Percandian Padanglawas

Photo f 200 Percandian Padanglawas
Percandian Padanglawas

Di daerah Padanglawas yang merupakan dataran rendah yang kering, pada masa lampau mungkin tidak pernah menjadi pusat pemukiman, dan hanya berfungsi sebagai pusat upacara keagamaan (Miksic 1979: 99). Meskipun daerah ini dapat dicapai melalui jalan sungai dan jalan darat, yang dapat berarti tidak terisolir, tetapi lingkungan Padanglawas yang sering bertiup angin panas tidak memungkinkan untuk bercocok-tanam. Oleh karena itulah, Miksic menduga bahwa pemukiman masyarakat pendukung budaya biaro Padanglawas seharusnya bermukim di daerah muara Sungai Pane dan Barumun, tidak di sekitar kompleks percandian.

Persebaran bangunan-bangunan candi di sepanjang Daerah Aliran Sungai Barumun mungkin sengaja dibangun pada jalan-jalan penting untuk perdagangan. Sungai Barumun pada masa lampau diduga sebagai jalur perdagangan lokal yang cukup ramai. Jalur perdagangan ini menghubungkan daerah pesisir timur Sumatra Utara dan daerah pedalaman di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Seharusnya, di daerah sepanjang tepian sungai Barumun, terutama mulai dari Situs Si Pamutung hingga ke muara sungai Barumun, terdapat sisa pemukiman kuno. Hingga kini belum ada laporan penelitian ataupun penemuan yang menyebutkan situs pemukiman di daerah-daerah tersebut. Mungkin situs-situs tersebut telah hilang sebagai akibat erosi dari Sungai Barumun.

Di dataran yang panas dan kering, yang hanya ditumbuhi ilalang dan beberapa pohon, di sekitar Batang Pane, Sungai Sirumambe, dan Sungai Barumun yang membelah dataran Padanglawas, nampaklah pemandangan runtuhan berbagai biaro yang menjulang tinggi. Daerah luas yang sunyi dengan runtuhan biaronya, dahulu kala pernah menjadi pusat agama dalam Kerajaan Pannai. Sebuah kerajaan yang kurang dikenal dalam percaturan sejarah kuno Indonesia. Sekarang daerah yang berupa padang ilalang ini yang dikelilingi oleh rangkaian perbukitan rendah, termasuk dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.

Untuk mencapai lokasi kompleks percandian di Padanglawas dapat menggunakan kendaraan bermotor roda empat, kecuali untuk beberapa buah situs yang harus menyeberangi sungai, seperti Bara dan Si Pamutung. Dari kota Medan jaraknya sekitar 400 km. ke arah baratdaya melalui Tebingtinggi, Kisaran, Rantauprapat, Gunungtua, dan Barumun, atau sekitar 100 km. ke arah timur dari ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Sidimpuan. Pusat lokasi percandian Padanglawas di Barumun, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Biaro-biaro itu, yang dahulu dicipta sebagai syair pujian dari batu dengan puncaknya menjulang ke langit, kini masihberceritera tentang kemegahan kerajaan itu, tentang agama yang pernah berkembang selama beberapa abad, dan tentang seni bangunan dan seni pahatnya. Semua itu merupakan bukti nyata dari sebuah hasil buda-ya yang bermutu tinggi. Situs-situs arkeologi di Lembah Sungai Barumun dan Batang Pane ditemukan di sekitar daerah Padanglawas. Kawasan ini meliputi lembah-lembah sungai Barumun, Batang Pane dan sungai-sungai lain yang luas arealnya sekitar 1500 kilometer persegi (Miksic 1979: 97). lokasi ini terdapat sekurang-kurangnya 26 runtuhan biaro yang dibuat dari bata dan beberapa fragmen arca yang ditemukan di tepian Batang Pane, yaitu Gunung Tua, Si Topayan, Hayuara, Haloban, Rondaman, Bara, Pulo, Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3; di tepian Sungai Sirumambe, yaitu Batu Gana, Si Soldop, Padangbujur, Nagasaribu, dan Mangaledang; dan di tepian Sungai Barumun, yaitu Pageranbira, Pordak Dolok, Si Sangkilon, Si Joreng Belangah (Tandihat 1), Tandihat 2, dan Si Pamutung (Schnitger 1937: plate XXI). Tidak semua lokasi yang disebutkan itu terdapat runtuhan bangunan, melainkan hanya terdapat artefak kecil seperti misalnya prasasti, arca, dan stambha (tiang batu).

