Pilkada ulang, warga Madina santai

Suasana politik di Mandailing Natal (Madina) menjelang coblos ulang Pilkada 20 pada April 2011terlihat adem. Padahal, biasanya situasi politik sangat hangat dan pembahasan utama di tingkat Sumatera Utara (Sumut).

Biasanya, warung-warung dan tempat mojok banyak orang baik di perkampungan dan juga pusat Kota Panyabungan, pembahasan utamanya selalu politik, korupsi pejabat dan instansi di duga banyak masalah.

Namun dua bulan terakhir, kondisi itu berubah drastis, sebagian besar masyarakat dari berbagai elemen lebih suka membahas tambang emas di Desa Hutajulu, Kecamatan Hutabargot, Kabupaten Madina. Di perkirakan ribuan orang saat ini menggantungkan harapan dari hasil tambang emas liar tersebut.

Analis politik di Madina, Nasir Lubis, mengatakan kehadiran tambang emas telah mengubah drastis pola pikir masyarakat yang dulunya biasa mengonsumsi isu dan terlibat politik praktis, bahkan banyak menggantungkan nasib dari stabilitas politik.

Berbeda jauh dengan kondisi masyarakat sekarang yang kelihatannya tidak begitu perduli dengan agenda demokrasi coblos ulang untuk memilih pemimpin Madina 5 tahun kedepan.

”Karena itu saya fikir panitia penyelenggara pemilu harus sering melakukan sosialisasi jadwal coblos ulang, dan memperbanyak tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah Desa Hutajulu di hari H. Karena masyarakat Madina dari 23 kecamatan banyak bertahan di daerah itu,” ucap Nasir, tadi malam.

Pendapat lain di kemukakan Abdi Nasution. Menurutnya, keberadaan tambang emas tradisional di Kecamatan Hutabargot menunjukkan banyaknya pengangguran dan lemahnya perekonomian masyarakat Madina selama ini.

Baca Juga :  Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Tapsel 12 Agustus 2010 - Beberapa Pejabat Pusat DIperkirakan Hadir

Dengan kata lain, masyarakat Madina membutuhkan pekerjaan maupun program nyata pemerintah yang mampu meningkatan kesejahteraan perekonomian warga, yang selama ini banyak apatis terhadap program pembangunan pemerintah yang kesannya hanya menguntungkan kontraktor dan penyedia barang dan jasa.

”Bayangkan saja ribuan orang mempertaruhkan nyawa untuk mengambil batu mengandung emas ke dalam lubang dengan kedalaman 10-25 meter. Resiko tinggi demi menutupi dan mempertahankan hidup,” ucapnya.

Menurutnya, gambaran masyarakat yang terlibat dalam tambang liar harus menjadi cerminan bagi pemerintah. Kalau memang pemerintah tidak ingin masyarakat berada dalam usaha illegal dengan ancaman nyawa yang berujung pada ancaman gejolak sosial, maka pemerintah harus bertindak.

“Jika ekonomi warga stabil, tidak akan ada kisruh atau intrik di masyarakat, maupun terjebak dalam hasutan para politisi yang terkemas dalam seribu janji tinggal janji dan visi misi angin sepoi. Karenanya semua kembali pada iktikad baik atau buruk niat pemerintah selaku pelayan masyarakat,” katanya. (waspada.co.id)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*