Penenun Silungkang di Paranjulu Sipirok Mampu Hasilkan Rp5 Juta per Bulan

Kamis, 28 Januari 2010 – www.metrosiantar.com

SIPIROK-METRO; Penenun Silungkang di Desa Paranjulu, Sipirok, Tapanuli Selatan mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp4-5 juta perbulannya. Hal itu disampaikan Koordinator Pertenunan Silungkang di Desa Paranjulu Rimma Lubis (32), ketika ditemui METRO di tempat kerjanya, kemarin.

Dia mengatakan, minat warga desa untuk menenun silungkan cukup tinggi. Namun akibat alat tenun bukan mesin (ATBM) terbatas jadi tidak mungkin keseluruhan minat warga dapat ditampung.

“Minat remaja dan ibu ibu di Desa Paranjulu dinilai cukup tinggi untuk menekuni hari dengan menenun Silungkang. Sebab, dari sekian banyak perempuan yang ada di desa tersebut, nyaris sebagian besar melakukan kegiatan yang sama setiap harinya,” ujarnya.

Menurutnya, secara pribadi sangat senang menekuni pertenunan tersebut. Pasalnya, usaha yang sudah ditekuni selama 5 tahun terakhir ini, bisa menjadi tambahan penghasilan di luar pendapatan suami. Ibu dua anak ini mengaku, bisa berpenghasilan hingga Rp4-Rp5 juta per bulan. “Kira kira 4 sampai 5 juta rupiah, sedangkan teman-teman lainnya yang baru menekuni tenun sekitar 1 tahun terakhir sudah bisa berpenghasilan Rp1,5 juta per bulan,” ujarnya.

Penghasilan Rp4 juta hingga Rp5 juta dapat diraih, lanjutnya jika perajin sudah mampu dan sanggup menenun benang jenis sutra. Tingkat kesulitan dan beban tanggung jawab jelas ada semisal jika hasil tenun tidak bagus tentu kain tidak akan laku di pasaran.

“Khusus untuk benang sutra, karena harga bahan dasarnya cukup mahal, tentu yang bertenun kain sutra pun, belum tentu smua penenun jenis benang polster bisa ” katanya. (amr)

Melihat Kehidupan Penenun Silungkang di Desa Paranjulu
Kamis, 28 Januari 2010

Belajar Tenun Selama 5 Tahun Antarkan Diri Berpenghasilan Rp5 Juta per Bulan
Minat remaja dan ibu ibu di Desa Paranjulu dinilai cukup tinggi untuk menekuni hari dengan menenun silungkang. Sebab, dari sekian banyak perempuan yang ada di desa tersebut, nyaris sebagian besar melakukan kegiatan yang sama setiap harinya.

AMRAN POHAN-SIPIROK

Koordinator Pertenunan Silungkang di Desa Paranjulu Rimma Lubis (32), ketika ditemui METRO di tempat kerjanya, mengatakan, minat warga desa untuk menenun silungkan cukup tinggi. Namun akibat alat tenun bukan mesin (ATBM) terbatas jadi tidak mungkin keseluruhan minat warga dapat ditampung.

Dikatakannya, secara pribadi sangat senang menekuni pertenunan tersebut. Pasalnya, usaha yang sudah ditekuni selama 5 tahun terakhir ini, bisa menjadi tambahan penghasilan di luar pendapatan suami.

Ibu anak duan ini mengaku, bisa berpenghasilan hingga 4 sampai 5 juta per bulan. “Kira kira 4 sampai 5 juta, sedangkan teman-teman lainnya yang baru menekuni tenun sekitar 1 tahun terakhir sudah bisa berpenghasilan 1,5 juta per bulan,” ujarnya.

Pengahilan 4 hingga 5 juta dapat diraih, terangnya, jika perajin sudah mampu dan sanggup menenun benang jenis sutra. Tingkat kesulitan dan beban tanggung jawab jelas ada semisal jika hasil tenun tidak bagus tentu kain tidak akan laku di pasaran.

“Khusus untuk benang sutra, karena harga bahan dasarnya cukup mahal, tentu yang bertenun kain sutra pun, belum tentu smua penenun jenis benang polster bisa ” katanya.

Sementara salah seorang penenun Enni Pasaribu (20), mengatakan hal yang senada. Menjadi penenun kain silungkang, katanya, jauh lebih nyaman daripada menenun dedokan.

“Saya bisa menyelesaikan 2,5 meter per hari dengan upah per meternya, khusus untuk bahan poloster Rp20 ribu , sedangkan ketika menjadi penenun dedokan hasilnya hanya Rp120 ribu per minggu, jelas hasil nya jauh berbeda,” tukasnya

Sementar Rosna siregar (25) yang baru sebulan belajar menenun mengatakan, menekuni tenun silungkang karena tidak memiliki pekerjaan. “Saya belum punya pekerjaan, siapa tahu saya bisa mahir menenun,” harapnya. (***)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

5 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*