Petani Lesu, Harga TBS Sawit Anjlok

Illustrasi
(Analisa/yudi arisandi nasution) ANJLOK : Petani kelapa sawot di Kelurahan Sitonong Kecamatan Pinangsori, Tapteng sedang menimbang TBS sawit usai panen di kebun milik mereka. Saat ini petani mulai lesu akibat anjloknya harga jual TBS sawit capai Rp500/Kg.

Tapanuli Tengah, Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit saat ini di Kabupaten Tapanuli Tengah kian mengalami penurunan harga. Bahkan, penjualan di tingkat petani saat ini mencapai Rp500/Kg.

Akibat turunnya harga tersebut, petani tampak kurang bergairah untuk berkebun karena hasil dari penjualan tak lagi mencukupi untuk biaya perawatan kelapa sawit, bahkan kebutuhan hidup mereka.

Penurunan harga ini sudah berlangsung sepekan terakhir. Dimana sebelumnya, harga jual TBS sawit di tingkat petani mulai dari Rp850 hingga Rp900 secara drastis anjlok hingga Rp500/Kg. Parahnya lagi, kondisi anjloknya harga sawit menjadikan para petani menjerit.

Pasalnya, uang yang didapat dari hasil penjualan harus dipotong untuk upah buruh dodos (tukang panen) kelapa sawit yang besarannya sangat bervariatif tergantung jarak kebun ke lokasi pengumpul atau jalan desa.

Nimrot Situmeang warga Pinangsori, Sabtu (8/8) menceritakan, dirinya sudah kurang bergairah untuk memanen buah sawitnya disebabkan anjloknya harga jual kelapa sawit hingga terkesan sangat merugikan petani. Biaya perawatan saja, kata dia, sudah jauh lebih besar dari pada hasil penjualan sawit saat ini.

Baca Juga :  Utang Indonesia Rp2.000 Triliun

“Kalau kita hitung–hitung antara biaya perawatan sawit dengan hasil penjulannya sangat jauh sekali, belum lagi uang untuk membayar upah buruh panen, seperti saya sekarang ini untuk gaji tukang panen sudah mencapai Rp300/Kg, dan hanya Rp200 yang saya dapatkan dari perkilo TBS sawit. Ini jelas saya sangat merugi,” keluhnya.

Ia berharap, anjloknya harga ini segera normal kembali, karena perasaan tak bergairah para petani sudah mulai memuncak. Untuk biaya perawatan saja uang dari hasil panen tak cukup untuk menutupinya.

“Sawit kan butuh pupuk dan butuh pembersihan sekitar pohon dari rumput, makanya semua harus dihitung. Kami petani tidak tahu lagi hendak mengadu kemana.

Untuk itu kami harapkan pemerintah dapat memberi solusi atau bagaimana para petani tak merasa “menjerit” seperti saat ini, karena sawit yang merupakan satu–satunya tumpuan hidup kami,” sebutnya.

Jika harga saat ini, bahkan pekan depan kian turun, kemungkinan para petani tak lagi memanen TBS sawit dan membiarkan membusuk dibatang dari pada bertambah merugi.

“Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah konkrit untuk mengendalikan harga pasar khususnya komoditi kelapa sawit,” ujarnya. (yan)


CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*