Runtuhan bangunan candi di Padanglawas disebut biaro (=vihara dalam bahasa Sansekerta), sebutan yang biasa dipakai masyarakat untuk menyebut bangunan candi Buddha atau Hindu di Sumatra. Tetapi di India, vihara adalah biara yang merupakan tempat tinggal para pendeta atau bhiksu.

Baca Juga :  Nasi Kentut, Makanan Tradisional dari Medan

Awal Penemuan

Daerah Padanglawas yang secara geografis merupakan daerah aliran sungai Barumun, banyak ditemukan tinggalan budaya masa lampau, terutama dari Masa Klasik Indonesia. Tinggalan-tinggalan tersebut ada yang berupa arca, baik yang utuh maupun fragmen atau yang ada dalam konteks bangunan maupun lepas; ada yang berupa prasasti, baik yang utuh maupun yang sudah rusak karena berbagai alasan; dan ada pula yang berupa bangunan atau runtuhan bangunan. Sebagian dari tinggalan-tinggalan tersebut sudah termuat dalam Oudheidkundig Verslag dan Laporan Dinas Purbakala, tetapi ada pula yang dibuat oleh perorangan seperti yang ditulis oleh Schnitger dalam beberapa bukunya mengenai kepurbakalaan di Sumatra; Bosch (1930); Suleiman (1954; 1976; 1980); Rumbi Mulia (1980); dan Nik Hassan Shuhaimi (1992). Dari sekian banyak laporan dan tulisan mengenai Padanglawas, tulisan yang dibuat oleh Schnitger yang terlengkap karena ia adalah seorang kurator di Museum Palembang dan pelopor ekspedisi arkeologi di Sumatra pada tahun 1935 dan 1936.

Catatan tertua mengenai kapan ditemukan kompleks biaro di Padanglawas diperoleh dari Franz Junghun, seorang ahli geologi dan Komisaris Hindia Timur pada tahun 1846. Setelah Junghun, kemudian berturut-turut dikunjungi oleh von Rosenberg pada tahun 1854 dan Kerkhoff pada tahun 1887. von Rosenberg dari Padanglawas membawa beberapa fragmen arca untuk ditempatkan di Museum Batavia. Arca yang dibawa antara lain sebuah arca Buddha. Kerkhoff, seorang Kontrolir di Tapanuli, dalam kitabnya berjudul “Aanteekeningen betreffende eenige der in de afdeeling Padanglawas voorkomende Hindoe-oudheden” menyebutkan “biara”, Si Pamutung, dan “kuburan di Gunung Tua”. Selain itu ia juga mempublikasikan secara rinci mengenai temuan-temuan hasil pengumpulan Franz Junghun di Padanglawas.  Padanglawas semakin sering dikunjungi oleh para peneliti asing, dan semakin banyak runtuhan bangunan yang ditemukan. Pada tahun 1920, seorang peneliti bangsa Belanda, van Stein Callenfels berkesempatan mengunjungi Padanglawas. Ia menyebutkan beberapa peninggalan purbakala di Gunung Tua, yaitu Bahal 1, Bahal 2, Bahal 3, Si Topayan, Aek Biaro, dan Si Pamutung.

Krom, seorang peneliti Belanda menulis tentang Padanglawas pada tahun 1923. Dalam tulisannya itu, ia menyebutkan bahwa peninggalan-peninggalan di Padanglawas disebut “on Javaansch” yang berarti “gaya seni pahat
bangunan-bangunan di Padanglawas tidak mirip dengan gaya seni pada bangunan-bangunan di Jawa”. Dalam telaahnya ia melihat banyak persamaan dengan pahatan di India Selatan atau Asia Tenggara daratan. Selanjutnya Krom
menghubungkan peninggalan di Padanglawas dengan Sriwijaya.
Pada tahun 1925, van Stein Callenfels kemudian kembali lagi ke Padanglawas. Dalam laporannya ia memberi gambaran dari susunan bangunan di Si Topayan, Biaro Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3. Selanjutnya ia memberikan gambaran bahwa yang menyebabkan kerusakan pada bangunan biaro adalah banyaknya ternak (sapi) yang berkeliaran. Laporan ini kemudian mendapat tanggapan dari de Haan yang kemudian pada tahun 1926 mengadakan sedikit perbaikan dan pengukuran pada biaro Si Topayan, Bahal 1 dan Bahal 2.

