Peserta UN Tapsel, Padangsidimpuan Mengaku Soal UN Listening Sulit

www.metrosiantar.com

Illustrasi

SIPIROK-METRO; Beberapa peserta Ujian Nasional (UN) di berbagai sekolah, yakni SMKN 1 Sipirok dan SMAN 2 Plus Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), serta SMKN 1 Padangsidimpuan (Psp), mengaku kesulitan dalam mengisi soal Bahasa Inggris khususnya soal listening yang diujikan di hari kedua UN, Selasa (23/3). Soal yang diujikan tersebut berjumlah 15 dan didengarkan melalui rekaman suara radio.

“Kalau ujian Bahasa Indonesia semalam (Senin, red) memang insya Allah masih bisa diatasi Bang, karena memang soalnya tergolong mudah dan sudah sering dipelajari. Untuk soal Bahasa Inggris hari ini (kemarin, red) memang sebagian besar juga tak begitu rumit. Namun khusus 15 soal listening saya masih kurang yakin dengan jawaban saya. Soalnya sulit,” ujar Irwansyah, salah seorang peserta UN dari SMAN 2 Plus Sipirok pada METRO, usai pelaksanaan UN bidang studi Bahasa Inggris, Selasa (23/3).

Ditanya dimana letak kesulitan dalam menjawab soal listening, Irwansyah yang merupakan siswa kelas XII IPA 4 tersebut mengungkapkan, cara penyampaian dan vocabulary (perbendaharaan kata atau kosa kata, red) yang belum biasa didengar, sehingga menyulitkan dalam penguasaan soal. Disamping itu, sebut Irwan, soal memang lebih banyak dari materi yang sudah dipelajari selama ini, namun masih ada sebagian kecil yang merupakan pengetahuan umum.

“Mengenai materi soal memang sudah sering dan berulang kali dipelajari, namun masih ada juga dari pengetahuan umum. Yang saya ragukan hanya sebagian dari soal listening itu,” ungkapnya.

Senada juga dikatakan rekan Irwansyah, Arsyad Koto, siswa kelas XII IPA 1. Dituturkannya, soal listening sedikit lebih rumit jika dibandingkan dengan soal pilihan ganda biasa lainnya. Namun dengan waktu yang cukup dalam mengisi lembar jawaban, keseluruhan soal sudah ada jawabannya dan dirinya sangat yakin dengan jawabannya karena masih banyak soal yang tergolong mudah.

“Memang soal listening sedikit lebih rumit. Soal dari listening sebanyak 15 soal. Sedangkan soal biasa pilihan lainnya sebanyak 35 agaknya mudah dan materinya sudah biasa dipelajari,” ujar keduanya. Beberapa siswa SMKN 1 Sipirok juga mengatakan yang sama. Soal UN Bahasa Inggris yakni listerning yang mendengarkan dari rekaman suara tersebut lebih rumit jika dibandingkan soal lainnya.

“Memang lebih rumit dari soal lainnya, karena butuh keseriusan untuk menyimak setiap kalimat dari rekaman tersebut,” aku beberapa siswa SMKN 1 Sipirok.

Salah seorang peserta UN dari SMKN 1 Psp, Sumiyati kepada METRO, Selasa (23/3) mengatakan, untuk soal Bahasa Inggris sebanyak 50 soal, peserta diberikan waktu selama dua jam untuk mengerjakannya. Dari 50 soal tersebut, ada 15 soal yang sangat sulit dijawab yakni soal listening. Di soal ini, peserta mendengarkan pertanyaan dari sebuah kaset yang diputar kemudian menjawabnya di tempat yang disediakan di lembar jawaban komputer (LJK).

“Bahasa Inggris cukup sulit terutama di 15 soal listening. Kami mendengarkan pertanyaan dari kaset yang diputar. Sulit menjawabnya, juga mendengarnya, meskipun kami sebelumnya sudah diajari atau dilatih sebelum pelaksanaan UN baik itu saat try out maupun saat les tambahan. Tapi tetap saja sulit karena mendengarkan pertanyaan melalui kaset dan kami tidak yakin hasilnya sempurna,” keluhnya.

