Peringati Hari Anak Nasional, LSM Burangir Minta Pemko Padangsidimpuan Sediakan Paket Internet Untuk Belajar Daring

BERAPA DANA REFOCUSING UNTUK BELAJAR DARING?

Menurut analisa UNICEF, 99% anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun di seluruh dunia (2,34 miliar) tinggal di salah satu dari 186 negara dengan beberapa bentuk pembatasan gerakan yang berlaku karena COVID-19. 60 persen anak tinggal di salah satu dari 82 negara dengan lockdown penuh (7 %) atau sebagian (53 %), yang jumlahnya mencakup 1,4 miliar jiwa muda.

FB IMG 1586155842816 Peringati Hari Anak Nasional, LSM Burangir Minta Pemko Padangsidimpuan Sediakan Paket Internet Untuk Belajar Daring
Yayasan Burangir Padangsidimpuan

Anak-anak dan remaja tidak hanya tertular COVID-19, tetapi mereka juga termasuk di antara korban yang paling parah terkena dampaknya.

Dunia harus bertindak sekarang untuk memperkuat sistem kesehatan, serta layanan sosial yang berfokus pada anak.

Untuk itu UNICEF telah meluncurkan agenda global guna melindungi anak-anak yang paling rentan dari bahaya.
1) Menjaga anak-anak tetap sehat
2) Menjangkau anak-anak yang rentan dengan air, sanitasi dan kebersihan
3) Buat anak-anak tetap belajar
4) Mendukung keluarga untuk memenuhi kebutuhan dan pengasuhan untuk anak-anak mereka
5) Melindungi anak-anak dari kekerasan, eksploitasi dan pelecehan
6) Melindungi anak-anak pengungsi dan migran, dan mereka yang terkena dampak konflik.

Di bidang kesehatan, COVID-19 memiliki potensi untuk membanjiri sistem kesehatan yang rapuh di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dan merusak banyak pencapaian yang didapat dalam kelangsungan hidup anak.

Di bidang pendidikan, seluruh generasi anak telah melihat terganggunya pendidikan mereka. Penutupan sekolah secara nasional telah mengganggu pendidikan lebih dari 1,57 miliar siswa, atau 91 % di seluruh dunia. Seluruh generasi siswa dapat mengalami kerugian dalam pembelajaran dan potensi mereka.

Dampak sosial-ekonomi COVID-19 akan dirasa paling sulit oleh anak-anak yang paling rentan di dunia. Banyak yang sudah hidup dalam kemiskinan, dan konsekuensi dari tindakan respons COVID-19 berisiko membuat mereka semakin sulit. Jutaan orang tua berjuang untuk mempertahankan mata pencaharian dan penghasilan mereka.

Pada konteks nasional, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga menjelaskan bahwa saat pandemi Covid-19, anak-anak Indonesia harus dipastikan tetap di rumah dan tetap bergembira.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mencatat setidaknya ada 2.086 data laporan terkait anak yang masuk ke KPAI periode 1 Januari hingga 31 Mei 2020. Dari jumlah tersebut, 503 laporan atau sekitar 24.35 persen adalah laporan mengenai anak yang menjadi korban kebijakan sekolah.

Baca Juga :  Polresta Padangsidimpuan Razia Senpi dan Sajam Di Perbatasan

Angka laporan kasus anak terkait dunia pendidikan naik, bahkan hampir setengahnya dari data yang sama periode Januari hingga Desember 2019 sebanyak 321 laporan.

Angka laporan anak terkait kebijakan sekolah menjadi tinggi tak lain akibat aturan sekolah jarak jauh atau yang biasa juga disebut sekolah online yang diterapkan guna mencegah pandemi Covid-19. Situasi pandemi seperti saat ini membuat banyak hal mulai berubah. Misalnya kendala yang dihadapi anak, yang juga menjadi suara orangtua selama sekolah jarak jauh.

