Penegakan Hukum Lemah, Koruptor Tak Jera

Mantan Deputi Gubernur BI Aulia Pohan (kanan) saat sidang lanjutan kasus aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia senilai Rp 100 miliar di pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (21/4). TEMPO/Adri Irianto

Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada menilai penegakan hukum antikorupsi yang lemah dinilai sebagai penyebab para koruptor tak jera melakukan aksinya. ditambah Pemerintah rajin mengobral remisi sehingga koruptor dengan mudah bebas. “Kekuasaan peradilannya tidak terlalu kuat memvonis koruptor, selain itu  pemerintahnya juga rajin memberikan remisi,” kata Direktur Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar kepada Tempo lewat sambungan telepon, Jum’at (20/8).

Hal ini berlaku bagi pembebasan bersyarat terhadap empat bekas Deputi Gubernur Bank Indonesia, yaitu Aulia Pohan, Maman Sumantri, Bunbunan Hutapea, dan Aslim Tadjuddin. Zainal menilai wajar jika Aulia Pohan cs. bisa diberikan pembebasan bersyarat. “Pembebasan bersyarat kan turunan dari proses remisi,” ujarnya. “Kemungkinan pembebasan bersyarat bagi Aulia dkk. memang ada.”

Menurut Zainal, Mahkamah Agung juga dinilainya sangat mudah memberikan kasasi bagi para pelaku korupsi. Untuk kasus Aulia saja, dari masa hukuman 4,5 tahun, dia diberi potongan hukuman menjadi tiga  tahun di tingkat kasasi MA. “Ditambah adanya remisi yang mudah dari pemerintah, ya akhirnya memang cepat keluar.”

Lemahnya pemberian vonis terhadap para koruptor ini dapat dilihat dari sedikitnya vonis yang dijatuhkan peradilan kepada mereka. Berdasarkan penelitian Pukat, kata Zainal, vonis bagi para koruptor di Indonesia rata-rata hanya selama 4,5 tahun.

SUmber: http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/08/20/brk,20100820-272808,id.html

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  KPK..., Dulu Cicak, Kini Kura-kura

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*