Kepala SMAN 2 Plus Sipirok Drs Marwan Harahap kepada METRO mengatakan, dalam menjalani UN, peserta dari sekolahnya sudah siap, karena berdasarkan persiapan yang maksimal selama ini.

Di SMKN 1 Sipirok, hingga hari kedua pelaksanaan UN berjalan lancar tanpa hambatan. Namun dari 245 jumlah peserta UN dari sekolah tersebut, 3 orang di antaranya tidak bisa mengikuti UN.

“Pelaksanaan UN sampai hari kedua ini berjalan lancar. Sebanyak 245 peserta yang terdaftar, 3 orang di antaranya tidak hadir karena sudah dikeluarkan dari sekolah atau drop out (DO). Mudah-mudahan UN tetap berjalan lancar sampai selesai,” ucap Kasek SMKN 1 Sipirok Alpian Hutauruk MPd. (ran/phn)

Kadisdik: Tak Ada Kebocoran Soal

Di hari kedua pelaksanaan UN di Kota Padangsidimpuan (Psp), ujian berlangsung aman dan tertib serta mendapat pengawalan ketat dari pengawas dan Polresta Psp. Selain itu, kebocoran soal juga tidak ditemukan.

“Secara umum palaksanaan UN selama dua hari ini berlangsung aman. Disdik (Dinas Pendidikan, red) Psp menjamin tidak akan ada kebocoran soal,” kata Kadisdik Psp Drs Panongonan Muda Hasibuan didampingi Kabid Dikmen Juta Lubis kepada METRO, Selasa (23/3).

Baca Juga :  Rp. 9,1 M Proyek Kendaraan Dinas Pemkab Padang Lawas Diduga Bermasalah

Ditambahkan Hasibuan, di hari kedua pelaksanaan UN di Psp, jumlah siswa yang tidak hadir belum diketahui jumlahnya. Hanya saja sejak hari pertama, Senin (22/3) lalu tercatat sebanyak 46 peserta tidak hadir. Rinciannya 11 peserta sudah drop out (DO), lima peserta sakit, sementara 30 lainnya sampai saat ini tidak ada kejelasan dari sekolah bersangkutan. “Tapi untuk jumlah siswa hari ini belum tahu, harus kita hitung dulu berita acara penyerahan berkas naskah soal dan LJK nya,” tuturnya.

Sementara mengenai lembar jawaban komputer (LJK) setiap harinya, langsung diantar ke Unimed dengan pengawalan dari tim pengawas independen (TPI) Unimed serta personel Polresta Psp. “Soal pengantaran LJK dan soal setiap harinya, dikirim langsung ke Unimed oleh TPI Unimed didampingi Disdik dan dikawal dua personel Polresta Psp. Jadi tak sempat bermalam, namun langsung diantar ke Unimed. Setelah itu baru dikirim kembali ke Jakarta,” katanya.

Jangan Percaya Isu Soal Bocor

Ketua Umum Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Padangsidimpuan (Psp) M Nizam Nasution mengingatkan peserta UN untuk tidak percaya dengan rumor yang beredar di media massa terkait telah bocornya soal UN di beberapa daerah. “Kami meminta agar siswa yang sedang menghadapi UN jangan sesekali percaya dengan semua rumor yang beredar. Akan tetapi harus tetap fokus dan lebih maksimal untuk mempersiapkan diri dalam menghadapinya karena hasil kerja keras kita sendiri punya kepuasan tersendiri ketimbang mencontek dan lainnya,” ucap Nizam didampingi sekretarisnya Dedi Kurniawan dan bendahara Irpan Ray kepada METRO, Selasa (23/3).

