Pengakuan 3 Polisi Malaysia yang Perkosa TKW, KBRI: Mana Ada Maling Ngaku

Kuala Lumpur – Minister Consellor KBRI Kuala Lumpur Suryana Sastradireja mengatakan bahwa pernyataan tiga polisi Malaysia yang mengaku tidak bersalah dalam kasus perkosaan TKW Indonesia dianggap wajar, karena pelaku pemerkosaan dapat melakukan pembelaan diri.

“Maling kan enggak pernah ada yang mau ngaku. Yang namanya pelaku itu kan memang biasanya tidak pernah ngaku. Apalagi sekarang baru mendengarkan kesaksian dari salah satu pihak,” ujarnya saat dihubungi detikcom, Jumat (16/11/2012).

Menurutnya, pengakuan korban pada sidang 12 Desember nanti akan menjelaskan perkara yang sebenarnya sehingga dapat memberikan pencerahan terhadap kasus yang sedang bergulir.

“Proses hukum sekarang masih berjalan. Ini kan baru yang pertama, jadi masih berjalan, dan nanti tanggal 12 Desember akan didengarkan kesaksian dari kedua belah pihak,” ujarnya.

Sementara itu terkait tindakan media Malaysia yang membeberkan nama korban sehingga dinilai tidak etis, belum mendapatkan tanggapan dari Pemerintah Malaysia. Menurut Suryana, hal tersebut sangat disayangkan dan menyinggung pemerintah Indonesia.

“Sampai sekarang belum ada reaksi dari Malaysia, jadi kami tersinggung ya, karena tidak ada reaksi dari pemerintah Malaysia. Makanya sekarang kami protes sekali kepada pemerintah Malaysia dan media Malaysia karena belum ada pernyataan sampai sekarang,” ujarnya. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Alasan Turki Tak Sudi Minta Maaf Telah Tembak Jet Rusia

2 Komentar

  1. Hukum pidana itukan tidak mengejar pengakuan,,,,
    yang terpenting bagaimana pakta dan data serta bukti-bukti yang di ajukan, sehingga akan membuat terang suatu perkara tersebut.
    Tugas utama pemerintah Indonesia sekarang adalah bagaimana mengawasi proses hukum ini berjalan scara tranparan,, sebab kalau tidak di awasi, tidak ada jaminan pelaku akan di proses sesuai dengan hukum yang berlaku di negara Malaysia tersebut, hal ini perlu mengingat betapa rentannya hubungan kedua negara tersebut..

    Kemudian masalah penyebutan nama si korban di media massa malaysia,,,
    mungkin saja etika pers disana sangat kurang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*