Pada tahun 1930 Bosch menulis tentang Padanglawas dan mengajukan suatu teori bahwa masyarakat pendukung biaro di Padanglawas adalah pemeluk agama Buddha aliran Wajrayana (Bosch 1930: Bij. C). Anggapannya ini didasarkan indikator artefak yang ditemukannya berupa arca, relief yang menggambarkan wajah-wajah yang menyeramkan dan prasasti singkat yang bertuliskan mantra-mantra aliran Tantris.

Seorang arkeolog amatir yang banyak berjasa atas pengenalan kepurbakalaan di Sumatra yang bernama Schnitger,  sudah berkali-kali mengunjungi Padanglawas. Menurut Schnitger biaro-biaro di Padanglawas dibangun bersamaan dengan stupa-stupa di Muara Takus, yaitu pada sekitar abad ke-12 Masehi (Schnitger 1937). Pendapat ini disetujui oleh Suleiman, tetapi lebih lanjut ia menambahkan bahwa biaro-biaro di Padanglawas dibang¬un pada abad ke-11-14 Masehi (Suleiman 1985: 25). Pendapatnya ini didasarkan atas pem¬ba¬caan dari pertulisan-pertulisan singkat yang ditemukan di situs.

Baca Juga :  Doni Raih Nilai UN Tertinggi se-Padangsidimpuan

Setelah sekian lama tidak diteliti, Situs Padanglawas kemudian diteliti kembali pada tahun 1953 oleh tim kecil dari Dinas Purbakala di bawah pimpinan Satyawati Suleiman. Hasil dari penelitiannya itu kemudian diterbitkan dalam Majalah Amerta pada tahun 1954. Dalam tulisannya itu, Suleiman menggunakan istilah “Hindu-Batak” untuk hasil budaya di Padanglawas, karena ada istilah “Hindu-Jawa” untuk hasil budaya dari Jawa. Istilah ini kemudian ditentang oleh Damais. Ia lebih suka menyebut dengan istilah “Sumatra Purbakala”.

Penelitian berikutnya dilakukan pada tahun 1973 dan 1975 oleh tim dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) bekerjasama dengan the University of Pennsylvania Museum. Namun pada penelitian ini tim hanya
mendeskripsikan beberapa bangunan yang mudah dijangkau. Hal ini disebabkan karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Umumnya bangunan-bangunan yang dikunjungi pernah dilaporkan oleh peneliti terdahulu.  Penelitian yang mutakhir dilakukan pada tahun 1993 oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Hasil dari penelitian itu adalah bahwa Sungai Barumun dan Batang Pane telah mengalami perubahan yang cukup jauh. Hal ini disebabkan karena tingkat erosi yang tinggi. Kelompok-kelompok bangunan di Padanglawas sebagian besar berlokasi dekat dengan aliran sungai pada jarak sekitar 200-500 meter dari tepi sungai.

Pada bulan Maret 1994, sebuah tim kerjasama Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatra Utara dan Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sumatra Utara melakukan pendataan dan inventarisasi tinggalan budaya di daerah Padanglawas. Benda budaya masa lampau yang didata keseluruhannya ada yang masih insitu di Padanglawas (bangunan dan arca), dan ada pula yang ditempatkan di Museum Nasional Jakarta (arca dan prasasti).  Pada tahun yang sama, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengadakan penelitian di Padanglawas. Penelitian tersebut meliputi survei di daerah aliran sungai Barumun dan Pane serta ekskavasi di Situs Tandihet 2. Ekskavasi yang dilakukan di runtuhan bangunan Tandihet 2 berhasil menampakkan bentuk dan ukuran denah bangunan Tandihet 2. Bangunan ini menghadap ke arah timur dengan tangga naiknya dihias dengan sepasang makara. Sebuah arca singa yang dibuat dari batupasir (sandstone) ditemukan di antara runtuhan bangunan.

Oleh: Bambang Budi Utomo
Sumber: http://indoarchaeology.com/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. maaf mas bambang….anda kok menyebutkan Schnitger itu adalah arkeolog “amatir”, padahal antropolog yang satu ini telah menjelajah ke berbagai belahan bumi sumatera,di antaranya pada tahun 1920 Situs muara jambi,dan dan juga beberapa tahun kemudian dia juga yang menemukan pertama kali beberapa candi di sumatera, jadi tidaklah etis kiranya menyebutkan dia arkeolog “amatir”,ataukah anda yang penulis amatir..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*