Pengalaman – Rasanya Berdiri di Puncak Merapi

%name Pengalaman Rasanya Berdiri di Puncak Merapi
Sejumlah pendaki di Puncak Merapi.

Bagi para pencinta alam, kegiatan mendaki gunung sangat menyenangkan. Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah yang kini tengah meletus dan tak kunjung henti mengeluarkan awan panas merupakan salah satu puncak yang kerap menjadi tujuan para pendaki. Bagaimana rasanya mendaki gunung yang masih aktif seperti Merapi?

Banyak orang mungkin merasa takut mendaki gunung paling aktif di duni ini. Akan tetapi, tak sedikit yang merasa tertantang untuk menaklukkan tanjakan tajam untuk bisa berdiri di puncaknya. Raymondus Satriya Kurnia Jati, Kepala Cabang Primagama Jambi, pernah mendaki puncak Merapi pada tahun 2005. “Mendaki Merapi itu rasanya bangga. Merapi, kan salah satu gunung yang teraktif dan banyak orang yang takut untuk mendakinya. Kalau kita berhasil mendaki itu rasanya bangga,” ungkapnya.

Puja Kristia Nugraha, mantan mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, juga pernah menjejakkan kaki di puncak Merapi pada awal Juli 2005. “Kalau saya memang kagum dengan Merapi. Saya ingin sekali merasakan berdiri di puncak Merapi. Itu saja alasannya, karena saya juga tidak paham betul dengan kondisi Merapi,” tuturnya.

Ketika mendaki, Satriya yang menempuh pendakian bersama 10  temannya memilih jalur Kinahrejo, jalur yang menurutnya memiliki medan yang terberat. Di jalur inilah almarhum Mbah Maridjan tinggal dan menjadi sahabat para pendaki. Mereka yang melintasi jalur Kinahrejo pasti bermalam di rumah Mbah Maridjan dan menunggu restu dari juru kunci yang dihormati itu kapan bisa melanjutkan perjalanan.

Baca Juga :  Kembalikan Pancasila di Tengah Masyarakat!

Puncak

Satriya menuturkan, untuk sampai ke puncak, ia harus melewati empat pos, dua di antaranya adalah Pos 1 yang dikenal dengan nama Srimanganti dan Pos 2 yang dikenal dengan nama Paseban Dalam.  “Saya berangkat sekitar pukul 15.30 sore dan tiba di puncaknya sekitar pukul 10.00 hari berikutnya,” jelasnya.

Waktu keberangkatan dihitung dari Pos 1. Jadi, ia bersama rekannya membutuhkan waktu sekitar 19 jam untuk mencapai puncak di ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut.

Bagian terberat dari perjalanan ini, tutur Puja dan Satriya, adalah ketika telah melewati batas vegetasi, sebuah area di mana tak ada pepohonan lagi yang tumbuh karena kondisi lingkungan yang tak mendukung. “Setelah melewati batas vegetasi itu, kita harus melewati medan berat yang berpasir dan berbatu ,” kata Puja yang kini berdomisili di Bali.

Satriya menjelaskan lebih rinci perjuangan melintasi wilayah di luar batas vegetasi itu. “Setelah batas vegetasi, batunya ringkih dan mudah longsor. Jika batu sampai longsor dan jatuh mengenai orang lain, rasanya sakit sekali karena batunya mengalami gaya gravitasi yang tinggi,” terangnya.

Perjuangan berat ini mendapat imbalannya ketika para pendaki tiba di puncak. Satriya mengatakan, rasanya begitu lega dan bangga. “Kebangaannya melebihi ketika mendaki gunung lain. Merapi ini bagian dekat puncaknya begitu kering, tetapi justru di situ kita bisa melihat pemandangan yang lengkap, seperti panorama di bawah gunung dan gunung-gunung yang ada di sekitar Merapi,” kata Satriya. (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Terkait Penangkapan Susno Duaji - Kapolri: Tidak Ada! Apa yang Dijebak?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*