Penjarahan ‘98 Hantui Binjai

Kapolres Sebut Ramayana & Asia Kings Smart Target Amuk Massa

Amuk 1200-an warga Kota Binjai terhadap ketidakadilan hukum yang membara sepanjang dini hari (2/9) kemarin, berbuntut ketakutan massal kalangan pengusaha di sana. Ratusan polisi bersenjata serbu terus berjaga.

Pantauan POSMETRO, sedikitnya 2 SSK (Satuan Setingkat Kompi) personil Brimob dibantu 1 pleton petugas Dalmas Polres Binjai terus berjaga di lokasi amuk massa yang terjadi di kawasan Jl. Imam Bonjol, Kel. Setia, Kec. Binjai Kota. Mapolres Binjai pun tak luput dari penjagaan berlapis. Ini karena kantor besar polisi di kota rambutan itu dini hari kemarin pun nyaris diserbu ratusan massa yang memprotes penembakan terhadap Djunet (30), warga di sana.

Djunet terlibat kasus sangkaan penganiayaan terhadap A Wad, pengusaha Warnet di Jl. Imam Bonjol, Binjai. Nah, karena kondisinya sehat saat ditangkap pada Sabtu (1/9) siang dari rumahnya di Jl. Imam Bonjol, Gg. Abdul Jalal, Lk. IV, Kel. Setia, penembakan terhadap Djunet -diketahui warga malam harinya- membuat pihak Polres Binjai dicurigai mendapat imbalan uang dari A Wad. Itulah pemicu anarki massa.

Pun Binjai tampak berlapis-lapis dijaga aparat bersenjata, banyak warga kalangan pengusaha yang tetap saja mengaku takut dengan ancaman amuk massa susulan. Ny. A Chien (38) adalah 1 dari ratusan pengusaha ‘berkelas’ di sana yang batinnya terus dihantui ketakutan. Ia, yang rumahnya di seberang Ruko usaha Warnet A Wad, mengaku melihat jelas amuk brutal seribuan warga yang dimulai Sabtu (1/9) malam.

“Aku mengintip dari lantai dua rumahku,” A Chien, pedagang mie khas Tionghoa itu kemarin (2/9) bercerita. “Awalnya massa berkumpul di simpang dan depan rumah A Wad. Ya tepat di seberang rumahku. Tak lama kemudian, aku lihat massa sudah mengamuk. Mereka melempari kaca lantai dua Ruko A Wad. Batu-batu beterbangan. Lalu massa merusak pintu Ruko A Wad hingga jebol.”

Usai berhasil menjebol pintu, imbuh A Chien, massa pun merusak dan menjarah isi Ruko A Wad. Massa lalu menumpukkan harta-harta jarahan itu di badan Jl. Imam Bonjol, menyiramkan bensin, lalu membakarnya. Menurut A Chien, selama mengamuk dan menjarah harta benda A Wad, tak seorang polisi pun tampak berani mencegah anarki massa itu.

Ketakutan di batin A Chien juga dialami Bun Lo. “Wa takut benar dengan kejadian malam itu. Wa tutup pintu rumah wa rapat-rapat. Wa takut menjadi sasaran massa,” ungkap Bun Lo, yang bermukim dengan Vihara Setia Dharma, masih di Kelurahan Setia. Ketakutan juga menjalar ke semua kalangan kerabat atau teman A Chien dan Bun Lo yang lama bermukim dan berbisnis di Binjai.

Lewat A Chien dan Bun Lo, ketakutan mereka bahkan diakui ‘terotak’ sampai pada ancaman peristiwa anarki rakyat di tahun 1998 atau jelang lengsernya Presiden Soeharto (alm). Sekadar mengingatkan, aksi amuk massa seperti terjadi di Ruko A Wad, era itu terjadi di sejumlah kota besar nusantara, termasuk Medan dan Binjai. Toko-toko serta swalayan dirusak. Isinya dijarah.

Baca Juga :  BPK : Labuhanbatu Terkorup, Langkat Menyusut

“Dini hari tadi konsentrasi kita terpecah-pecah untuk menjaga 3 titik yang diancam akan dihancurkan oleh massa. Tiga titik itu: Ramayana depan Binjai Supermall, Asia Kings Smart, dan RS Djoelham,” terang Kapolres Binjai AKBP Musa Tampubolon dalam konfrensi pers di aula Mapolres Binjai, kemarin (2/9) sore. Selain sejumlah pejabat teras Polres Binjai, temu pers juga dihadiri Kabib Humas Poldasu Kombes (Pol) Raden Heru Prakoso.

“Kita tidak ingin kerusuhan meluas, dan kita pun tak ingin ada korban jiwa dari warga yang sudah emosi,” sambungnya lalu menyangkal tudingan massa soal polisi mendapat bayaran (dari A Wad) guna menembak Djunet.

Sebelum Djunet ditangkap, A Wad membuat pengaduan di Polres Binjai. “Pelaku ditembak karena mencoba melarikan diri saat dilakukan pengembangan,” klaim AKBP Musa. Pengembangan apa? Bukankah Djunet memukul A Wad semata sakit hati karena adiknya dipukul pengusaha Warnet itu?

“Dari tahun 2011, sudah 10 kejadian yang melibatkan tersangka (Djunet),” jawab Musa. Ia lalu bercerita soal jejak ‘hitam’ Djunet. “Dari 10 kejadian, baru 5 korban yang melapor ke kita. Soal tindakan kriminal yang dilakukan tersangka, salah satunya laporan dari korban yang rumahnya dirusak massa. Jadi yang pasti ini tindakan kriminal, bukan karena permasalahan suku atau ras.”