Beberapa laporan kendala klasik proses belajar mengajar jarak jauh diantaranya adalah, akses internet yang sulit, perangkat gadget, hingga ketiadaan kuota internet.

Dari ratusan laporan yang masuk ke KPAI mengenai anak dan dunia pendidikan di tengah pandemi Covid-19, KPAI mengakui adanya laporan-laporan soal kebijakan sekolah yang dianggap kurang bijaksana dalam menghadapi masalah anak.

Banyak sekolah tidak memahami kondisi anak yg tidak memiliki fasilitas laptop, HP dan jaringan.

Kondisi tersebut juga dialami oleh anak-anak yang ada di wilayah Tabagsel khususnya di Kota Padangsidimpuan. Lembaga Perlindungan Anak dan Perempuan Burangir dalam masa pandemi masih menerima laporan tindak kekerasan terhadap anak.

Tercatat ada sekitar 8 kasus kekerasan anak sejak Januari sampai dengan Juli 2020. Kekerasan tersebut dalam bentuk kekerasan fisik, psikis (verbal) dan seksual. Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi seluruh orangtua dan pemangku kepentingan.

Di bidang pendidikan, banyak keluhan yang diterima oleh Burangir dari orangtua siswa terkait belajar lewat. online atau daring. Tidak semua orangtua mampu menjadi guru dadakan yang memahami bagaimana metoda mengajar kepada anak. Padahal selama pandemi, orangtualah yang harus banyak berperan untuk pendidikan anak.

Ada juga orangtua yang kesulitan memahami teknologi IT. Dan tidak sedikit yang mengeluh soal biaya yang harus dikeluarkan masing-masing orangtua untuk membeli paket quota internet bagi kebutuhan belajar anak-anak. Padahal mereka juga kesulitan untuk mencari nafkah, karena banyak diantara mereka yang sangat sulit mengakses kebutuhan ekonomi akibat pandemi ini.

Pada momentum Hari Anak Nasional ini, Burangir perlu menyampaikan beberapa hal berikut:
1. Bahwa Burangir mendukung keputusan pemerintah pusat, maupun daerah sebagaimana danjurkan oleh WHO, UNICEF dan lembaga dunia lainnya. Yakni untuk tetap melakukan protokol kesehatan pada sekolah-sekolah di masa new normal, dengan membatasi jumlah siswa per kelas dan jam belajar (zona hijau), dan juga menutup sekolah untuk wilayah tertentu (zona kuning dan merah).

Baca Juga :  Warga Palas Diimbau Tidak Bakar Lahan Perkebunan

2. Bahwa kebijakan pemerintah Kota Padangsidimpuan menutup sekolah untuk tatap muka dengan membuat belajar via online atau daring harus disertai dengan pemberian paket quota internet gratis kepada seluruh siswa sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing. Pendanaannya bisa dialokasikan dari dana refocusing Covid-19 yang jumlahnya begitu besar, dan juga dari dana BOS. Karena selama masa pandemi, dana BOS otomatis tidak habis terpakai, karena tidak adanya kegiatan belajar mengajar.

3. Pemerintah Kota Padangsidimpuan, dalam hal ini Dinas Pendidikan sudah harus mempunyai materi pelajaran yang bisa menjawab kebutuhan kondisi saat ini. Modul pelajaran tersebut harus menjawab metoda didaktik/pedagogis pada belajar via online.

4. Mengajak semua orangtua, guru dan seluruh masyarakat agar jangan sampai menurunkan semangat anak-anak untuk tetap belajar dan berkarya. Anak-anak harus tetap gembira. Kita semua harus kreatif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di rumah. Jika tidak, maka tidak tertutup kemungkinan kita mengalami masalah yang lenih besar lagi di kemudian hari.

5. Mari kita melindungi anak-anak dari kekerasan, eksploitasi dan pelecehan, yang semakin rentan terjadi pada masa pandemic

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL
23 Juli 2020

Timbul Simanungkalit
(Pendiri & Pengurus Lembaga Perlindungan Anak & Perempuan Burangir)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*