mana pencitraan yang lumrah atau pencitraan yang manipulatif dan bersifat eksploitatif. Jadi, intinya pencitraan itu adalah suatu kewajaran. Pencitraan, so what gitu lho?!

*Penulis adalah Peneliti di Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sistem Kearsipan (Pusjibang Siskar)

Harry Bawono
Jl. Ampera Raya, Jakarta Selatan
feuerbaw@gmail.com
08567561606

Sumber: detik.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*