Perang Laptop Ultrabook

TEMPO.CO, Jakarta Notebook bereinkarnasi. Dari bodi yang berat, tebal, dan membutuhkan waktu lama untuk panas, kini menjadi ringan, tipis, dan instan-on alias menyala seketika. Itulah ultrabook. Ini adalah istilah baru yang diperkenalkan Intel dalam Computex yang berlangsung di Taipei, Taiwan, Juni lalu.

Di dalam laptop yang ultratipis dan ultraringan itu, dibenamkan prosesor Intel generasi kedua yang diklaim mampu bekerja ultracepat. Ada empat model cip Intel yang boleh dipasang di laptop ultrabook. Mereka adalah Intel Core i5 dan i7 dengan kecepatan 1,6 hingga 1,8 GHz.

Tak sembarang vendor bisa menyematkan predikat ultrabook di produknya. Syaratnya ketat. Ketipisannya maksimal 20 milimeter, bobotnya harus kurang dari 1,4 kilogram, daya tahan baterai 5-8 jam, dan harganya lebih dari US$ 1.000. Jadi, lupakan optical drive dan port ethernet. Fasilitas ini hanya akan menambah bobot dan ketebalan laptop ultrabook.

Tampaknya semua vendor komputer yang memproduksi ultrabook sepakat dengan ketiadaan optical drive dan port ethernet. Mereka kemudian berlomba-lomba dengan menambahkan berbagai fitur dan menyiasati supaya notebook-nya menjadi yang paling ramping, ringan, dan berkinerja cepat.

ACER Aspire S3, misalnya. Notebook ini bisa “bangun” dari mode Sleep dalam waktu 1,5 detik. Baterainya juga diklaim bisa bertahan selama 50 hari jika laptop dalam posisi tidur.

Sementara itu, Asus mengambil filosofi Zen yang berarti keseimbangan untuk model ultrabook-nya. Menurut perusahaan asal Taiwan ini, Zenbook menjadi jawaban atas kegundahan konsumen yang ingin memiliki netbook dan komputer tablet.

Baca Juga :  Kirim Email ke Obama, Remaja Inggris Dilarang ke AS

Di antara ultrabook lainnya, Zenbook memang yang paling tipis. Hanya 3 milimeter di bagian depan dan 9 milimeter di belakang, serta berbobot 1,1 kilogram saja. Salah satu keunggulan notebook ini adalah fitur audio SonicMaster. Teknologi ini diklaim mampu mengeluarkan suara musik yang kencang sehingga tak perlu lagi memakai speaker tambahan.

Sedangkan Lenovo membuat ultrabook IdeaPad U300s dengan menonjolkan warna-warni menarik, yakni oranye dan silver. Vendor asal Taiwan ini menambahkan teknologi breathable keyboard atau papan ketik yang bisa bernapas. Jadi, selain untuk mengetik, keyboard-nya bisa berfungsi sebagai ventilasi tempat keluarnya udara.

Adapun Toshiba Portege Z830 mengandalkan teknologi EasyGuard supaya tahan guncangan dan tumpahan air. Casing-nya terbuat dari bahan magnesium alloy bertekstur sarang madu (honeycomb rib) supaya tidak licin, ringan, dan kuat. Laptop ini juga menyediakan fungsi keamanan berupa scanner sidik jari (fingerprint) untuk memastikan yang menggunakan komputer tersebut adalah orang yang berhak.

Sebenarnya, inspirasi notebook dengan bentuk ramping dan ringan bermula dari Macbook Air. Komputer jinjing minimalis buatan Apple ini tampil pertama kali pada 2008. Dua tahun kemudian, Apple merilis Macbook Air generasi berikutnya yang menjadi tren bagi vendor komputer lainnya.

Samsung ketika itu memperkenalkan Series 9, Lenovo dengan ThinkPad X1, dan Sony melalui Vaio Series Z. Setelah itu, lahirlah generasi ultrabook.

RINI KUSTIANI

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Selamat Datang Windows 8

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*