Petani Sayur Hanopan Sibatu Dambakan Bantuan Modal

Illustrasi

P Sidimpuan. Petani yang membudidayakan komoditas sayur mayur di Kelurahan Hanopan Sibatu, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Padangsidimpuan ini masih tetap bertahan. Walau meraup laba paspasan, petani yang sudah mengembangkan tanaman sayur sejak Tahun 1996, mendambakan pemerintah memberikan bantuan modal guna memperluas usahanya. Di atas lahan sekira seperempat hektare ini Ginda Lubis Alias Ucok Gabar (48) dengan isterinya Jumirawati (40) menanam sayur secara bergantian seperti bayam, terong, cabai, kacang panjang, buncis, timun dan oyong.

“Bila ditanami sekaligus dengan semua jenis sayuran di atas, lahan kita tidak mencukupi, makanya saya tananami bergantian,” tutur Ginda ketika dijumpai di lahan pertaniannya, Jumat (5/6). Didampingi isterinya Jumirawati, Ucok Gabar mengisahkan pahit getirnya kehidupan di tengah keterpurukan ekonomi sekarang ini. Disebutkan, ada kalanya hasil bertani sayur tersebut tidak mencukupi untuk menutupi pengeluaran sehari-hari.

Penyebabnya kata Ucok Gabar harga sayur pada musim panen sering anjlok sementara cost produksi cukup tinggi. Penyebab lainnya, kata dia dikarenakan harga pupuk nonsubsidi selangit, sedang pupuk bersubsidi sulit didapat.

“Habis bagaimana lagi bang, ini sudah pilihan hidup terpaksa harus kami jalani. Apalagi untuk mengalihkan pekerjaan saat ini tidak memungkinkan lagi,” katanya.

Dia memberikan gambaran dari setiap panen sayur sekira 35% hasil penjualan untuk beli pupuk dan bibit sayur, sedang sisasanya untuk biaya hidup. “Kalau masa panen tiga bulan, belum lagi tiba panen berikutnya uang hasil penjualan sayur tidak bersisa lagi, terpaksa ngutang kepada tetangga,” ujarnya. Supaya petani seperti dia bisa berlaba katanya, pemerintah harus menurunkan harga pupuk nonsubsidi jenis urea dan NPK yang biasa dia gunakan. Atau paling tidak pupuk bersubsidi kedua jenis itu mudah diperoleh petani.

Baca Juga :  Dinkessos PALUTA adakan pengobatan katarak gratis

“Saya jarang mendapatkan pupuk bersubsidi dan selalu gunakan pupuk nonsubsidi. Bila tidak dipupuk, sayuran tidak akan berkembang,” terangnya.

Selain mengutarakan keluhan tersebut, dia juga berharap kepada Walikota Padangsidimpuan memberikan bantuan modal usaha serta memberikan pendampingan petugas penyuluh lapangan (PPL) guna meningkatkan produksinya.
“Saya bertani sayur secara otodidak, karena tamatan saya dan isteri cuma SMP, sedangkan PPL tidak pernah kemari memberikan penyuluhan,” katanya. (ikhwan nasution)


MedanBisnis –

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*