Petani di Sipirok Kompak Pakai Traktor Tangan

Sejumlah petani di Sipirok kompak memakai traktor tangan untuk mengelola sawah milik masing-masing. Alasannya, traktor tangan memberi kemudahan dalam mengolah lahan. Demikian disampaikan sejumlah petani di Desa Silagundi, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), kepada METRO, Kamis (10/2). Di antaranya, Tahir Nasution (39).

Menurutnya, sebelum ada traktor tangan, petani cenderung mengolah sawah dengan cara tradisional alias mencangkul atau membajak dengan sapi atau kerbau, sehingga waktu yang dibutuhkan waktu panjang dalam proses pengolahan sawah. Sehingga aspek pertanian lainnya sering ditinggal akibat tak ada kesempatan untuk merawatnya. “Dengan adanya mesin bajak seperti ini kita tidak takut lagi ketinggalan mengolah lahan sehingga pola tanam serempak tetap terkejar,” katanya.

Salah seorang pekerja pembajak sawah, Al-Afran (20), kepada METRO, Kamis (10/2) mengaku, bekerja sebagai pembajak karena pola pembayaran yang diterapkan berpatokan pada pendapatan tetap lahan tersebut. Patokan pendapatan sawah di wilayah Sipirok adalah kaleng (1 kaleng berisi 12 kilogram gabah). Lalu, setiap satu kaleng padi biaya untuk mengolah adalah Rp3.500, dan rata rata mereka bisa menyelesaikan lahan berpenghasilan sekitar 100 kaleng hingga 120 kaleng padi dalam sehari. “Dalam sehari bisa menyelesaikan lahan siap tanam berpenghasilan 100 sampai 120 kaleng dengan bayaran Rp3.500 per kaleng. Biasanya itu dikerjakan secara borongan,” tuturnya. (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Simarsayang Sepi...? Mereka Mungkin Lari Kesini...!

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*