Piala Adipura Sudah Kehilangan Gengsi (?)

Oleh: T. Sandi Situmorang. *)

Pada 5 Juni 2014 pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia telah memberikan Piala Adipura kepada kota dan kabupaten se-Indonesia yang berhasil meraihnya. Piala diberikan langsung Wakil Presiden, Boediono, kepada bupati/walikota masing-masing kota/kabupaten di Istana Wakil Presiden RI Kamis 5 Juni 2014. Tercatat 101 kota berhasil meraihnya. Jumlah tersebut terdiri dari 15 kota penerima Piala Adipura Kencana dan 86 penerima Anugerah Piala Adipura 2014.

Mungkin tidak banyak masyarakat yang mengetahui jika Medan merupakan salah satu kota yang meraih anugerah  piala Adipura kategori kota metropolitan.

Ada yang berbeda dengan berhasilnya Medan meraih Piala Adipura pada tahun ini. Nyaris tidak ada pemberitaan di media massa, apalagi ucapan selamat yang diberikan sebuah instansi pada lembaran koran, atau baliho yang terpampang di jalan raya. Juga tidak ada arak-arakan yang dilakukan plt walikota dengan piala tersebut. Entahlah memang ada, tetapi tidak terliput oleh media. Mengapa hal itu terjadi? Apakah meraih Piala Adipura bukan sebuah kebanggaan lagi, sehingga tidak menarik? Atau sebenarnya pemerintah dan masyarakat malu karena sesungguhnya Medan tidak pantas menerima piala tersebut?

Medan Kotor dan Semrawut

Piala Adipura diberikan kepada sebuah kota yang dinilai memiliki kebersihan dan keteduhan dalam lingkungan perkotaannya., meliputi jalan, sungai, pasar, rumah sakit, sekolah, terminal, tempat pembuangan sampah, hingga kemampuan kota untuk melaksanakan 3R, yaitu reduce, reuse dan recycle.

Dengan kriteria tersebut di atas, mari kita bertanya, pantaskah sebenarnya Medan mendapatkan Piala Adipura?

Sesungguhnya belum pantas. Sampah di kota Medan masih saja menjadi cerita klasik karena tumpukan sampah mudah ditemukan di setiap pusat kota. Saluran pembuangan air tersumbat karena dipenuhi sampah. Tanah sisa galian dibiarkan berserak, sehingga akan menimbulkan debu ketika kemarau dan seperti kubangan kerbau di musim hujan. Pohon-pohon peneduh jalan kering meranggas. Lalu lintas semrawut sehingga menimbulkan kemacetan pada banyak titik. Banjir sering menjenguk kota. Daerah hijau terbuka semakin menyempit, disulap menjadi gedung.

Baca Juga :  Pemuda, Korupsi, dan Pemiskinan Indonesia

Dengan semua kekurangan di atas, yang tidak menggambarkan ‘Piala Adipura banget’ pantaslah banyak masyarakat heran mengapa Medan tiga tahun berturut-turut berhasil meraih Piala Adipura.

Piala Adipura Dibatasi

Tahun 1986 merupakan kali pertama Program Adipura, namun sempat terhenti pada tahun 1998. Lima tahun pertama pelaksanaannya program Adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi “Kota Bersih dan Teduh”. Program Adipura kembali dicanangkan di Denpasar Bali pada tanggal 5 Juni 2002 dan berlanjut hingga sekarang. Dalam tiga tahun terakhir saja, total ada 375  Piala Adipura yang diberikan kepada kota dan kabupaten dengan rincian 125 kota pada tahun 2012, 149 kota tahun 2013, dan 101 kota tahun 2014.

Jumlah itu tentu saja jumlah yang sangat besar untuk sebuah penghargaan yang sangat bergengsi. Dan jika kelak jumlah kota peraih Piala Adipura setiap tahun semakin banyak, dapat dipastikan Piala Adipura akan kehilangan gengsi.

Sekarang saja sudah terlihat, nyaris tidak ada pemberitaan jika Medan berhasil meraihnya, pun PLT walikota Medan belum atau mungkin tidak mengarak piala itu keliling kota. Bukan hanya di kota Medan hal seperti itu terjadi, di kota lain, katakanlah Kabupaten Pamekasan. Sampai 9 Juni belum ada rencana pemerintah setempat untuk mengarak piala yang mereka raih.

Bandingkan pada tahun 2012, walikota Medan Drs H. Rahudman Harahap MM  mengarak Piala Adipura yang diperoleh langsung dari bandara Polonia. Ketika itu, memang tujuh tahun lamanya Medan gagal meraih Piala Adipura.

Banyaknya kota-kota yang berhasil mendapat Piala Adipura diakibatkan dari sistim yang diberlakukan. Selama ini, Piala Adipura otomatis akan diberikan kepada suatu kota jika kota tersebut mendapatkan nilai minimal. Artinya bisa saja semua kota yang mendaftar akan mendapatkan Piala Adipura. Jika hal itu terjadi, Piala Adipura akan kehilangan harga. Tidak ada perasaan bangga dan bahagia telah berhasil meraihnya. Ditambah lagi, tidak sedikit masyarakat merasa heran mengapa satu kota bisa meraih Piala Adipura padahal kota tersebut masih semrawut, tidak bersih dan teduh. Sehingga masyarakat pun akan menganggap Piala Adipura bukan lambang sebuah kota teduh dan bersih.

Baca Juga :  Gatot Pujonugroho Bukan Arogan, Tapi Mengajak Ke Sebuah Jalan Lurus

Kedepan, semoga pemerintah, dalam hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, mengubah sistim tersebut. Akan lebih membanggakan bagi kota penerima Piala Adipura bila jumlah peraihnya dibatasi, misalnya hanya tiga atau mungkin dua kota saja dalam setiap kategori. Hal ini akan membuat persaingan semakin ketat, dan setiap kota akan berlomba menjadi yang terbaik di antara yang baik.

Penutup

Untuk ketigakali secara beruntun Medan berhasil meraih Piala Adipura. Hendaklah piala itu menjadikan seluruh pemerintahan dan masyarakatnya berperilaku sesuai dengan harapan yang tersemat di balik Piala Adipura. Tapi lebih penting dari itu, mari menjadikan Medan suatu kota yang indah, bersih, teduh, nyaman dan aman, tanpa mengharapkan Piala Adipura. ***

Penulis berdomisili di Binjai

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*