Petani Kopi Nikmati Tingginya Harga

KOMPAS/HELENA F NABABAN Petani kopi

TRIBUN-MEDAN.com, SIMALUNGUN – Tren harga kopi membuat petani kopi di Kecamatan Purba, Simalungun tersenyum. Harga kopi terus menanjak sampai ke titik Rp 23.000 per kg.

“Baru kali inilah harga tinggi sejak tahun 2005. Bedanya, dulu hasil panen banyak. Sekarang harga tinggi, barang yang sedikit,” kata N Saragih, petani dari Sintaraya, Minggu (13/2/2011).

Petani kopi di Kecamatan Purba kebanyakan adalah petani-petani kecil yang mengutip kopi dua minggu sekali. Hasil panen ini kemudian dijual ke tengkulak yang menerima kopi dalam bentuk kering maupun buah.

Menurut Saragih, kopi dari Kecamatan Purba sudah terkenal di kalangan eksportir di Kota Medan. Namun, kopi di daerah ini sudah banyak yang ditebang. Petani lebih memilih untuk menanam sayuran di ladangnya karena beberapa ladang terserang virus.

Menurut pemilik kafe Republik Kopi, Medan, Salimin Wang tren harga kopi yang tinggi telah terjadi sekitar setengah tahun yang lalu.

Salimin yang juga merupakan penyalur kopi untuk hotel-hotel di Medan menjelaskan bahwa ini ada kaitannya dengan status kopi sebagai komoditas internasional. Pasokan kopi dunia sedang menurun karena sumber kopi utama seperti Brazil sedang dihantam cuaca buruk. Kondisi pertanian kopi nasional secara umum juga sedang kering pasokan.

Harga kopi yang tinggi, menurut  Salimin, ternyata tidak berpengaruh negatif pada jumlah permintaan. “Permintaan tetap tinggi karena saat ini semakin banyak orang yang tahu manfaat kopi. Peminat kopi juga semakin luas karena kalangan usia muda juga sudah banyak menyukai kopi,” katanya.

Baca Juga :  Temuan Inspektorat di Pemkab Tapsel - Rahudman Diduga Korupsi Rp. 13 Miliar

Untuk saat ini kopi arabika termahal adalah dari daerah Takengon, NAD. “Sekilonya bisa Rp 54.000!” kata Salimin. Kopi dari daerah Simalungun harganya sedikit di bawah yaitu sekitar Rp 50.000 per kilo.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*