Pipa Limbah Mulai Di Tanam – Tambang Emas Martabe Akan Kembali Beroperasi 29 Oktober 2012

Tambang Emas Martabe di Batangtoru, Tapanuli Selatan
MedanBisnis – Medan. Tambang Emas Martabe di Batangtoru, Tapanuli Selatan, direncanakan kembali beroperasi lusa atau Senin pekan depan, (29/10), seiring dengan dimulainya penanaman pipa pada hari tersebut. Pemasangan pipa diharapkan berlangsung dalam dua pekan depan.

“Dengan begitu, kami berharap secara bertahap operasional penuh tambang bisa berjalan pada awal tahun 2013,” ujar Communication Manager PT Agincourt Resources, Katarina Siburian, kepada MedanBisnis di Medan, Kamis (25/6).

Agincourt selaku pengelola Tambang Emas Martabe telah memutuskan menghentikan operasionalnya sejak 1 Oktober 2012 karena pemerintah daerah (pemda), baik Pemkab Tapsel maupun Pempropsu, gagal menyelesaikan polemik mereka dengan masyarakat  terkait pembuangan limbah perusahaan itu ke Sungai Batangtoru. Bahkan sejak Kamis (4/10) Agincourt  telah  melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan, sedang total pekerjanya mencapai 2.500 orang.

Katarian menjelaskan telah terjadi beberapa kesepakatan antara perseroan dan masyarakat, di antaranya meningkatkan dana program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), memasukkan empat desa lagi dalam ring satu perusahaan, serta memindahkan titik pemasangan pipa. “Artinya bahwa upaya pendekatan secara persuasif  yang terus menerus telah dilakukan perusahaan dengan masyarakat. Harapan kami bahwa hubungan baik dengan masyarakat terus berlangsung dalam koridor saling menguntungkan,” katanya.

Seiring dengan dimulainya pemasangan pipa, terang Katarina, maka karyawan akan mulai bekerja secara bertahap. Untuk tahap awal, sebanyak 300 orang dari 1.200 orang karyawan yang dirumahkan, akan dipanggil kembali ikut bekerja.

Begitu pun, katanya, manajemen mengharapkan dukungan dari semua stakeholder, utamanya dari masyarakat sekitar agar penanaman pipa itu berlangsung dengan baik. “Karena tanpa ada dukungan dan jaminan keamanan dari pemerintah, terutama dari masyarakat sekitar, maka apapun yang kami rencanakan ini tidaklah berjalan,” ujarnya.

Baca Juga :  Pengakuan Ismed Harahap, Keluarga Honorer yang Mengaku Ditiduri Anggota DPRD - Widuri Diimingi Lulus CPNS

Rencana pengoperasian kembali tambang emas dengan target produksi dari Pit 1, 250.000 oz emas dan 2-3 juta oz perak dan dengan sumber daya emas di Pit 1 mencapai sekitar 7,86 juta onz dan sumber daya perak mencapai 73,48 juta onz itu, menurut Katarina juga sudah mendapat dukungan dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM).

Wakil Menteri ESDM, Rudi Rubiandini, sebagaimana yang sudah tersiar di media, Rabu (24/10), sebut Katarina, telah menyatakan tambang emas akan mulai beroperasi lagi, Senin 29 Oktober.

“Pak Wamen menjelaskan berbagai permasalahan kecil yang selama ini menghambat telah diselesaikan dan 300 orang yang dirumahkan oleh perseroan akan mulai kembali bekerja pada Senin mendatang. Masyarakat sudah dipetemukan dengan perusahaan dan aparat dan Insya Allah akan beroperasi lagi Senin mendatang,” katanya menirukan pernyataan Rudi.

Disinggung soal air limbah yang sudah mengalami pemurnian itu, menurut Katarina sebenarnya tidak ada masalah. “Itukan memang kami jamin aman bagi lingkungan, dalam hal ini ke Sungai Batangtoru yang menjadi tempat pembuangan. Kami bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dirugikan akibat pembuangan itu nantinya,” ujarnya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Propinsi Sumut Hidayati mengatakan, sesuai amdal yang diserahkan PT Agincourt Resources, sudah sesuai dengan ketentuan dan syarat yang berlaku dalam pengelolaan limbah industri. “Kalau dari amdal yang kita terima, pertambangan akan mengelola dan mengeluarkan limbah sesuai dengan baku mutu. Nah, berarti ini tidak ada masalah,” ujarnya awal pekan kemarin.

Dia menjelaskan, sesuai baku mutu, berarti limbah tidak akan memberikan dampak lingkungan yang terlalu besar. Karena, dalam amdal yang diserahkan, PT Agincourt akan melakukan penanggulangan dan pemulihan bila terjadi dampak lingkungan. “Pencegahan dan pemulihan ini bisa dilakukan agar status sungai bisa kembali normal atau tidak tercemar, misalnya dengan reboisasi, clean up, dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Baca Juga :  Bupati Tapsel Minta Pemudik dari ‘Parserahan’ Aktualisasikan Semangat Marsipature Hutana Be

Baku mutu itu sendiri, juga menyebutkan bahwa kandungan air limbah tersebut tidak mengandung zat kimia yang berbahaya. Seperti amonia, TSS (total suspensive solite), dan lainnya. Sesuai dengan pemanfaatan, Sungai Batangtoru tersebut merupakan alat untuk pemenuhan kebutuhan air minum.

Terkait dengan berbahaya atau tidaknya limbah tersebut, Hidayati menyatakan belum dapat menelitinya. Karena hingga saat ini, PT Agincourt yang mengelola Tambang Martabe belum pernah sama sekali membuang limbahnya.

