Petani Salak di Tapsel Mengeluh

Tapsel. Para petani salak di Tapanuli Selatan (Tapsel), mengeluh. Pasalnya, saat harga salak membaik dan melambung, namun produksi salak sedang trek alias danga (tak musim buah). “Walau harga buah salak mencapai Rp 12 ribu per kg. Tapi mau bilang apa buah salak lagi tak musim atau danga,” kata M Rambe salah satu petani Salak di Desa Sitaratoit, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Senin (6/7).

Penanggungan yang sama juga dirasakan petani salak lainnya seperti petani salak di Desa Sisundung, Simatorkis, Sibangkua, Sigumuru, Sitaratoit, Parsalakan, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapsel sekitarnya.

Dikatakan, hasil panen salak danga (trek) sekarang lebih dari setengahnya menyusut. Kalau tak danga dalam satu hektar biasanya menghasilkan rata-rata 1,5 ton sekali panen (sekali panen dalam 2 minggu).

Musim kemarau yang terjadi juga turut menyebabkan produksi salak di Tapsel menurun dan danga. Menurut petani musim danga ini telah berlangsung sejak tiga bulan terakhir. “Sejak mengalami musim danga, hasil panen menurun 60 persen,” kata M Rambe.

Petani salak tersebut berharap kepada Pemerintah, agar memberikan solusi bisa ke luar dari kesulitan ekonomi. “Harapan kita ada bentuk pinjaman modal usaha dari pemerintah, agar ke luar dari kesulitan ekonomi dalam memasuki hari raya,” kata M Manullang petani salak lainnya di Desa Parsalakan. <hr/>(ikhwan nasution)-Medan Bisnis

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  PAD Padangsidimpuan Ditetapkan Rp16,2 M

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*