“Dari awal penangkapan di rumahnya,” timpal Kombes (Pol) Raden Heru Prakoso, “tersangka sudah mencoba melakukan perlawanan. Namun beberapa personil yang kita turunkan berhasil mengamankannya dan membawanya guna dilakukan pengembangan. Soalnya, selain tersangka, ada seseorang yang kerap ikut dalam kasi pencurian yang dilakukan tersangka.”

Peluru di Kaki Djunet Datang dari Depan?

Versi polisi, dalam pengembangan itu, Djunet menyebut nama seseorang yang terlibat dalam kasus sangkaan pencurian. Itu terjadi saat Djunet (dari rumahnya) dibawa ke daerah Tandem. Di sana, polisi lalu mencari seseorang bernama Kentung.

“Memang tersangka pernah melakukan aksi pencurian sendiri, tapi ada beberapa kasus yang dilakukan tersangka bersama rekannya itu (Kentung –red). Makanya, anggota terus melakukan pengembangan dengan membawanya,” terang Kombes Heru. Saat dibawa ke Tandem, persisnya Pasar V, Djunet diklaim mencoba kabur. Ia juga disebut melakukan perlawanan. Di situlah polisi menembak kaki kirinya.

“Kejadian itu di dekat acara kibot atau di tempat ramai,” sambung AKBP Musa.  Pun disebut melakukan perlawanan saat berusaha kabur, pihak keluarga Djunet sama sekali tak memercayai itu. “Bagaimana adikku melawan, polisi yang menangkapnya saja ada 8 orang. Dia juga digari,” kata Leo, abang Djunet, menyaksikan penangkapan Djunet saat di rumah. “Kami tak percaya. Apalagi luka tembak yang dialami adikku itu (pelurunya) tembus dari depan, bukan dari belakang betisnya,” klaim Leo.

Meski begitu, Leo mengakui Djunet memang acap mencuri. “Tapi sepengetahuan kami, adik kami itu bekerja selalu sendiri dalam melakukan pencurian terhadang kalangan tertentu. Dan hasil pencurian itu tidak pernah dimakannya sendiri, tapi selalu dibagikannya kepada masayarakat kecil. Makannya warga di sini sangat menyayangkan tidakan personil polisi. Yang pasti kami ingin tahu siapa yang menembaknya agar ini diproses sesuai hukum. Kami akui adik kami bersalah, tapi kami tidak setuju kalau dia ditembak. Hukumlah dia sesuai perosedur hukum yang berlaku. Masih banyak penjahat yang melakukan aksi lebih sadis daripada adik kami. Tapi kenapa nggak itu yang ditangkap dan ditembak,” tegas Leo.

Baca Juga :  Try Sutrisno: Sumut Mercusuar Kedamaian Nasional

Pada Leo, Djunet mengaku ditembak di sebuah perkebunan tebu. Tak hanya mengalami luka tembak di kaki, kepala Djunet juga berdarah. Hingga kemarin, dia masih menjalani perawatan di RS Bhayakari Jl. KH Wahid Hasyim, Medan. Sejumlah polisi terus menjaganya.

Kapolres Bersitegang Dengan Ketua DPRD

Aksi anarki warga pembela Djunet membuat Ketua DPRD Binjai Zainuddin Purba, SH geram. Saking geram, dia bahkan berharap Kapoldasu Irjen (Pol) Wisnu Amat Sastro mencopot AKBP Musa Tampubolon dari jabatan Kapolres Binjai. Zainuddin menilai AKBP Musa tidak mampu mencegah kerusuhan massa dini hari kemarin.

“Kapolres Binjai sebaiknya diganti oleh orang yang lebih bijak dan cerdas. Ya, dia saya anggap gagal menjaga situasi kondusif di Binjai,” kata Zainuddin. “Di malam kerusuhan itu, saya memang sangat kesal dengan Kapolres. Dia malah marah-marah saat saya tanya kenapa ini bisa terjadi. Kapolres Binjai malah balik menghardik saya dengan ucapan apa kapasitas Anda di sini. Lalu saya menjawab, ‘Saya adalah Ketua DPRD Binjai’,” ucap Zainuddin soal tanya jawabnya dengan AKBP Musa di tengah amuk massa terjadi.

Zainuddin juga menilai prosedur penangkapan terhadap Djunet menyalahi aturan. “Kalau sesuai prosedur, tangkap tersangka dengan baik-baik di rumahnya, diborgol, lalu dibawa ke Polres Binjai,” tegasnya. Setiba tersangka dibawa ke kantor polisi, sambung Zainuddin, “Kau dikenakan pasal ini tentang pencurian, penganiyaan dan sebagainya. Sehingga tersangka mengerti. Bukan main tangkap lalu ditembak seperti itu!”

Dalam tempo dekat, sejumlah tokoh di Binjai dilaporkan kumpul guna membahas kasus yang bisa membuat Binjai jadi lautan api atau darah ini. “Saya minta agar masyarakat tidak terprovokasi atas kejadian ini,” harap Wali Kota Binjai HM Idaham, SH, Msi. (bam/sal)

Sumber: www.posmetro-medan.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Anggota Polri emang suka sering kayak gitu. Tangkap, gari, bawa ke tempat sunyi baru ditembak dalih mau melarikan diri. Contoh gamblang seperti kasus penangkapan John Kei, udah dikepung sejumlah polisi bersenjata yg tak mungkin tangan-kosong melawan, masih ditembak kakinya. Klu anggota Polri model gini bertugas dilingkungan masyarakat yg punya hak bersenjata seperti di Amerika Serikat, dijamin polisi ginian bakal pendek umur koit, dilubangi peluru.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*