“Kalau mau tahu apakah berbahaya atau tidak ya setelah dibuang. Tapi ini kan belum ada dibuang. Jadi, bagaimana kita bisa katakan bahwa itu berbahaya? Tapi, kalau sesuai dengan amdal, tidak akan mengakibatkan dampak lingkungan,” sebutnya. (benny pasaribu)

Sumber: www.medanbisnisdaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

3 Komentar

  1. Tambang emas itu sesuatu yang baru. Tidak hanya bagi masyarakat Sumatera Utara tapi bahkan bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Buktinya, saat ini sulit memastikan bisa menemukan 5 judul buku mengenai teknologi tambang di Toko Buku. Universitas yang punya jurusan pertambangan juga relatif terbatas. Tidak heran jika banyak sakwasangka yang tertuju pada industri jenis ini. Bandingkan dengan industri pertanian, hampir setiap universitas yang pernah berdiri membuka jurusan atau bahkan fakultas pertanian. Mungkin 3 dari 10 best seller di Indonesia bertema ilmu pertanian.

    Tentu tidak sepenuhnya salah, tetapi opini yang berkembang mengenai tambang emas dewasa ini tampaknya lebih banyak yang tidak objektif atau tidak berdasar. Jika argumentasi-argumentasi yang berkembang didasarkan pada anggapan-anggapan buta atau anggapan-anggapan yang kadaluarsa, tidak heran jika kesimpulan yang dihasilkan oleh sejumlah komentator pun seakan-akan benar. Misalnya tambang emas berbahaya dan karenanya harus ditolak.

    Kenyataannya, industri jenis apapun selalu memiliki risiko dan bahaya. Tidak terkecuali pertanian yang banyak melibatkan rakyat, sebagai misal. Setiap tahun, industri pertanian dan perkebunan kita memakai ribuan ton parakuat (pestisida) pertahun untuk kegiatan pertanian. Penyebaran sangat luas dan mengenai hajat hidup orang banyak. Parakuat dengan konsentrasi tinggi jika dikonsumsi tentu mematikan, tetapi setelah melalui proses pengenceran dan dekomposisi, bahaya parakuat yang tertumpah ke alam sejauh ini dianggap tidak serius dan masih dapat ditolerir.

    Tambang emas disoroti terutama karena proses produksinya memakai zat berbahaya. Ekstraksi biji emas dengan metode pelindian biasanya menggunakan asam sianida. Zat aktifnya adalah sianida (Cn). Sianida pasti mematikan jika dikonsumsi dalam kadar yang berlebih. Ubi jalar atau singkong dengan kandungan sianida yang berlebih juga bisa mematikan jika dimakan. Tetapi sianida juga bukan zat kimia yang terlalu istimewa. Sianida bisa menguap ke alam atau bisa dinetralisir(detoksifikasi), antara lain dengan sodium metabisulfit, sehingga tidak membahayakan lingkungan hidup . Apalagi jika air hasil detoksifikasi kemudian dihaluskan lagi di kilang pengolahan air sisa, maka kualitas air hasil olahan bisa lebih baik dari kualitas air alam yang mengalir setiap hari di sungai sekitar tambang.

    Masih lekat dalam ingatan banyak orang, saat Kasus Buyat mencuat ke permukaan. Kesannya seakan-akan masyarakat di sekitar lokasi tambang telah banyak yang mati pelan-pelan karena teracuni kimia tambang emas. Padahal semua ceritera menyeramkan yang terlanjur dipercaya banyak itu, cuma bualan dari mereka yang ingin jualan.

  2. Tadi Senin siang (29/10) 2 excavator kontraktor Agincourt mulai gali parit untuk tanam pipa limbah dikawal ratusan serdadu republik disambut demo puluhan ibu-ibu buka baju setengah telanjang, berarti Comunications Manager Katarina Hardono tabur statement manipulatif. Sayangnya akalbudi hatinurani aktifis Walhi, LBH, Kontras belum tersentuh utk nimbrung. Kok bungkam Kusnadi, Surya Adinata, Muhrizal? Apa nunggu darah tertumpah nyawa melayang?

  3. Disinggung soal air limbah yang sudah mengalami pemurnian itu, menurut Katarina sebenarnya tidak ada masalah. “Itukan memang kami jamin aman bagi lingkungan, dalam hal ini ke Sungai Batangtoru yang menjadi tempat pembuangan. Kami bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dirugikan akibat pembuangan itu nantinya,” ujarnya.

    Mengingat permasalahan masalah LImbah bukan masalah perkara kecil, maka sebaiknya pihak Organisasi Lingkungan Internatinal perlu dilibatkan dalam hal mengawasi standar Limbah yang ada, sehingga mempunyai tingkat keyakinan bahwa apa yang disampaikan seperti diatas dapat diyakini masyarakat.

    Bila Perusahaan sudah menjalankan CSR, maka masyarakat juga harus mengapresiasi perusahaan.
    Umumnya perusahaan di Indonesia sering menghubungkan Corporate social responsilibity dengan sumbangan seperti bantuan beasiswa penduduk sekitar, bantuan ke mesjid, gereja, bantuan yang karena mempunyai maksud dan tujuan untuk memperlancar proses operasional perusahaan atau untuk mengantisipasi gangguan-gangguan masyarakat terhadap operasional perusahaan. Maka kalau itu yang dimaksud dengan CSR oleh pihak perusahaan, maka sebaiknya masyarakat perlu berhati-hati memaknai CSR tersebut.
    CSR yang baik bisa dikatakan seperti CSR yang tidak mempunyai hubungan langsung/tidak dihubungkan langsung dengan Profit perusahaan atau operasional perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Dan bentuk CSR biasanya dapat berhubungan dengan kelancaran proses AMDAL yang diharapkan oleh pihak perusahaan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*