Petinggi Al Qaeda Menyerahkan Diri

RIYADH, KOMPAS.com — Khaled Hathal Abdullah al-Atifi al-Qahtani, petinggi Al Qaeda yang menjadi buronan pihak berwajib Arab Saudi, dilaporkan menyerahkan diri. Sementara dua perwira menengah Al Qaeda terbunuh di Yaman, diduga akibat serangan pesawat tempur tak berawak milik Amerika Serikat.

Warga Saudi di Riyadh membaca berita tentang kematian Osama bin Laden.

Penyerahan diri Al-Qahtani diumumkan oleh Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi Mayor Jenderal Mansour al-Turki di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (4/5/2011). Adapun insiden di Yaman terjadi di daerah basis Al Qaeda di Provinsi Shabwa, Yaman, Kamis pagi.

Menurut Al-Turki, Al-Qahtani mengontak aparat keamanan Arab Saudi dari sebuah negara yang dirahasiakan dan menyatakan ingin pulang. Al-Qahtani masuk dalam daftar buronan yang dikeluarkan Interpol, Januari lalu, karena diduga terlibat jaringan teroris Al Qaeda.

Al-Turki mengatakan, Al-Qahtani akan dipertemukan kembali dengan keluarganya. Penyerahan dirinya akan dijadikan pertimbangan untuk meringankan hukuman.

Di Yaman, Kementerian Pertahanan Yaman menyebut dua perwira tingkat menengah Al Qaeda yang terbunuh adalah dua bersaudara bernama Musa’id dan Abdullah Mubarak. Belum jelas siapa yang menyerang mereka dan apa alasannya.

Beberapa saksi mata melihat pesawat tempur tak berawak (drone) pada saat kejadian, sementara saksi mata lain mengaku melihat roket yang disusul ledakan.

Kantor berita Agence France-Presse (AFP) menyebutkan, serangan dilakukan drone milik AS yang sebenarnya mengincar seorang petinggi Al Qaeda di Yaman. Namun, serangan itu meleset dan mengenai dua bersaudara tersebut. Serangan selanjutnya melukai satu orang lagi di kota Nissab.

Kawasan Yaman selatan menjadi basis operasi Al Qaeda di Jazirah Arab (AQAP) sejak para simpatisan Al Qaeda di Arab Saudi bergabung dengan rekan mereka di Yaman, 2009. The Washington Post melaporkan pada November 2010 bahwa Pemerintah AS telah menempatkan pesawat-pesawat drone Predator di Yaman untuk memburu simpatisan Al Qaeda ini.

Baca Juga :  Survei: Islandia Negara Terdamai di Dunia, Indonesia Ke-54

Penyerahan diri Al-Qahtani dan terbunuhnya dua perwira di Yaman ini menjadi pukulan terbaru bagi Al Qaeda setelah pemimpin mereka, Osama bin Laden, tewas tertembak pasukan AS di Abbottabad, Pakistan, Senin lalu. Dua peristiwa tersebut juga mencerminkan perbedaan pandangan di kalangan simpatisan Al Qaeda sendiri.

Sengaja dibocorkan

Perpecahan di Al Qaeda itu bahkan disinyalir sudah terjadi hingga tingkat pimpinan puncak. Surat kabar Al Watan di Arab Saudi, Kamis, menurunkan laporan yang mengatakan, lokasi persembunyian Osama sengaja dibocorkan kepada pihak AS oleh wakilnya sendiri, Ayman al-Zawahiri, yang berasal dari Mesir.

Laporan yang mengutip seorang “sumber regional” yang tak disebut namanya juga mengatakan, terjadi perbedaan pendapat dan perebutan kekuasaan antara Al-Zawahiri dan Osama.

Faksi pendukung Al-Zawahiri berhasil membujuk Osama meninggalkan persembunyiannya di perbatasan Afganistan-Pakistan dan pindah ke rumah di Abbottabad. Seorang kurir yang bekerja untuk pihak Al-Zawahiri kemudian menuntun intelijen AS menemukan tempat persembunyian Osama itu.

Rencana menyingkirkan Osama sudah disusun sejak tokoh Al Qaeda dari Mesir, Saif al-Adel, kembali dari Iran, akhir tahun lalu. “Faksi Mesir itu secara de facto mengendalikan organisasi Al Qaeda saat ini,” ungkap sumber tersebut.

Tak dipublikasikan

Dari AS, Presiden Barack Obama memutuskan, pihaknya tak akan memublikasikan foto-foto jasad Osama guna menghindari penggunaan foto-foto itu sebagai sarana propaganda untuk mendorong aksi kekerasan. “Kami bukan orang seperti itu. Kami tidak memperlihatkan hal-hal seperti ini bagaikan trofi (tanda keberhasilan),” kata Obama yang menegaskan, bukti-bukti identifikasi, termasuk tes DNA, sudah cukup untuk memastikan itu jasad Osama.

Baca Juga :  Harga Cabai Tembus Rp.34 Ribu per Kg Di Pasar Penyabungan

Sementara itu, tekanan Kongres AS untuk menghentikan bantuan kepada Pakistan makin kuat. Kay Granger, Ketua Komite Pengawas Bantuan Luar Negeri DPR AS, menekan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton untuk menangguhkan bantuan 190 juta dollar AS (Rp 1,6 triliun) bagi korban banjir Pakistan.

“Keberatan saya terhadap program ini diperkuat dengan pengungkapan teroris terbesar di dunia tinggal tak jauh dari instalasi militer (di Pakistan) selama lebih dari lima tahun,” ujar wakil rakyat dari Partai Republik itu. (AP/AFP/Reuters/DHF)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*