Piala Adipura Jangan Sekadar Adipura-pura

Oleh: YS Rat. *)

Keberadaan Kota Medan konon bermula dari dibukanya sebuah perkam pungan oleh Guru Patimpus pada 1 Juli 1590. Sedangkan latar belakangnya menjadi sebuah kota-pada masa penjajahan oleh Belanda-berawal tahun 1918 dengan ditetapkannya Medan sebagai gemeente (kota administratif) namun tanpa walikota dan tetap berada di bawah kewenangan Hindia Belanda.

Lembaga pembentuk Medan sebagai kota administratif itu diberi nama Komisi Pengelola Dana Kotamadya atau juga dikenal dengan Negorijraad. Melalui Decentralisatie Wet, Stbl 1903 No.329, juga dibentuk lembaga lain diberi nama Afdeelingsraad Van Deli atau Deli Division Council. Lembaga ini berjalan bersama Negorijraad hingga dihapus pada 1 April 1909, ketika untuk daerah luar kota dibentuk Cultuuraad atau Cultivation Council.

Berangkat dari latar belakang itu, 1 April 1909 pernah dijadikan sebagai Hari Ulang Tahun Kota Medan dan diperingati sejak 1970. Namun, menyikapi bantahan dari kalangan pers dan sejumlah ahli sejarah, berdasarkan SK Walikotamadya Kepala Daerah Kotamadya Medan No.342 tanggal 25 Mei 1971, yang ketika itu dijabat Drs. Sjoerkani, dibentuk Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Medan. Kemudian, sejak 26 Maret 1975, melalui Keputusan No. 4/DPRD/1975, ditetapkan 1 Juli 1590 sebagai Hari Jadi Kota Medan.

Selasa, 1 Juli 2014, Kota Medan sampai di 424 tahun usianya. Sebagai warga tentu kita tak menghendaki, tuanya Kota Medan secara fisik mewujud layaknya manula alias manusia lanjut usia. Taklah semestinya Kota Medan terlihat renta dan kumuh seiring usianya yang semakin lanjut. Sejalan ketakinginan yang demikian dari warganya, kepedulian sangat besar dari pemerintah kota (pemko) terhadap pembangunan fisik Kota Medan memang tak bisa dipungkiri.

HUT ke-424 dan Piala Adipura

Kurang sebulan menjelang HUT-nya ke-424, Kota Medan memperoleh Piala Adipura kategori kota metropolitan. Penyerahan Piala Adipura ini dilakukan Wakil Presiden, Boediono, kepada PlT Walikota Medan, Dzulmi Eldin, di Sekretariat Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (5/6/2014).

Mudah-mudahan seluruh warga Kota Medan–utamanya yang telah dewasa – amat sangat mengetahui, penghargaan paling bergengsi di bidang lingkungan hidup itu untuk ketiga kalinya diperoleh Kota Medan dan berturut-turut dalam tiga tahun belakangan.

Baca Juga :  Rekomendasi Ombudsman tentang Sertifikasi Guru

Andai dikait-kaitkan dengan berbagai kemungkinan yang tentu saja belum tentu benar, waktu yang tak terlalu jauh antara pemberian Piala Adipura kategori kota metropolitan untuk Kota Medan dengan ulang tahunnya bisa saja dikarenakan sebab tertentu. Mungkin atas dasar penilaian sebenar-benar penilaian, Kota Medan memang layak menerimanya dan bukan sengaja dikhususkan sebagai kado ulang tahunnya. Atau bisa jadi sebaliknya, memang merupakan kado dalam rangka ulang tahun ke-424 Kota Medan.

Lantas, mana yang benar di antara kemungkinan-kemungkinan itu? Menurut pemberitaan sejumlah media massa, PlT Walikota Medan, Dzulmi Eldin, merasa bangga dan mendedikasikan Piala Adipura kategori kota metropolitan tersebut bagi warga Kota Medan, sekaligus kado ulang tahun ke-424 Kota Medan. Meski demikian, jawaban pastinya ada pada kenyataan yang tampak di depan mata.