Di tempat terpisah Plt Kadisdik Palas Ali Irpan Hasibuan menjelaskan, pihaknya akan tetap komit dengan fakta integritas kejujuran dalam melaksanakan UN tahun ini yang ditandatangani bersama Disdik Sumut dengan pihak kabupaten/kota, 12 Maret lalu. Ini dimaksudkan untuk menghasilkan mutu pendidikan yang kredibilitas sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

“Saya katakan bahwa pelaksanaan UN di Palas terlaksana dengan jujur, tidak ada terjadi kebocoran soal, karena sistem pelaksanaannya jauh berbeda dengan tahun lalu. Setiap selesai ujian, LJK langsung dibawa dari lokasi ujian sekolah ke Kantor Disdik Palas dengan dikawal ketat pihak kepolisian dan tim pemantau independen dari Medan,” ujar Ali Irpan yang memiliki prinsip lebih baik mutu tinggi daripada angka kelulusan tinggi tapi tidak bermutu.

Dijelaskan Ali, LJK peserta UN masing-masing sekolah harus berada di Kantor Disdik Palas Jalan Ki Hajar Dewantara Sibuhuan Kecamatan Barumun sekira pukul 16.00 WIB dan pukul 18.30 WIB diangkut langsung ke Medan lengkap dikawal aparat kepolisian hingga ke Unimed untuk dikoreksi. “Jadi LJK tidak ada bermalam di sekolah,” jelasnya.

Hari Kedua UN,

31 Siswa Absen

Sebanyak 31 siswa dari 3.312 peserta UN se-Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), absen di hari kedua UN, Selasa (23/3). Penyebab absennya siswa tersebut dikarenakan sakit, drop out (DO) dari sekolah setelah daftar peserta UN ditetapkan. “Banyak siswa yang telah keluar dari sekolah. Tapi nama-namanya masih tercatat ketika kita melakukan pengusulan daftar calon peserta UN yang lalu ke Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Utara,” kata Kepala Dinas Pendidikan Tapsel Drs Marasaud melalui Kabid SMA Ishak Marbun kepada METRO, Selasa (23/3) melalui telepon selulernya.

Disebutkan Ishak, secara umum hingga hari kedua pelaksanaan UN SMA sederajat se-Tapsel berjalan lancar dan sukses. “Untuk kebutuhan LJK berikut naskah soal UN tidak ada masalah, semuanya cukup dan sesuai dengan jumlah yang sudah ditetapkan,” pungkasnya.

Di Palas, 29 Siswa

Tak Hadir

Dari 2.158 peserta UN di Kabupaten Padang Lawas (Palas), sebanyak 29 peserta tidak hadir di hari pertama pelaksanaan UN. Ketidakhadiran siswa tersebut sebagian besar disebabkan sakit, dan ada juga yang absen.

Kepala Disdik Palas Ali Irfan Hasibuan melalui Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Khoiruddin Harahap menuturkan, umumnya peserta yang tidak hadir mengikuti UN karena sakit dengan menunjukkan surat keterangan dokter. Namun, ada juga siswa yang tidak melaporkan alasan ketidakhadiran tersebut atau absen. “Peserta yang tidak hadir akan diberikan kesempatan ujian susulan yang diadakan pada tanggal 29 Maret hingga 5 April mendatang. Ujian susulan itu dilaksanakan di sekolah pelaksana UN masing-masing,” ujar Khoiruddin kepada METRO, Selasa (23/3).

Baca Juga :  Pelaku Perbudakan Ditangkap Polisi

Lebih lanjut Khoiruddin menjelaskan, pelaksanaan UN tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Tahun ini, siswa yang tidak lulus mendapat kesempatan ujian ulangan yang akan dilaksanakan 10-14 Mei. Mereka tidak tergolong dalam paket C seperti tahun lalu.

