Pengakuan Warga yang Sempat Diamankan di Lahan PT SM: Kami Diikat Lima Jam Tanpa Baju

[Foto: Ist]
180-an warga Nagajuang diikat tangan tanpa baju oleh polisi di lokasi PT Sorikmas Mining pada hari Jumat kemarin.MADINA – AK Lubis (40), warga Kecamatan Nagajuang yang sempat diamankan kepolisian di lokasi tambang PT Sorikmas Mining pada Jumat (22/3) lalu mengaku diikat selama lima jam tanpa mengenakan baju.

“Saat itu kami ada sekitar 180-an yang diikat selama lima jam tanpa mengenakan baju,” ujar kepada METRO, Senin (25/3). Ia menjelaskan, awalnya ada sekitar 200 masyarakat berangkat menuju lokasi PT Sorikmas Mining (PT SM) pada hari Kamis siang sekitar pukul 12.00 wib dan tiba pada Kamis sore.

Lalu mereka mulai memasuki lahan yang dianggap milik warga tersebut tanpa ada sedikitpun larangan dari pihak kepolisian. Bahkan pada malam harinya masyarakat yang naik itu masih sempat menghabiskan malam bersama aparat Polres Madina dan personel Brimob di lokasi.

“Pagi harinya kami kembali memasuki wilayah PT SM yang kami ketahui itu adalah lahan perkebunan kami. Sekitar pukul 08.30 WIB saat warga memasuki lahan itu mendapat larangan dari petugas Polres Madina dan Satpam di lokasi itu, namun kami tetap masuk. Disitulah petugas meletuskan suara tembakan ke atas,” katanya.

Meski demikian, tidak memudarkan semangat warga untuk memasuki wilayah lahan itu dan berusaha menerobos pagar yang diamankan ratusan personel polisi. “Sekitar pukul 10.30 wib terjadi aksi saling dorong.

Baca Juga :  Musim Hujan, Aek Latong Berlumpur, Ratusan Kendaraan Antre

Disitulah salah seorang komandan memerintahkan anggotanya agar kami didorong dan ditendang. Saat itu kami kucar-kacir dan teman-teman yang lain sudah tumbang karena ditendangi. Hanya hitungan menit saja kami semua sudah tidak kuat lagi menghadapi aparat kepolisian yang bersenjata lengkap itu.

Karena bukan hanya ditendang dengan kaki, tetapi juga ditunjang menggunakan senjata. Saat kami semua sudah tumbang. Kami disuruh telentang dan semua baju dibuka, lalu datang petugas mengikati tangan kami semua. Kami disuruh tidak bergerak dan tetap pada posisi telentang,” beber Lubis.

Diceritakan Lubis, mulai pagi hingga mereka diikat polisi selama lima jam. Selama itu juga dia bersama 180-an orang temannya yang lain tidak makan, hingga sekitar pukul 16.00 wib pengikat tangan mereka dilepas.

“Dan tak lama kemudian baru datang nasi bungkus. Disitulah kami baru makan seharian. Setelah selesai makan, kami diizinkan pulang. Setibanya di desa Jambur Padang Matinggi baru kami tahu jalan lintas negara sudah diblokir ribuan massa sejak pukul 14.00 wib dan tidak dibuka sebelum kami semua pulang dengan selamat,” tambahnya.

Pantauan METRO pada Jumat (22/3) lalu, sekitar pukul 14.00 wib, jalan lintas Sumatera sudah lumpuh karena masyarakat se Kecamatan Nagajuang dan warga desa dan kecamatan lain ikut membantu pemblokiran jalan. Di tengah jalan negara itu didirikan tenda besar dan tikar. Masyarakat juga membakar ban dan kayu di tengah jalan.

Baca Juga :  Walikota Dan Sekda Gagal Mengayomi Pemko Padangsidimpuan

Saat itu polisi berupaya membubarkan pemblokiran jalan itu, tetapi tidak berhasil dan masyarakat mengaku tidak akan membuka jalan sebelum semua warga mereka yang diamankan di lokasi PT SM dipulangkan dengan selamat.

Jalinsum pun bisa dilalui sekitar pukul 20.30 wib, setelah semua warga yang diamankan  dan diikat, telah kembali. Kapolres Madina AKBP Achmad Fauzi Dalimunte dihubungi METRO Senin malam membenarkan adanya warga yang diikat tangannya. Hanya saja, pengikat tangan warga itu hanya borgol plastik.

Kapolres juga menyebutkan, masalah tersebut sudah selesai. “Itu kan kemarin, merekakan dikumpulin. Borgol plastik itu, sudah selesai itu masalahnya. Mereka kan sudah dibebaskan,” ujar Kapolres singkat. (wan/ral)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. He. hee.. heee… , darimana ya dana operasional polres dan brimob utk main koboy? Klu dari APBN rasanya nggak pas karena bisa dituduh kejahatan HAM dibiayai negara. Tapi klu sumber dananya SMM, ini sih bukan polisi republik (res publika: rakyat berkuasa) tapi ngekor polisi KNIL, NICA Marsose Hindia Belanda.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*