Dampak Negatif

Kehadiran tempat-tempat berjualan makanan pada malam hari, pembangunan dan pembukaan megamall atau berbagai pusat perbelanjaan modern lainnya, serta perkantoran maupun perumahan, tentulah karena “dukungan izin” dari Pemko Medan. Namun, walaupun keberadaannya menjadikan tampilan Kota Medan kian megah dan ramai, tak pula bisa disembunyikan lalu lintas yang kerap macet bahkan tak jarang semrawut merupakan salah satu dampak negatif yang ditimbulkannya.

Ironisnya, seiring pesatnya pembangunan fisik di Kota Medan, bangunan-bangunan bernilai sejarah yang seharusnya sedapat mungkin dipertahankan unsur-unsur keasliannya terkesan diabaikan dan tak jarang “dipaksa” menyuruk di bawah kemegahan gedung-gedung baru.

Selain itu, kehadiran gedung-gedung baru yang mewarnai pembangunan fisik Kota Medan baik berupa megamall atau pusat perbelanjaan modern lainnya, serta perkantoran maupun perumahan, tak luput jadi penyebab banjir melimpahi jalanan ketika hujan deras mengguyur meski hanya dalam waktu sekejap. Kajian teoritis yang diwujudkan melalui proyek pembangunan drainase dengan biaya miliaran rupiah terbukti tak mengubah keadaan. Ini bersebab diabaikannya kondisi nyata yang lebih berpotensi memicu terjadinya banjir.

Baca Juga :  Dihempas Cobaan Bertubi-Tubi, Siapa Yang Tahu Kapan Semua Susah, Sedih, Dan Derita Ini Akan Berakhir…?!

Jika jeli mengamati, di Kota Medan saat ini hampir tak bisa ditemukan parit yang bagian atasnya tetap dibiarkan terbuka. Kalaupun ada disisakan celah, hanya sekian centimeter. Ditambah lagi, hampir semua ruko sengnya dipasang menjorok melewati parit yang bagian atasnya telah ditutup, sehingga melimpahlah air langsung ke jalan ketika hujan deras mengguyur.

Sudahlah begitu, banyak pula pemilik yang menaikkan lantai dasar bangunannya lebih tinggi dari jalan. Kenyataan demikianlah sesungguhnya penyebab terjadinya banjir di sejumlah jalan raya di Kota Medan ketika hujan deras mengguyur walau hanya sekejap. Karenanya, kalaulah ada yang berkata, betapa indah dan asrinya Kota Medan kini, entah apalah dasarnya.

Keindahan, salah satunya membuahkan kesejukan, bukan malah kesemrawutan. Sekarang, dari kenyataan-kenyataan tersebut, simpulkan saja sendiri, apakah Piala Adipura kategori kota metropolitan memang merupakan buah pencapaian prestasi pembangunan di Ibukota Provinsi Sumatera Utara itu, sehingga pantas dianggap sebagai kado ulang tahunnya yang ke 424.

Yang pasti, sebagai warga Kota Medan, kita berharap Piala Adipura jangan sekadar adipura-pura.***

Penulis sastrawan dan wartawan
Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

4 Komentar

    • behama menteri 15 tahun beda kalpataru dohot adipura nda di boto, memalukan…muse untuk mendapat hadiah tersebut, bisa diatur dengan uang……kita jujur aja……..

    • di dok jokowi nda suka koperasi…….info yang di adapat dari pelaku menghalalkan semua cara…..kasih nuding orang tanpa bukti, itupun terjadi di debat capres tanggal 5 juli 2014

    • sejarah membuktikan bahwa adipura maupun kalpataru bisa di poroleh siapapun dia,…..namun sangat di sayangkan Ir. Hatta Rajasa yang sudah 15 tahun jadi menteri riset & tehknologi (zaman Megawati), Menteri Sekretaris Negara, Menteri Perhubungan, Menteri Koordinator Perekonomian (Era SBY) lagi pula besan SBY

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*