“Peserta yang tidak lulus akan mengikuti ujian ulangan, dan bila telah lulus, ijazah yang diperoleh bukan ijazah Paket C, tetap ijazah dari sekolah yang bersangkutan. Pelaksanaan ujian susulan dan ulangan tersebut mengacu pada Permendiknas Nomor 75 Tahun 2009 dan Perubahan Nomor 84 Tahun 2009 tentang pelaksanaan UN,” jelasnya sembari menyebutkan pelaksanaan UN di hari kedua berjalan aman tertib dan lancar serta tidak ada ditemukan kebocoran naskah soal UN.

LJK Diperiksa di Unimed

Hari kedua pelaksanaan UN di Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta) berjalan lancar dengan pengawasan ketat para guru dan pengawas independen dari perguruan tinggi serta penjagaan petugas kepolisian. Hal itu diungkapkan Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Paluta Drs Hazairin Hasibuan, kepada METRO, Selasa (23/3). “Hari kedua UN di Paluta tidak ada hambatan. Semua peserta UN hadir. Apabila ada ditemukan persoalan yang terjadi akan ditindaklanjuti,” ucapnya. Lebih lanjut dijelaskannya, LJK untuk peserta UN diperiksa di Unimed.

SMA KB Harapkan Kelulusan 100 Persen

Di tempat berbeda Kepala SMA Swasta Karya Baru (KB) Psp Drs Saharuddin Ritonga SPd menyebutkan, pelaksanaan UN di sekolah yang didirikan alm Drs H Batangari Ritonga pada tahun 1986 tersebut berjalan lancar dengan pengawasan yang ketat dari pengawas Disdik, Unimed, dan 2 personel Polresta Psp. “Pelaksanaan UN hingga hari ini berjalan aman dan lancar. Harapannya siswa-siswa mampu menjawab soal dengan benar sehingga kelulusan tahun ini bisa dicapai 100 persen,” ungkap Saharuddin kepada METRO sembari menyebutkan tahun lalu, tingkat kelulusan siswa sekolahnya 99 persen. (phn/neo/amr/thg/mag-01)

Disiapkan Posko Stres di Daerah Usai UNKementerian

Pendidikan Nasional bekerja sama dengan Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP) direncanakan akan segera membentuk posko yang bertujuan untuk membekali para siswa yang tidak lulus UN. Ketua BSNP Djemari Mardapi menamai posko itu dengan ‘Posko Stres’.

“Posko ini terutama akan dibentuk di wilayah atau daerah yang tingkat kelulusannya sangat rendah,” jelas Djemari ketika ditemui di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Jakarta, kemarin (23/3).

Lebih jauh Djemari menerangkan, dengan keberadaan Posko Stres tersebut diharapkan akan mampu meringankan beban mental para siswa. Pasalnya, para siswa nantinya akan diberikan suatu dukungan atau motivasi dari pada ahli psikolog dan bimbingan konseling agar tidak langsung berputus asa jika gagal mengikuti UN.

“Posko ini nantinya akan dibuka di Peguruan Tinggi Negeri (PTN) di beberapa provinsi. Serta, para siswa akan diberi suatu pembekalan diri yang dapat menguatkan mental, moral, dan spiritual,” imbuhnya.

Sekadar untuk diketahui, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kemendiknas, presentase siswa tidak lulus tahun 2009 untuk jenjang SMA, tertinggi di Provinsi NTT yakni sebesar 30,91 persen yang selanjutnya diikuti oleh Provinsi Maluku Utara sebesar 30,25 persen, Sulawesi Tengah sebesar 27,07 persen, Papua Barat sebesar 26,98 persen, dan Bangka Belitung sebesar 24,99 persen.

“Posko stres ini memang dikonsentrasikan di daerah-daerah yang rendah tingkat kelulusannya, di mana sebagian besar terletak di luar Pulau Jawa. Hingga saat ini ada sekitar 4 PTN yang sudah setuju,” ujarnya yang enggan menyebutkan lokasi PTN tersebut. (cha/jpnn)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. usually listening teacher will prepare to answer lstening exam for their students just one or two monhts ,but to answer listening test need deep preparing and good comprehensive about kinds of listening questions.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*