Pengamat Intelejen: Kasus Cikeusik dan Temanggung Akibat Masalah Lama

Jakarta – Kekerasan keagamaan seperti yang terjadi beruntun di Cikeusik dan Temanggung dipicu oleh masalah lama yang belum tuntas. Kasus serupa bisa terulang bila masih saja terjadi perbedaan pemahaman dan aqidah yang jadi keyakinan di antara masing-masing pemeluknya.

“Ini masalah lama. Peristiwa semcam itu akan terus terjadi karena menyangkut akidah, agama,” kata pengamat intelejen, Wawan Purwanto, usai mengikuti peluncuran situs www.poroswartawanjakarta.com, di Marios Place, Menteng Huis, Jl Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (9/2/2011).

Menurutnya potensi reaksi keras terhadap aktifitas aliran Ahmadiyah di Cikeusik sudah terlihat sejak dahulu. Pangkal persoalan karena pihak Ahmadiyah ingin diakui sebagai bagian dari Islam namun dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Hal itu terlihat dari ajaran yang mengakui adanya nabi setelah Muhammad yaitu Mirza Gulam Ahmad dan kitab suci selain Al Quran.

“Harus ada kesepakatan kalau Ahmadiyah tidak akan melakukan ritual-ritual Islam dalam golongannya. Kalau di luar itu ya, silakan,” ujar Wawan mengenai solusi dari masalah itu.

Peristiwa berdarah di Cikeusik yang menelan 3 korban jiwa bisa terhindar jika pihak yang berbeda penafsiran dengan Ahmadiyah taat azas sesuai dengan kesepakatan yang ada di SKB 3 Menteri. Sementara kasus Temanggung terjadi karena ketidakpuasan pihak tertentu dalam proses hukum kasus penistaan agama.

“Harusnya mereka diberi pemahaman, kalau sidang tersebut baru tuntutan dan ada proses atau upaya hukum untuk menanggapi putusan sidang nanti,” kata Wawan.

Baca Juga :  Protes Pemerintah, Warga Pasang Bendera dari Karung Bekas

Dia menolak dikatakan jika intelejen kecolongan dalam kasus rusuh di Temanggung. Menurutnya, kericuhan tidak terelakan karena jumlah massa yang begitu banyak sehingga sulit untuk dikontrol.

“Intelejen sudah memberikan early warning. Dalam kasus temanggung contohnya, polisi sudah menyiapkan 9 SSK saat sidang berjalan. Tapi dalam kejadian kemarin, rasio kalah dengan emosi. Sehingga ketika ada satu yang melempar batu yang lainnya ikut-ikutan melempar bahkan lebih parah lagi seperti membakar,” jelasnya. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*