Pendidikan di Tapsel Perlu Pembenahan Dengan Pemerataan Guru

TAPSEL-Sistem pendidikan di Tapsel masih kalah dengan daerah lain atau belum mengalami kemajuan yang signifikan. Masih diperlukan langkah-langkah radikal dan kongkrit untuk memajukannya, yang salahsatunya adalah melakukan pemerataan guru.

Hal ini ditegaskan Direktur Education Empowerment Institut (EEI), Habibillah Pohan, Minggu (7/8). Dia menegaskan, salah satu kebijakan yang mendesak untuk memajukan pendidikan Tapsel adalah segera melakukan pemerataan guru di Tapsel seperti janji Bupati, Syahrul M Pasaribu bulan Mei lalu.

“Pertama, kami belum melihat adanya gerakan dari pemerintah ataupun Disdik untuk segera melakukan pemerataan guru. Bagaimana mungkin generasi cerdas kalau jumlah gurunya saja tidak memadai, siapa yang mengajar mereka,” katanya.
Kedua kata Pohan adalah dengan adanya seorang kepala sekolah yang memiliki komitmen kerja (good commitment), kemampuan kepemimpinan (ledearship skill)  yang baik, kemampuan akademik (academic skill)  yang baik dan hal tersebut hanya terwujud bila kepala sekolah yang diangkat lahir dari proses seleksi yang ketat.

“Kami mengharapkan, untuk menjadi kepala sekolah, harus ada mekanisme dan seleksi tersendiri yang secara langsung dapat dimonitoring oleh masyarakat. Namun bila kepala sekolah ‘ditunjuk’ tanpa ada seleksi, kemungkin besar, kepala sekolah tersebut tidak memiliki kemampuan manajerial dan komitmen yang baik untuk memajukan sekolah yang dipimpinnya,” ucapnya.

Ketiga kata Pohan, karena pendidikan merupakan pekerjaan besar, bupati harus memiliki seorang nakhoda pendidikan yang mengerti seluk beluk dan dinamika pendidikan, target dan goal pendidikan, yang terpenting seorang nakhoda  yang memiliki komitmen luar biasa dibidang pendidikan. Bila Disdik Tapsel diibaratkan sebuah kapal besar, maka seorang nakhoda Disdik haruslah seseorang yang memenuhi kriteria diatas.

Baca Juga :  Gerah Dibohongi, Warga Luat Pinarik Datangi PT. PHS Kebun Papaso

“Kami percaya, Bupati dan Wakil Bupati Tapsel, Syahrul M Pasaribu dan Aldinz Rapollo Siregar memiliki komitmen memajukan pendidikan Tapsel,” tegasnya. Dibulan Juli 2011 lalu, EEI melakukan survey di 10 sekolah dasar, dengan jumlah responden sebanyak 500 siswa SD. Ditemukan fakta bahwa siswa SD yang mampu Matematika dasar bidang perkalian sebanyak 30 Persen, pengurangan 49 persen, perkalian 59 persen dan penjumlahan 84 persen. “Ini tentu menjadi masukan, namun bisa menjadi masalah bila tidak ada tindak lanjut untuk melakukan perubahan,” tuturnya.
Dijelaskannya bahwa satu hal yang perlu dimaksimalkan kedepan adalah monitoring dan pengawasan langsung dari pihak Disdik, khususnya memaksimalkan kerja kinerja pengawas sekolah.

“Bila perlu, pengawas juga harus ada seleksinya, Disdik Tapsel harus membuang jauh-jauh image bahwa menjadi pengawas sekolah adalah tugas menjelang pensiun. Kami melihat beberapa kabupaten di Sumut seperti di kabupaten Deli Serdang misalnya, 80 persen pengawas sekolah adalah mereka yang berusia muda dengan masa pensiun yang masih lama. Pemkab diharap tidak sungkan belajar dari beberapa kabupaten lain bila hal tersebut bernilai positif,” sarannya.  (phn/mer)

metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*