Penentuan Akhir Cagubsu Permainan Elit Politik

Medan , Pengumuman calon Gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) dari partai politik yang ditentukan di saat-saat terakhir merupakan bentuk permainan elit politik untuk memastikan terpenuhinya berbagai kepentingan yang diinginkan.

Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Dadang Darmawan di Medan, Minggu, mengatakan, fenomena itu merupakan preseden yang tidak baik karena hanya memperhatikan kepentingan jangka pendek dari elit politik.

“Tidak ada setting ideologi di sana, yang ada hanya kepentingan jangka pendek,” katanya terkait banyaknya parpol yang belum menentukan cagub di Sumut.

Menurut dia, kuatnya permainan dan kepentingan elit politik dalam penentuan cagub tersebut dapat dilihat dari sistem sentralisasi yang terus diterapkan hampir seluruh parpol di tanah air. Hal itu disebabkan hampir seluruh unsur pimpinan parpol di tingkat pusat memiliki kepentingan terhadap sosok yang akan menjadi pemimpin di provinsi tersebut.

Penundaan dalam penetapan cagub itu juga bagian dari proses menunggu kepastian tentang manfaat yang akan diterima dari sosok yang akan didukung sebagai cagub tersebut.

Selain sejumlah akses dan kemudahan yang akan didapatkan, pimpinan parpol tersebut juga diperkirakan masih menanti kepastian mengenai fasilitas lain seperti uang dari calon itu. “Saya kira, mereka juga ingin mendapatkan sesuatu, termasuk uang untuk menggerakkan mesin partai,” katanya.

Karena itu, perlu dilakukan lobi-lobi tingkat atas agar seseorang mendapatkan “restu” dari pimpinan parpol tingkat pusat untuk diusung menjadi cagub, termasuk di Sumut.

Baca Juga :  Belum Laporkan Kekayaan ke KPU - Panwas Simalungun Curigai 5 Cabup

“Jadi, ini hanya pesta elit (politik), bukan pesta rakyat,” kata mantan Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumut itu. Ia menambahkan, untuk “mempermanis” permainan tersebut, tidak jarang parpol tersebut menggunakan cara survei dalam menentukan sosok yang akan didukung sebagai cagub.

Jika berbagai kepentingan tersebut tidak didapatkan dari seseorang yang meminta dukungan sebagai cagub, maka parpol dapat menggunakan hasil survei sebagai “tameng” untuk meninggalkannya dan memilih nama lain yang lebih menjanjikan. “Jadi, survei itu hanya ‘lips service’ saja,” katanya. (ANTara)

Sumber: http://harianandalas.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*